
Rafka dan Aira masih berada di rumah kakek neneknya Rafka. Rafka yang sangat dekat dengan kakeknya membuat perasaan Aira menghangat. Gadis itu juga merasa lega karena ternyata Rafka mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kakek neneknya.
Tiba-tiba sebuah mobil sport berhenti di halaman rumah kakek yang cukup luas. Revan keluar dari mobil itu dan segera menuju ke dalam rumah setelah melihat sekilas motor Rafka yang terparkir.
"Assalamu'alaikum," salamnya saat sampai tepat di pintu rumah kakek neneknya.
"Waalaikumsalam." Kakek yang menjawab paling keras.
Rafka kembali ke posisinya berada di samping Aira. Ia ingin sekali menunjukkan pada saudaranya itu bahwa ia adalah suami Aira saat ini.
"Rafka, Aira. Kalian di sini juga?" tanya Revan setelah menyalami kakek neneknya.
"Iya, kakek pengen kenalan sama istriku," jawab Rafka. Sengaja memberi penekanan pada kata istri supaya Revan bisa mendengarnya dengan jelas.
"Oh. Kakek juga nyuruh aku ke sini. By the way, selamat buat pernikahan kalian." Revan mengulurkan tangannya pada Rafka.
Rafka menerima uluran tangan Revan. Walau bagaimanapun mereka tetap bersaudara.
"Makasih Van. Gue harap lo akan nemuin cewek lain yang bisa saling mencintai sama lo," ucap Rafka dengan tulus.
"Raf, lo beruntung bisa dapatin Aira. Jaga dia baik-baik." Kedua laki-laki itu saling berpelukan.
__ADS_1
"Gue pasti jagain dia." Rafka memberi kode pada Aira untuk bersalaman dengan Revan.
"Selamat datang di keluarga Airlangga adik ipar." Revan dan Aira berjabat tangan. "Terima adik aku apa adanya, kalau bisa ubah dia jadi cowok baik-baik, ajak dia berubah," lanjutnya.
"Makasih kak, mudah-mudahan aja Rafka bisa berubah," jawab Aira sembari melirik suaminya.
"Begini kan lebih baik, kakek nggak mau ada permusuhan antara cucu-cucu kakek," ucap kakek dengan bangga.
Rafka dan Revan lalu memeluk kakeknya dengan sayang.
Rafka merasa sangat lega. Satu masalah mulai teratasi. Tinggal bagaimana caranya menjauhkan Aira dari mama kandungnya yang mungkin saja akan menjadi dosen Aira nantinya.
Setelah dari kampus dan rumah kakek, Rafka mengantar Aira pulang, sedangkan ia sendiri ada keperluan mendadak. Teman yang mengajaknya bekerja tiba-tiba menghubunginya untuk pekerjaan. Rafka menemui cowok bernama Sean itu di rumahnya. Cowok yang sebenarnya lebih tua dari Rafka, tapi karena pernah berada di komunitas motor yang sama, mereka menjadi sangat akrab.
"Ini kesempatan bagus buat kita, Raf. Kita bisa kerja di sana selama beberapa tahun. Setelah kita punya modal yang cukup, kita bisa bangun perusahaan kita sendiri. Bos mengizinkan kita belajar banyak," ucap Sean setelah menjelaskan tujuanny memanggil Rafka.
"Tapi aku punya istri yang nggak bisa aku tinggal selama itu, Sean." Rafka masih tidak rela berjauhan dari Aira.
"Justru karena itu, Raf. Istri kamu bisa kuliah dulu di sini, kamu di sana bisa kerja sambil kuliah juga. Kamu bisa kirim uang untuk biya istri kamu. Kamu lulus, istri kamu lulus. Kalian bisa merencanakan anak. Coba kamu pikir kalau kamu di sini aja. Istri kamu kuliah, kamu kerja apa? Terus kalau kalian punya anak gimana?" Sean terus mencoba membujuk Rafka supaya bersedia mengikutinya bekerja di luar negeri.
"Aku tanya istriku dulu deh. Ini nggak bisa buru-buru," jawab Rafka sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
Tawaran Sean begitu menggiyurkan. Bekerja di kantor pusat, ia bisa bekerja sambil kuliah seperti keinginan Aira, tapi ia sendiri takut jika terlalu lama berjauhan, Aira akan berpaling darinya.
"Oke, kamu pikir-pikir dulu, tapi ini kesempatan langka yang sangat bagus Raf, jangan disia-siain."
Rafka akhirnya berpamitan untuk mendiskusikan penawaran Sean dengan Aira. Ia melajukan motornya semakin cepat. Saat sampai di rumah, ia berpapasan dengan Abi yang kebetulan juga baru pulang.
"Kenapa muka lo?" tanya Abi membuka obrolan.
"Oh, nggak apa-apa. Gue dapat tawaran kerja bagus," jawab Rafka.
"Bagus dong. Kalau lo bisa menjamin hidup adik gue, itu lebih bagus. Inget, Raf. Aira itu udah lama hidup susah, jangan sampai dia nikah sama lo hdupnya makin susah," pesan Abi sebelum masuk ke rumah meninggalkan Rafka sendirian di garasi.
Baru saja ia akan melangkah masuk, sebuah notifikasi muncul di ponselnya.
[Annisa Humaira, kalau kamu mau gadis ini aman dan selamat di kampus. Hidup tenang tanpa ada masalah sama nilai, aku mau kamu tidak muncul di hadapanku. Jauhi area kampus, aku nggak mau ada yang ngenalin muka kamu! Ini peringatan awal, kalau kamu sayang sama gadis itu, maka turuti kemauanku.]
Setelah menerima pesan itu, Rafka langsung berjalan cepat menemui istrinya.
🦋🦋🦋🦋
...Selamat sore menjelang malam. Update ketiga ya. Semoga nanti bisa update lagi. Kasih aku vote dong, bunga atau kopi kuga boleh 😅😅😅...
__ADS_1