
Dua Tahun Kemudian
Aira termenung sendirian, menatap ke arah patung yang menjadi simbol kebanggaan negara ini. Sudah sepuluh menit ia berdiri di depan jendela kamarnya dengan pandangan kosong. Ia baru saja menelepon mamanya yang ada di Jakarta. Rasa rindu yang selama dua tahun ini tertahan membuatnya sangat ingin memeluk wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Aay, aku pulang," sapa Rafka setelah membuka pintu kamar mereka.
Aira masih mematung. Saat ini pikirannya masih terbang di awang-awang. Rafka mendekati istrinya yang tak menyambut kedatangannya seperti biasa.
Rafka tidak mau membuat istrinya terkejut. Ia berdiri tepat di depan Aira, meskipun mata Aira menatap ke luar jendela. Cukup lama Rafka memperhatikan istrinya yang sedang melamun.
"Ay," panggilnya setelah sekian lama.
Aira sedikit kaget. "Ya ... Rafka, kamu udah pulang?" Aira mencium tangan suaminya, tersenyum dengan debaran jantung yang cepat.
"Kamu ngelamunin apa sih Ay?" tanya Rafka dengan lembut. Tangannya bergerak mengusap rambut sang istri yang saat ini terlihat pucat. "Kamu sakit?"
"Nggak kok, cuma kangen mama aja," jawab Aira. Ia berjalan ke ara tempat tidur dan Rafka mengekor di belakangnya.
"Sabar ya, minggu ini aku selesaikan masalah besar ini, setelah itu kita akan pulang," kata Rafka yang ikut duduk di samping Aira.
__ADS_1
Saat ini Rafka tengah menyelesaikan masalah di perusahaan yang sangat besar di negara maju ini. Ia bertanggung jawab untuk mengamankan kembali sistem keamanan yang sempat terbobol.
"Nanti ada masalah baru lagi, terus nggak jadi pulang lagi. Kita udah mundur setahun dari waktu yang seharusnya, Raf." Aira berusaha memahami kesibukan Rafka, tapi ia juga sangat merindukan ibunya, rumah, dan negaranya. Rafka tidak pernah mengizinkannya pulang sendirian, sedangkan kedua orang tuanya juga tidak bisa sering-sering mengunjunginya.
"Nggak, aku janji ini masalah terakhir. Mister Fran sudah mendatangkan seorang ahli, dia lebih jago dari aku, bisa dibilang setara dengan Sean," kata Rafka dengan sangat yakin. Senyum tampan itu terus terukir di wajahnya, sedangkan Aira menatapnya dengan malas.
Sean telah pulang lebih dulu setahun yang lalu. Seharusnya mereka pulang bersama, tapi karena bos mereka tidak mengizinkan, akhirnya Rafka tertinggal dan Sean pulang untuk mengurus perusahaan yang mereka rintis bersama.
Rafka menyandarkan kepalanya di bahu Aira, mengendus aroma tubuh Aira yang selalu wangi.
"Mandi dulu sana, Raf. Aku tiba-tiba mual nyium bau kamu." Aira mendorong tubuh suaminya. Suasana hatinya sedang tidak baik karena sangat merindukan keluarganya, dan Rafka paham itu.
Rafka memilih pergi ke kamar mandi daripada semakin membuat Aira kesal.
*
*
*
__ADS_1
Sesuai janji Rafka. Setelah masalah pekerjaannya selesai, hari ini Rafka mengajak istrinya kembali ke Indonesia. Tentu saja, Aira sangat bersemangat karena telah menantikan hari ini sejak lama.
Mereka berhasil mendarat dengan selamat di Tanah Air. Di Jakarta sedang turun hujan, beberapa menit setelah mereka tiba. Aira merasakan pusing dan mual yang luar biasa. Ia melambaikan tangan pada Rafka yang mendorong koper mereka dengan troli. Aira tidak mengatakan apa pun, hanya melambaikan tangan lalu menutup mulut dan memegangi perutnya.
Rafka menunggu di luar toilet dengan cemas. Ia khawatir istrinya itu sedang sakit karena selama di pesawat wajahnya memang terlihat pucat.
Hampir sepuluh menit menunggu, Aira akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Ay, kenapa? Kamu sakit?" tanya Rafka khawatir.
"Aku muntah-muntah Raf, kayaknya aku nggak cocok sama makanan di pesawat deh. Apalagi bau AC-nya menyengat banget," jawab Aira. Setelah mengeluarkan isi perutnya, gadis itu merasa sedikit lega.
"Kita mampir ke dokter dulu ya. Aku nggak mau kamu tambah parah nanti," usul Rafka.
"Nggak usah, langsung pulang aja. Mama sama papa udah jemput kita," jawab Aira.
"Oke. Tapi pulang ke rumah kita sendiri."
🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Selamat pagi. Ritual jejaknya jangan lupa, seperti biasa gaess 😍😍