
Rasa marah dan kesal bercampur menjadi satu dalam hati Rafka. Laki-laki yang baru beberapa saat lalu mendarat itu, seakan tak memiliki belas kasihan. Ia secara brutal terus memukuli wajah Dafa sampai babak belur.
"Rafka, udah. Kamu bisa bikin dia mati, ingat masih ada Aira yang harus kita selamatkan." Abi berteriak, ia masih memegangi Aira yang terus meronta berusaha melepas pakaiannya sendiri.
Rafka menghentikan aksinya, napasnya tersengal-sengal karena aksinya barusan. Sementara Dafa sudah lemas tak berdaya.
Rafka menghampiri Aira. Pakaiannya masih utuh, tapi penampilannya sudah acak-acakan. Rafka sangat sedih melihatnya.
"Maafin aku, Ay." Rafka akhirnya memeluk Aira setelah Abi melepaskan Aira.
"Jangan deketin aku, panas banget." Aira berusaha melepaskan pelukan Rafka, tapi suaminya itu malah semakin erat memeluknya.
Rafka hampir menangis tapi Abi menepuk pundaknya.
"Bantu Aira Mbing, dia akan terus kayak gitu kalau nggak ada yang bantu, dan cuma lo yang bisa bantu dia."
Rafka paham maksud perkataan Abi, tapi dia sendiri masih sangat ragu untuk menyentuh Aira.
__ADS_1
"Gue pesenin kamar, lo jagain Aira." Abi mengusap rambut adiknya lalu berlari keluar.
"Bi." Rafka ingin mencegah, tapi Abi berlari dengan cepat.
"Duh, gerah banget sih, apa nggak ada AC di sini?" Aira terus meronta.
"Ay, lihat aku. Lihat aku Ay, kamu kenapa?"
"Ka‐kamu, kamu Rafka. Kok bisa di sini?" tanya Aira, gadis itu lalu bergelayut manja di leher Rafka.
"Ay, kamu kenapa sih? Kamu diapain sama dia?" Rafka menatap Dafa yang hanya bisa merintih, lalu ia menatap Aira yang sudah di luar kendali.
"Ay, jangan Ay," cegah Rafka saat Aira kembali membuka beberapa kamncing di bawahnya.
Aira langsung menyerang Rafka dengan ciuman yang menggebu. Rafka terus berusaha menahan untuk tidak tergoda dengan ciumana Aira. Pikirannya masih sangat sadar, ia harus menepati janji karena belum memastikan sendiri namanya dan nama Aira ada di buku nikah yang sama.
"Ay, sadar Ay."
__ADS_1
"Mbing." Abi tiba-tiba muncul. "Lo bantuin Aira, lo pasti tau kan apa yang harus lo lakuin?" tanya Abi. Ia melemparkan kunci berbentuk kartu yang langsung ditangkap oleh Rafka.
"Apa nggak ada cara lain? Gue bahkan belum lihat buku nikah gue." Rafka masih sangat ragu. Bukan cara seperti ini yang ia mau saat meminta haknya pada Aira.
"Nggak ada waktu Mbing, kita nggak tau obat jenis apa yang dia minum, apa efek sampingnya kita nggak tau," jawab Abi dengan kesal.
"Gue nggak mau ingkar janji Ba*bi," balas Rafka tidak kalah ngotot.
"Yang penting itu Aira, lagian gue udah pernah lihat buku nikah lo, dan nama lo sama Aira emang ada di sana dan nggak ada yang salah." Abi berjalan ke arah Dafa yang tergeletak di lantai. "Nggak usah banyak mikir, biar dia gue yang urus. Sekarang lo dapatin hak lo. Gue yakin Aira belum diapa-apain karena mereka baru aja masuk ke sini," lanjutnya.
Rafka masih berperang dengan pikirannya sendiri. Egonya memaksa untuk tidak melakukan sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri buku nikah itu, tapi keadaan Aira juga tidak baik-baik saja.
Aira berhasil melepas seluruh kancing kemejanya saat Rafka masih berpikir. Untung saja Rafka langsung sadar kembali menutup pakaian Aira. Ia melepaskan jaketnya untuk memastikan tubuh Aira tertutup karena kancing kemejanya sudah berserakan di lantai.
"Jangan di sini, Ay."
🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Selamat pagi, Aku sudah kembali normal gaess. maaf kalau kemarin-kemarin updatenya telat dan nggak menentu. Mohon maaf juga kalau alurnya terlalu cepat, karena aku nggak fokus di usaha Rafka di Amerika, tapi aku fokusin ke penyelesaian konflik setelah ini. Biar nggak terlalu bertele-tele dan berlarut-larut masalahnya. Mohon maaf ya yang kurang nyaman bacanya 🙏🙏🙏