
Aira tengah duduk di taman rindang tidak jauh dari kantin. Apa yang diucapkan Vanya pagi tadi, tidak diambil hati oleh Aira. Baginya, Rafka suaminya, tidak mungkin berbohong. Mungkin Vanya hanya salah paham saja karena tidak mengenal Rafka lebih dekat.
"Minum, Ay." Rafka menyodorkan es teh dalam plastik yang akhirnya diterima Aira dengan senyuman.
"Makasih, Raf."
"Kenapa sih mukanya bete gitu? Ada yang gangguin kamu? Apa masih bete karena aku foto tadi?" tanya Rafka perhatian. Ia bisa tahu perubahan sedikit saja yang terjadi di raut muka Aira.
"Raf, kenapa sih, anak-anak nilai kamu itu breng*sek, banyak yang bilang kamu penggila s e x? Kenapa Raf?" Aira balik bertanya. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun dan ingin sekali diluapkan, meskipun dalam hati Aira sangat percaya, Rafka tidak seperti yang orang lain pikirkan.
"Mungkin, karena mereka kehabisan bahan gosip, jadinya gosipin aku yang enggak-enggak," jawab Rafka santai. Ia sendiri menyesap minumannya. Tak ingin ambil pusing dengan gosip yang telah lama beredar di sekolah itu.
"Tapi aku penasaran Raf, apa alasannya yang bikin mereka menilai kamu seperti itu?" Aira menunduk, jelas sekali ia kesal karena Rafka menganggap enteng gosip yang menjatuhkan nama baiknya.
Rafka duduk berjongkok di depan Aira. Cowok tampan itu menatap gadisnya yang masih memasang raut kesal.
"Ay, aku sendiri nggak tau apa alasan mereka bilang gitu, tapi, selama aku nggak ngerugiin mereka, aku fine-fine aja. Aku nggak perlu jelasin apapun ke siapapun Ay, karena orang yang menyukai kita nggak butuh, dan orang yang membenci kita, nggak akan percaya itu."
Aira tersenyum bangga pada suaminya. Semilir angin yang menerbangkan rambut pirang menambah kesan ganteng pada cowok di hadapannya.
"Kenapa kamu baik banget Raf?" Aira mengusap rambut Rafka penuh sayang.
__ADS_1
"Aku baik di mata orang yang menilai aku dengan hati, tapi aku berandalan di mata orang yang menilai aku hanya melalui mata mereka, Ay." Rafka memainkan ujung rok abu-abu yang dipakai Aira.
Dua remaja itu cukup lama berbincang menikmati semilir angin yang menyejukkan. Dua remaja itu sama-sama saling belajar melengkapi, belajar menjadi pasangan saling mengerti.
*
*
*
"Ra, nanti kamu mau lanjut di mana?" tanya Vanya.
Keduanya kini sedang menonton pertandingan basket antar kelas. Mereka duduk di depan kelas. Bersama beberapa teman yang ikut menonton.
"Sama kayaknya, nanti kita daftar barengan ya."
"Boleh." Aira tersenyum, lalu kembali fokus pada laki-laki di seberang sana yang tengah tersenyum menatapnya.
"Itu cowok lo kan Ra, si Rafka?" tanya Dewi. Ia menunjuk pada cowok yang sedang menyigar rambutnya, sembari menunggu operan bola dari kawannya.
"Iya, Rafka." Aira hanya tersenyum pada teman sekelasnya itu.
__ADS_1
"Tumben amat dia nggak bolos, apalagi di jam nggak efektif kayak gini," seloroh Dewi. Ia ikut duduk di sebelah Aira yang kosong.
"Kamu nggak paham aja sih Wi, biniknya ada di sini, kali aja si lakik takut biniknya digondol laki-laki lain." Vanya yang sedari tadi hanya menyimak, ikut menyahut obrolan Dewi dan Aira.
"Rafka emang sebenarnya ganteng sih, tapi kalau aku yang jadi ceweknya nggak akan mau," kata Dewi. Pandangannya lurus menatap beberapa siswa yang sedang bermain basket.
"Aku rasa, Rafka juga nggak mau sama kamu," sahut Aira.
"Rafka kan badboys, dia masih makek nggak sih?" tanya Dewi.
"Itu privasi, nggak ada hubungannya sama kita," jawab Aira mulai jutek.
"Jujur lo pernah diapain sama Rafka? Pasti di gre*pe-gre*pe pernah kan?" tanya Dewi dengan frontal.
Aira menatap kesal pada teman sekelasnya itu, bahkan Rafka yang sudah menjadi suaminya saja belum pernah menyentuh bagian itu.
"Kalau ngomong dijaga, jangan asal nuduh aja kalau nggak tau apa-apa."
Dewi terkejut karena Aira melotot sambil menunjuk ke mukanya.
π¦π¦π¦π¦
__ADS_1
Selamat pagi kesayangan, jangan lupa jempolnya. Aku kesulitan nulis tanpa anuΒ².. duhhh... tahan ini kan abege 17tahun kayak aku..π π