
Rafka sudah berhasil membawa Aira ke kamar yang telah disewa Abi. Saat Rafka mengunci kamar itu, Aira langsung melepaskan jaket Rafka dan juga kemejanya.
Rasa panas dan gerah yang mengalir di darahnya membuat pikiran gadis itu tidak lagi terkontrol. Aira hanya memakai celana dan bra berwarna putih sebagai atasannya.
Rafka memeluk Aira, tapi Aira langsung mendorongnya. Gadis itu kembali melanjutkan aksinya, ia duduk di kasur dan melepaskan celana panjangnya.
Rafka berlutut di depan Aira sambil berusaha menahan gerakannya. Rafka bisa melihat dengan jelas tubuh Aira yang hanya memakai dalaman.
"Ay, jangan kayak gini." Rafka memohon, ia benar-benar tidak tega melihat istrinya bertingkah seperti itu. Dia bukan Aira yang Rafka kenal. Aira bukanlah Aira seperti yang biasa menghubunginya.
"Lepasin, aku tuh kepanasan." Aira berontak lagi.
Rafka mengambil remot AC lalu mengubah suhunya menjadi paling dingin. Aira tidak terpengaruh, ia justru melepaskan bra yang dipakainya.
__ADS_1
Rafka tidak bisa berpikir lagi, ia menggendong Aira ke kamar mandi, lalu memandikannya dengan shower. Aira malah menampik tangan Rafka sehingga air mulai membasahi tubuh Rafka. Mereka berdua sama-sama basah kuyub.
"Cium aku Raf. Ayolah cium aku," pinta Aira. Ia mengalungkan tangannya di leher Rafka. Rafka menatapnya dengan bingung. Dia juga laki-laki normal yang memiliki keinginan lain saat melihat Aira yang bersikap liar, tapi ia tidak mau merusak momen pertama mereka dengan melakukan hal itu di saat Aira tidak sadar begini.
"Aku nggak bisa, Ay. Kamu akan tetap di sini selama kamu masih kegerahan," jawab Rafka dengan tegas.
"Jahat!" Aira memukul dada Rafka yang masih terbalut kaus basah. "Pasti kamu udah nemuin orang lain kan di sana? Kamu bahkan nggak mau pulang, kamu jahat. Kamu selingkuh!" tuduh Aira sambil memukul dada Rafka berulang-ulang kali.
"Aku nggak kayak gitu, Ay. Nggak ada yang lain lagi di hati dan hidup aku," balas Rafka.
"Buktikan kalau cuma ada aku aja." Aira meraih tangan Rafka dan membawanya untuk menyentuh bukit kembarnya. Dengan gerakan cepat ia mencium Rafka. Ciuman tidak berbalas itu membuat Aira semakin kesal, ia menggigit bibir Rafka agar terbuka.
Aira terus menggerakkan tangan Rafka agar memijat buah da*danya, sementara bibirnya bergerak liar menghisap bibir Rafka. Sebagai lelaki normal, apalagi Aira menuduhnya yang tidak-tidak, Rafka akhirnya terpancing juga. Ia membalas ciuman Aira, bahkan tangannya mulai bergerak liar di dada Aira.
__ADS_1
Ciuman Rafka beralih pada leher Aira dan semakin turun menuju dada dan bukit kembar Aira yang menantang. Sudah lama Rafka tidak merasakan benda kenyal itu.
Aira mende*sah sambil mere*mas rambut Rafka yang kini menghisap area sensi*tifnya. Tubuhnya semakin memanas meski air terus membasahi tubuh mereka.
Tangan Rafka juga tidak tinggal diam, terus bergerak menjamah bukit yng lain, membuat Aira semakin tidak tahan dan berusaha membuka celana Rafka.
Puas menikmati benda kenyal dan padat itu, Rafka menegakkan tubuhnya. Ia menatap istrinya yang juga menatapnya.
"I love you, Annisa Humaira," kata Rafka lalu Aira melepaskan seluruh pakaiannya yang basah.
Aira berhasil melucuti pakaian Rafka, sedangkan Rafka juga sudah melepaskan satu-satunya kain yang menghalangi tubuh Aira. Dengan tubuh telan*jang yang basah itu, Rafka membawa Aira kembali ke kasur.
🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Area teen skip aja ya anu-anunya 😅😅😅 Aku berdoa semoga emak-emak nggak ngamuk 😅😅😅