
Seorang ibu sejati pasti akan sangat sedih saat mendengar kabar bahwa anaknya akan pergi jauh darinya. Hati seorang ibu pasti akan sangat khawatir, takut jika anaknya akan kekurangan dan terluka ketika jauh dari ibunya. Begitu pun yang saat ini dirasakan Mami Dinda. Perempuan cantik yang belum pernah melahirkan itu, merasa sangat sedih saat Rafka mengutarakan niatnya pergi jauh darinya.
Jika saja ia bisa, Mami Dinda pasti akan menahan putranya itu agar tetap berada di sisinya. Akan tetapi, sisi lain dari dirinya juga mengatakan bahwa Rafka berhak memiliki masa depan yang lebih indah. Apalagi saat ini Rafka memiliki tanggung jawab lain, yaitu Aira, istrinya.
"Mami jangan sedih, aku pergi buat mengubah takdir aku, Mi. Aku juga pengen bisa bahagiain Mami dengan hasil kerja kerasku sendiri," kata Rafka sembari memeluk maminya.
Dalam tangisan itu, Mami Dinda akhirnya mengikhlaskan kepergian sang putra demi masa depan yang lebih baik.
"Janji kamu nanti jarus sering ngabarin mami, dan berubahlah jadi lebih baik, Sayang."
"Iya, Mi. Aku janji akan jadi manusia yang lebih baik. Tapi, mami jangan cerita apa pun sama papi atau pun Revan. Aku nggak mau mereka tau kalau aku pergi, Mi."
Mami Dinda menatap wajah Rafka. Ada rasa sayang dan kasihan di hati wanita itu. Semenjak bayi sudah disia-siakan orang tua kandungnya, dan ia sendiri yang merawat Rafka sampai sebesar ini.
"Sayang, apa pun mami lakukan untuk kebahagiaan kamu, kalau pun mami harus berbohong sama papimu, akan mami lakukan buat kamu, Rafka."
"Makasih, Mi. Aku akan bahagiain mami, suatu hari nanti," kata Rafka.
*
__ADS_1
*
*
Usai dari rumah Mami Dinda, Rafka kembali ke rumah Aira. Motor sudah terparkir sempurna. Saat masuk melewati ruang tamu, cowok tampan itu melihat papa mertuanya yang baru saja pulang kerja.
Untuk menghormati, sekaligus menunjukkan sopan santunnya, Rafka duduk bersama papa mertuanya itu. Tujuannya hanya untuk berbasa-basi sejenak, sebelum nantinya menemui Aira di kamar.
"Sore, Pa," sapa Rafka sembari menyalami papa mertuanya itu.
"Hem. Ra, suamimu pulang," teriak Papa Tomy pada putrinya.
"Iya, Pa." Aira menyahut dari arah dapur.
"Kata Aira kamu mau ke Amrik ya?" tanya Papa Tomy pada Rafka.
Rafka mengangguk, ia memang belum menceritakan pada orang tua Aira mengenai kepergiannya ke Amerika.
"Iya, Pa. Besok aku berangkatnya," jawab Rafka.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak kerja di perusahaan papa aja, kamu bisa bantu papa di kantor, Raf?" tanya Papa Tomy dengan muka serius.
Aira datang membawa teh hangat bersama mamanya.
"Makasih banyak, Pa. Aku cuma pengen buktiin sama orang-orang kalau aku juga bisa berguna," jawab Rafka dengan santai.
"Kalau itu sudah keputusan kamu, sebagai orang tua papa cuma bisa suport aja. Semoga kembali dari sana nanti kamu bisa jadi orang sukses," balas Papa.
"Titip Aira, Pa. Aku belum tau di sana keadaannya gimana, kalau semua baik-baik saja, mungkin dua tahun lagi aku bisa bawa Aira ke sana."
"Kamu fokus saja sama kesuksesan kamu, Aira biar di sini sama kami, kami akan menjaganya dengan sangat baik."
"Pernikahan kalian gimana?" tanya Mama Sofia, khawatir.
"Tadi kakek kasih kabar kalau buku nikah udah jadi, tinggal tunggu pengacara antar ke sini, Ma." Rafka menatap istrinya, lalu meraih tangan itu untuk digenggam.
"Jadi, kalian sekarang udah sah secara hukum juga?" Mata Mama Sofia terlihat berbinar, begitu pun dengan Papa Tomy.
🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Heyak heyak heyak, bau-bau unboxing, ehh belun tentu 😅😅😅