AYRAFKA (Jodoh Impian)

AYRAFKA (Jodoh Impian)
Bab 60


__ADS_3

Keadaan Papi Rizal perlahan-lahan mulai membaik dan bissa dibawa pulang. Beliau sangat bersyukur karena Rafka sudah memaafkannya, dan setiap hari mau mampir untuk menengok keadaanya.


Rafka sendiri secara ikhlas telah memaafkan papinya. Apalagi melihat keadaan papinya yang dulu sangat sehat, segar bugar, kini menjadi manusia lemah yang bergantung pada orang lain, hati Rafka mencair.


"Raf, Ai-ra ma-na?" tanya Papi Rizal dengan suara terbata. Akibat serangan struk itu membuat bibirnya miring dan bicaranya jadi tidak jelas.


"Aira di rumah, Pi. Lagi males-malesnya dia. Aku ajak ke sini juga nggak mau, tiduran terus sambil nonton TV di rumah," jawab Rafka yang menyuapkan potongan buah untuk Papi Rizal.


"Pasti bawaan bayinya itu Raf," sahut Mami Dinda yang juga turut menemani suami dan anaknya ngobrol.


"Iya kayaknya, Mi. Biasanya dia suka ngomel-ngomel, ini semenjak hamil lebih banyak diem males-malesan."


"Disyukuri aja. Intinya yang sabar menghadapi perempuan hamil."


Rafka mengangguk. Tak lama Revan datang bersama Della tunangannya. Mereka membawa setumpuk undangan yang baru diambil dari percetakan.


"Raf, udah denger kabar?" tanya Revan yang datang dengan wajah sedih. Padahal, seharusnya ia bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Della.


"Kabar apa?" tanya Rafka bingung.


"Em, wanita itu ...." Revan bingung bagaimana menjelaskannya pada Rafka. Ia mengambil ponselnya dan membuka situs berita yang memberitakan kabar mengenai ibu kandung Rafka.


Model cantik Adelia, meninggal dunia.


'Diduga depresi karena pernikahan yang gagal, model cantik Adelia dikabarkan meninggal setelah mobilnya masuk ke jurang.'


Rafka baru membaca satu paragraf berita itu, hatinya tiba-tiba merasa sedih dan kehilangan. Walau sejahat apa pun wanita itu, Adelia tetaplah ibu yang melahirkannya.


Mami Dinda yang berada di samping Rafka ikut membaca berita itu. Secara Refleks mami Rafka itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak menyangka jika wanita yang sempat membuat keretakan dalam rumah tangganya itu harus meninggal dalam keadaan yang tidak baik.


"Raf, yang sabar ya. Kamu juga harus bisa maafin dia," kata Mami Dinda sembari merangkul putranya.


Revan memberitahu Papi Rizal tentang kematian Adelia, tapi papinya itu tidak merespon apa pun. Hanya diam dan menundukkan kepala.


*

__ADS_1


Rafka akhirnya datang ke pemakaman Adelia karena desakan Aira. Meski terlambat dan semua orang sudah meninggalkan makam, Rqfka tetap datang dan mendoakan mamanya. Gundukan tanah itu menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk ibu kandungnya.


"Aku harap mama tenang di sana. Meski di dunia ini nggak ada yang ngenalin kita sebagai ibu dan anak, tapi aku tetap mau bilang makasih sama mama. Karena mama, aku bertemu banyak orang yang mencintai aku. Terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman selama sembilan bulan kehidupanku. Selamat jalan, Ma." Rafka menaburkan bunga pertamanya di atas makam sang ibu.


Setelah itu, Rafka menuju mobilnya. Pulang menemui istri dan anaknya yang akan lahir, dan melupakan kehidupan lama yang sangat menyakitkan.


*


*


*


Aira kini berada di ruang perawatan setelah berhasil melahirkan seorang bayi tampan yang saat ini sedang digendong Rafka.


"Ganteng banget ya Mi, anak Rafka," kata Rafka dengan bangga.


"Iyalah, mamanya cantik," jawab Mami Dinda, matanya melirik Aira yang berbaring di ranjang dan hanya mendengarkan obrolan suami dan mertuanya.


"Papanya juga ganteng, Mi, iya kan, Ma?" tanya Rafka pada mertuanya, Mama Sofia.


"Udah, kalian semua salah. Dia mirip omnya nih," sahut Abi yang kini ikut memandang bayi Aira. Dua laki-laki yang pernah bermusuhan itu berdiri sejajar menatap bayi tampan yang terlelap dalam gendongan Rafka.


"Mana ada, anak gue mancung, nggak kayak ba—"


"Udah deh, nggak usah berantem. Kalian keluar gih, aku mau pompa ASI," usir Aira.


"Keluar, Bi."


"Lo juga keluar, Mbing."


"Gue bapaknya, lagian gue masih gendong dia," jawab Rafka, tersenyum menatap putranya sebelum mendaratkan ciuman lembut di pipi bayi itu.


"Sini biar mami letakin di box, kalian keluar aja, ganggu." Mami Dinda mengarahkan tangannya untuk menggendong cucu tampannya.


"Ay, aku keluar juga?" tanya Rafka.

__ADS_1


Aira mengangguk dengan mantap sambil tersenyum. Lalu, dua laki-laki itu diusir oleh Mama Sofia untuk keluar dari ruangan Aira.


*


*


*


Rafka terbangun saat mendengar bayinya yang menangis. Sudah ada Aira yang dengan sabar menenangkan bayinya.


"Mau aku bantu apa, Ay?" tanya Rafka dengan mata yang dipaksakan terbuka.


"Ambilin tisu basah aja, Raf. Kayaknya dia pup. Belum selesai tapi udah nangis," jawab Aira sembari membuka kancing baju atasnya, bersiap menyu*sui bayinya.


"Anak papa pup aja nangis," ejek Rafka pada putranya sendiri.


"Ih, jangan ngeledekin gitu, Raf."


"Iya iya, maaf Ay." Rafka mencium kening Aira yang sedang menyu*sui bayi mereka. "Boleh minta yang sebelah nggak?" tanya Rafka. Matanya melirik pada benda kenyal Aira yang tengah diisap oleh anaknya.


"Nggak ada. Ini khusus buat Air. Mending lapin pantatnya Air aja deh, kayaknya udah selesai dia."


"Ya Allah Ay, aku kan mintanya yang enak dan seger, kenapa dikasihnya yang bau gini sih."


"Yaelah Raf, punya anak sendiri, jangan ngeluh deh."


Begitulah mereka menghabiskan menikmati kehidupan baru mereka bersama bayi kecil yang diberi nama Airafka Airlangga.


TAMAT


🦋🦋🦋🦋


Akhirnya, happy ending kan ya.. Terima kasih udah suport selama ini. Jangan lupa mampir ke karya baruku. Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka07 nanti aku up babnya ya. Masih anget banget 🥰🥰


__ADS_1


Terima kasih semuanya, sampai ketemu di novel baru 😘😘😘


__ADS_2