
Rafka dan Abi berbincang cukup lama di balkon. Mereka seperti mengulang masa lalu yang pernah menyatukan mereka dalam ikatan persahabatan. Rafka dan Abi sama-sama masih mengingatnya dengan jelas.
Rafka ke kamar menyusul Aira yang telah tidur lebih dulu. Begitu pun Abi yang juga kembali ke kamarnya. Melihat istrinya yang tertidur, Rafka tersenyum tipis sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi. Ia menggosok giginya karena Aira paling tidak suka dengan aroma rokok di mulutnya.
Setelah membersihkan diri, Rafka mendekati Aira yang telah tidur. Ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Aira. Dengan perasaan sayang, Rafka mengecup kening, pipi, dan terkahir bibir Aira.
"Ay, kamu udah tidur?" tanya cowok tampan itu. Ia memainkan rambut istrinya yang lurus tergerai.
Tidak ada sahutan dari bibir tipis yang menawan itu. Jelas saja, Aira sedang berkelana di alam mimpinya. Sifat jahil Rafka tiba-tiba muncul.
Cowok itu dengan sengaja melepaskan satu per satu kancing baju Aira. Setelah berhasil melepaskan satu penghalang, Rafka melepaskan lagi penghalang yang lain, sebuah kain berbentuk kacamata yang menutupi dua benda kenyal milik Aira.
Dengan akalnya, Rafka berhasil melepaskan kain yang menghalangi pandangannya dari kulit Aira. Rafka langsung melahap ujung kecil yang menjadi puncak gunung itu. Mulutnya bergerak dan menghisap seperti bayi.
Ternyata, pergerakan Rafka mengganggu tidur Aira. Rafka yang melihat istrinya membuka mata hanya nyengir tanpa berusaha melepaskan apa yang dia gigit.
"Rafka, kamu ngapain?" Aira berusaha mendorong tubuh Rafka supaya menjauh, tapi gagal. Rafka terlalu nyaman dengan posisinya sampai-sampai ia tidak rela jika harus melepaskan ujung kecil itu dari mulutnya.
"Aku ngantuk, Raf," kata Aira dengan malas.
__ADS_1
Tdurnya benar-benar terganggu, padahal saat ini masih pukul satu dini hari, tapi Rafka malah membangunkan tidurnya.
"Aku lagi pengen, Ay." Rafka kini beralih pada bibir Aira. Ciuman hangat penuh perasaan itu menuntun Aira untuk menuruti permintaan suaminya.
Sebagai istri, Aira mulai sadar. Rafka bisa meminta haknya kapan pun dia mau.
*
*
*
"Kenapa kita berhenti, Pak?" tanya Aira bingung saat sopir taksi berhenti di tepi jalan. "Raf, kenapa?"
"Mau turun bentar, aku ada kejutan buat kamu," jawab Rafka.
Aira menurut, lalu keduanya turun dari taksi. Rafka mengajak Aira untuk memasuki rumah yang sepertinya akan direnovasi.
"Ini rumah siapa? Apa jangan-jangan kamu sama Sean mau bikin kantor di sini ya?" tebak Aira.
__ADS_1
Rafka hanya tersenyum dan menggeleng. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan gambar sebuah rumah pada Aira.
"Kita akan tinggal di sini setelah balik dari Amerika," jawab Rafka.
Aira melongo, ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan dua tangan saking kagetnya.
"Kamu serius?" tanya Aira dengan mata berbinar-binar.
"Serius, Ayang. Tahun depan pasti udah selesai pembangunannya. Nggak usah khawatir. Sekarang kita nikmati honeymoon kita setahun di New York!" Rafka meraih tangan istrinya ke dalam pelukannya, mereka berpelukan di depan rumah yang akan dibangun ulang itu.
"Aku di sana mau ngapain ya, Raf?" tanya Aira. ia menatap suaminya yang masih merangkulkan tangan di pinggangnya.
"Nggak usah ngapa-ngapain, kamu cukup layani aku aja di tempat tidur." Rafka merangkul istrinya, lalu mereka masuk kembali ke taksi untuk menuju bandara.
🦋🦋🦋🦋
Selamat siang gaess, Aku mau infoin kalau novel ini akan segera aku tamatin ya 😜😜😜
Ritual jejaknya jangan lupa, Like. Komen, hadiah dan vote 😍😍😍
__ADS_1