
Aira mulai mendaftar di salah satu kampus swasta, Rafka mengantarnya masuk untuk mendapatkan formulir pendaftaran. Beberapa mahasiswa dan calon mahasiswa melirik Aira dan Rafka yang bergandengan mesrah.
Sebagai cowok tampan, pesona Rafka memang tidak diragukan. Ketampanan cowok itu membuat kaum hawa dibuat mimisan karenanya.
Sementara dalam mata elangnya, Rafka menangkap pergerakan mata yang mengagumi kecantikan istrinya. Mata para lelaki yang mengincar gadis berambut panjang dengan kemolekan sempurna. Padahal, Rafka ada di sebelahnya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Aira. Gadis itu melihat keanehan dari tatapan suaminya.
"Rasanya aku pengen congkel mata mereka, ada aku aja mereka berani gitu, gimana kalau nanti kamu kuliah sendiri tanpa aku," jawabnya dengan nada kesal. Ia menenggak minuman botol yang dibelinya. Saat Rafka minum, jakunnya naik turun, membuat para gadis-gadis histeris, dan Aira juga membenci itu.
"Kalau kamu kuliah di sini, aku rasa cewek-cewek itu akan bahagia," sinis Aira. Ekor matanya menunjuk beberapa perempuan yang sedang mengagumi Rafka.
Rafka menghentikan aksinya, menutup minumannya lalu menatap istrinya. Aira tidak peduli, ia juga sama kesalnya. Gadis itu mengulurkan botol miliknya, segel yang menutup botol itu entah kenapa terlalu sulit dibuka.
Rafka tersenyum, lalu menerima botol milik istrinya. Sekali putar, botol itu langsung terbuka. Lagi-lagi gadis-gadis yang mengagumi Rafka itu dibuat meleleh, mereka bertepuk tangan saat Rafka berhasil membuka botol milik Aira.
Aira semakin kesal. Mulutnya semakin manyun, lalu ia minum sampai hampir setengah, tapi Rafka ingin menunjukkan pada semua orang yang melihat mereka bahwa Aira miliknya. Dengan gerakan cepat Rafka menempelkan bibirnya di bibir Aira, membuat para gadis dan pria yang tadi mengagumi mereka menjadi syok.
Aira yang baru saja dicium Rafka langsung menyentuh bibirnya dengan jari-jari lentiknya.
"Rafka kok kamu cium aku sih?" protes Aira.
__ADS_1
"Nggak ada aturannya dilarang ciuman di area kampus," jawab Rafka dengan santai. Ia menoleh pada sekumpulan pria yang tadi mengagumi Aira, Rafka tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mencium Aira tepat di depan mereka.
"Dasar berandalan," ejek Aira, ia menunduk menyembunyikan pipinya yang kemerah-merahan.
...****************...
Saat akan pulang, Rafka dan Aira bertemu dengan wanita yang sangat mirip dengan Rafka. Berhubung mereka bertemu di dekat parkiran yang cukup sepi, wanita itu langsung menghampiri Rafka dan Aira.
"Kamu Rafka kan?" tanya wanita itu setelah jarak mereka cukup dekat.
Rafka hanya mengangguk, wanita di hadapannya masih sangat muda. Mungkin orang yang tidak mengenal mereka berdua akan mengira umur mereka selisih beberapa tahun saja, sama seperti pikiran Aira saat ini.
"Emangnya kenapa? Bukankah kampus ini untuk umum?" Rafka balik bertanya.
"Saya dosen di sini. Kamu tau siapa saya?"
"Dosen di kampus ini kan?"
Wanita itu mengangguk, entah Rafka tahu atau tidak bahwa dia adalah ibu kandungnya. Yang paling penting baginya sekarang adalah membuat Rafka gagal kuliah di tempatnya mengajar.
"Rafka, wanita ini yang wajahnya mirip kamu kan? Apa dia saudara kamu?" tanya Aira dengan berbisik.
__ADS_1
"Sepertinya dia orang yang malu mengakui darah dagingnya sendiri Ay, kita nggak ada urusan sama dia, aku berdoa semoga kamu nggak diajarin dosen kayak dia," balas Rafka dengan tegas.
"Cukup kamu jawab aja, kamu kuliah di sini?" tanya wanita itu lagi.
"Bukan urusan Anda." Rafka meraih tangan Aira untuk mengajaknya pergi.
"Apa gadis ini berharga untukmu? Gadis ini kuliah di sini kan?" Wanita bernama Adelia itu membuat langkah Rafka terhenti.
Rafka berbalik dengan wajah memerah menahan amarah, instingnya mengatakan Aira dalam bahaya saat ini. "Jangan macam-macam ya."
"Oh, jadi benar. Dia sangat berharga ternyata. Saya nggak akan macam-macam kok, asal kamu mau menuruti saya." Wanita itu tersenyum, tapi justru terlihat menyeramkan di mata Rafka.
"Kalau saya nggak mau," tantang Rafka.
"Maka gadis itu taruhannya!" Adelia menunjuk Aira dengan telunjuknya, matanya seperti singa yang menatap mangsanya.
Rafka mengepalkan tangan, matanya sama tajamnya dengan mata Adelia.
🦋🦋🦋🦋
Uwow, udah tegang belum sih. Kurang tegang ya 😅😅😅 Aku bisanya bikin tegang yang lain, kalau adegan begini masih belajar banget aku 🤣🤣🤣
__ADS_1