
Rafka dan Aira baru saja menyelesaikan pertempuran mereka setelah Aira tersadar. Dua manusia yang sama-sama bertelan*jang di balik selimut itu, saling berpeluan dengan mesra. Berkali-kali Rafka mengecup pipi Aira, sebagai ungkapan sayang dan rindunya.
"Kamu kok bisa ada di sini, Raf. Katanya kamu pulang tahun depan?" tanya Aira. Perempuan yang kini tidak lagi gadis itu memainkan ujung jarinya di dada sang suami.
"Aku khawatir waktu denger kamu diganggu cowok, aku izin buat pulang sampai kamu wisuda terus balik lagi. Ternyata, pas aku masih perjalanan kamu menghilang kata Abi. Pas aku lacak, ternyata kamu ada di sini, dan Abi yang bantuin aku buat nyelametin kamu," jawab Rafka. Ia memeluk Aira dengan erat. Ia juga sangat bersyukur karena dia datang dengan cepat dan tidak terlambat.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Aira mengerutkan alisnya. Ia mencoba mengingat kepingan-kepingan kejadian sebelum ia terbangun di kamar hotel ini.
"Emang seingat kamu, kamu lagi di mana, Ay?" tanya Rafka. Ia belum menyinggung soal Dafa karena takut Aira kenapa-kenapa.
"Terakhir aku ingat, aku keluar dari toilet kampus karena aku nunggu Abi jemput. Setelah itu aku lupa." Aira masih berusaha mengingat lagi.
"Apa kamu ketemu seseorang?"
"Raf, aku ingat ada bayangan cowok itu, tapi aku nggak ingat jelas, Raf. Aku nggak mungkin ke sini sama dia, 'kan?" Aira menatap Rafka dengan perasaan cemas yang tiba-tiba menghantuinya. Bagaimana kalau ternyata terjadi sesuatu antara dia dan Dafa sebelum Rafka datang.
__ADS_1
"Kamu emang ke sini sama dia, Ay. Kayaknya dia kasih kamu obat perang*sang untuk jebak kamu," kata Rafka.
"Aku nggak mungkin ngelakuin itu sama dia kan, Raf? Aku nggak mungkin serendah itu, Raf." Aira tiba-tiba menangis, membuat Rafka kebingungan dan akhirnya menenangkan Aira dengan pelukan hangatnya.
"Ay, aku percaya kamu kok. Emang waktu aku buka pintu, kamu kayak lagi rayu dia, tapi aku yakin itu karena pegaruh obat, dan aku pastikan dia nggak sampai ngapa-ngapain kamu." Rafka menghapus air mata Aira.
"Kamu yakin, Raf? AKu nggak ingat apa pun, akutakut, Rafka." Aira masih menangis dan Rafka terus menghapus air mata itu sebelum jatuh mengenai wajah Aira.
"Sini, aku kasih lihat sesuatu!" Rafka meminta Aira untuk duduk. Lalu, ia mencari bercak merah yang mengotori sprei putih di kasur yang mereka pakai. "Aku yang pertama, Ay. Nggak usah khawatir, karena aku datang nggak lama selah kamu sampai di sini."
"Aku cinta kamu, Ay. Kita akan lewati in bareng-bareng, setelah itu aku akan bawa kamu ke New York."
Mereka saling berpelukan. Masalah demi masalah mulai terpecahkan, Aira pun setuju untuk ikut bersama Rafka setelah wisudanya nanti.
Saat masih berpelukan mesra, Abi menelepon Rafka, membuat getaran di ponsel itu yang memaksa mereka melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Halo, Mbing. Aira udah bangun? Gimana keadaannya?" tanya Abi yang terdengar khawatir.
"Iya, dia udah bangun. Dia baik-baik aja kok," jawab Rafka.
"Syukurlah kalau gitu, polisi minta keterangan Aira, kamu bisa kan ajak dia ke sini?"
"Akan aku usahakan. Gimana, dia udah ngaku?"
"Awalnya sih dia nggak mau ngaku, tapi tadi dia ngaku kalau dia masukin obat itu ke minuman Aira saat Aira ke toilet dan minumannya di tinggal di luar di wastafel toilet."
"Breng*sek emang. Aku akan buat perhitungan sama dia!"
🦋🦋🦋🦋
Selamat pagi, masih menyapa di udara yang mendung. Kirimin kopi dong biar aku anget 😅😅😅
__ADS_1