AYRAFKA (Jodoh Impian)

AYRAFKA (Jodoh Impian)
Bab 55


__ADS_3

Rafka mengajak Aira dan kedua mertuanya ke rumah baru. Rumah itu hasil kerja kerasnya selama di Amerika. Meski tidak terlihat mewah, rumah yang Rafka bangun sangat nyaman ditempati. Semua perabotan sudah lengkap, karena Rafka memang sudah menyiapkannya dengan matang.


Turun dari mobil, Papa Tomy dan Mama Sofia terkagum-kagum saat memasuki rumah yang akan ditempati putri dan menantu mereka.


"Rumahnya bagus, Raf. Kamu beli atau ...."


"Iya, aku beli, Pa. Tapi rumah ini aku renov dan baru selesai beberapa bulan lalu."


"Keren banget loh, sederhana tapi kelihatan nyaman," puji Mama Sofia.


"Aku emang pengen bikin Aira nyaman, makanya aku sengaja desain sendiri, Ma."


"Raf, jangan banyak omong. Aku udah nggak tahan," protes Aira yang wajahnya berubah tegang.


Rafka membuka pintu dengan cepat, lalu membawa Aira ke toilet yang dikhususkan untuk tamu. Maksudnya, supaya lebih dekat dan Aira bisa menuntaskan apa yang ingin dilakukannya di toilet.


"Aira, kamu kenapa Sayang?" Mama Sofia yang masih tertinggal bersama Papa Tomy, ikut khawatir.


"Tadi di airport juga muntah-muntah, Ma. Mungkin masuk angin, dia nggak mau ke dokter," jawab Rafka. Wajah tampan itu menampilkan ekspresi cemas dan juga rasa bersalah.


Mama Sofia mengetuk pintu kamar mandi dengan perasaan khawatir. Apa putrinya itu masih mual karena naik mobil? Bukankah penyakit itu sudah hilang saat Aira kuliah dulu?


"Ra, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Mama Sofia kembali mengetuk pintu kamar mandi.


Aira keluar dengan wajah kesal. "Airnya mati," ucapnya sembari menatap tajam suaminya. Ia lalu memeluk mamanya, bermanja-manja seperti anak kecil yang sangat merindukan ibunya.


"Iya nanti aku panggil tukang buat perbaiki ya."


Aira hanya mengangguk, lalu mengajak mamanya duduk menyusul sang papa.


Rafka memeriksa keadaan rumah baru mereka, ditemani Papa Tomy yang juga penasaran dengan hasil rancangn menantunya.


Aira dan mamanya ada di ruang tamu, menemani Aira yang berbaring di sofa,

__ADS_1


"Kalau kamu kurang sehat, kita pulang aja ya, Sayang." Mama Sofia memijat tangan dan kaki Aira, meski sama sekali tidak mengurangi rasa mual putrinya itu.


"Tunggu Rafka aja, Ma. Kalau rumahnya belum bisa ditempati ya udah kita ke rumah Mama."


"Permisi!" ucap seorang wanita tua yang tiba-tiba muncul dari luar pintu yang terbuka.


"Iya, Anda siapa?" tanya Mama Sofia.


"Saya Marni. Saya disuruh Pak Sean untuk membersihkan rumah ini setiap dua hari sekali," jawab wanita itu.


"Oh, sebentar ya tunggu menantu saya," bala Mama Sofia.


Tidak lama Rafka kembali ke ruang tamu bersama papa mertuanya.


"Raf, ini ada ibu-ibu suruhannya Sean katanya," ucap Mama Sofia.


"Oh, iya. Bi Marni kan ya." Rafka menyalami asisten rumah tangga yang ditugaskan oleh sahabatnya, Sean.


Papa Tomy mengajak Mama Sofia pulang terlebih dahulu karena mereka akan kedatangan tamu. Semua teah mereka periksa dan layak untuk ditempati, hanya kamar mandi tamu saja yang memang bermasalah.


"Jangan sakit dong, Ay. Hari pertama kita di rumah baru, nggak asik kalau kamu malah sakit."


"Aku cuma mual aja, Raf. Aku nggak sakit kok," bantah Aira yang kini menyesap teh hangat buatan Bi Marni.


"Habis makan sembuh ya, aku nggak mau tau," kata Rafka.


"Jangan bawel ah, aku nggak kenapa-napa."


Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan yang baru saja akan dimulai itu. Rafka membukakan pintu yang diketuk oleh Bi Marni.


"Ini bibi masak sop ayam buat Non ...."


"Aira."

__ADS_1


"Iya, Nin Aira. Semoga Non Aira suka," kata Bi Marni sembari menyerahkan nampan makanan pada Rafka.


"Makasih Bi."


Setelah menerima masakan dari Bi Marni, Rafka menyuapi Aira. Saat sakit begini, ia memang jadi manja. Baru dua suap, Aira buru-buru ke kamar mandi di kamar mereka, lalu menumpahkan lagi makanannya.


Rafka benar-benar khawatir kali ini. Ia menyusul Aira ke kamar mandi, tapi tidak lama Aira keluar.


"Aku nggak mau makan sop, aku pengen makan soto ayam aja, kayaknya enak, Raf."


Rafka mengernyit, tidak bias-biasanya Aira menolak makanan dan bertingkah aneh seperti itu. Biasanya, meski sakit ia akan makan apa pun yang disuapi Rafka. Dua tahun lebih tinggal bersama, dan hampir tujuh tahun menikah, Rafka hapal betul sifat istrinya. Ini bukan Aira yang seperti biasanya.


"Yakin mau soto ayam? Bi Marni udah masakin sop ayam loh. Sama-sama ayam, 'kan?"


"Aku maunya soto ayam, Raf. Bukan sop ayam."


Harusnya tadi kamu bilang, Ay.


"Oke, aku bilang sama Bi Marni dulu."


Rafka membawa keluar makanannya dan menghampiri Bi Marni yang masih ada di dapur sedang membersihkan lantai dapur. Dengan rasa bersalah Rafka meminta maaf dan menyuruh Bi Marni untuk membuatkan soto ayam.


"Istri saya lagi sakit, mungkin lagi pengen makan itu, Bi. Maaf ya, Aira biasanya nggak kayak gitu kok."


"Nggak apa-apa Tuan. Jadi inget anak saya yang lagi hamil. Atau jangan-jangan Non Aira memang lagi hamil ya?"


"Hamil?"


Raut wajah Rafka tiba-tiba berseri, ada senyum yang tertahan di wajah tampannya itu. Apa benar Airanya sedang mengandung? Kalau iya, ia pasti akan sangat bahagia.


🦋🦋🦋🦋


Jangan dites deh, takutnya gagal kayak Putri 🤣🤣🤣 Mas Rafka cie cie cie.

__ADS_1


Jangan lupa Ritual Jejaknya


__ADS_2