
Dua minggu semenjak bertemu Dafa, Aira menjadi takut ke kampus. Untungnya saat itu Aira tidak terlalu banyak aktifitas di kampus, hanya sesekali saat menemui dosen, dia akan meminta Abi untuk menemaninya.
Sebenarnya, Aira kuliah di kampus tempat ibu kandung Rafka, tapi entah kenapa semenjak Rafka pergi, wanita itu tidak mau berhubungan dengan Aira. Aira sendiri belum paham betul apa hubungan Rafka dengan dosen di kampusnya itu, tapi setiap kali Aira bertanya Rafka selalu menjawab 'bukan siapa-siapa'.
Siang ini, Aira menelepon Rafka untuk memastikan kapan suaminya itu pulang. Maklum saja, selama empat tahun berpisah, mereka belum bertemu lagi sampai hari ini.
"Aku tuh bentar lagi mau wisuda, masa sih kamu nggak bisa datang, Raf." Aira merengek, ini sudah kesekian kalinya ia meminta pada Rafka.
"Lihat nanti ya Ay, aku juga masih ada banyak yang aku kerjain sebelum pulang," jawab Rafka.
"Kamu betah banget sih di sana, emang di sana ada siapa sih?" tanya Aira dengan kesal.
"Nggak ada siapa-siapa, Ay. Nggak ada yang lebih menarik dan lebih penting dari kamu, buatku."
"Alah bohong."
"Beneran, Ay. Kamu kangen ya sama aku?" goda Rafka.
"Ya kangenlah, udah empat tahun Raf, aku udah hampir lulus. Kalau kamu sayang aku, datang dong ke wisuda aku."
"Tahun depan ya, aku pulang tahun depan. Kamu wisuda sama papa mama, sama Abi juga, nggak apa-apa kan?" tanya Rafka.
"Jahat banget sih, Raf."
__ADS_1
"Udah, nanti aku temenin wisudanya."
Suara laki-laki yang tiba-tiba menyahut itu membuat Aira dan Rafka sama-sama terkejut. Aira bahkan berpindah posisi dari duduk menjadi berdiri setelah tahu siapa pelakunya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Aira dengan nada yang mulai ketakutan. Sementara itu Rafka yang masih terhubung melalui ponsel, menjadi bingung karena suara laki-laki dan teriakan Aira.
"Ini kan kampus, emangnya aku nggak boleh ya di sini?" tanya laki-laki yang kini duduk di tempat Aira tadi.
"Ay, itu siapa?" tanya Rafka. Akan tetapi, Aira tidak mendengarkan lagi suara Rafka, fokusnya kini teralihkan pada cowok bernama Dafa yang ada di hadapannya.
"Jangan ganggu aku lagi, Dafa. Aku mau hidup tenang," ucap Aira dengan bibir bergetar.
"Annisa, mentang-mentang sekarang kamu cantik, kamu jadi menghindari aku terus. Oke nggak apa-apa, malah bagus kalau kamu semakin cantik, dan aku pasti bisa dapatin apa yang aku mau." Laki-laki itu bangkit, lalu meninggalkan Aira.
Rafka mendengarkan semua yang dikatakan laki-laki itu, sementara Aira malah menangis karena takut pada Dafa.
Semenjak mendengar suara Dafa, Rafka menjadi tidak tenang. Ia sangat khawatir dan bertanya-tanya, tapi ia tidak tega bertanya langsung pada Aira, dan akhirnya Rafka menghubungi Abi. Rafka langsung mencari informasi mengenai Dafa dan memantau lewat komputernya.
Rafka mulai curiga, ada yang tidak beres dengan Dafa. Sepertinya laki-laki itu benar-benar mengincar Aira.
Sementara itu, Aira tiba-tiba menghilang. Abi sudah mencari ke mana-mana tapi nihil. Aira tidak bisa ditemukan.
Rafka memang dalam perjalanan ke tanah air saat Abi mengabarinya bahwa Aira hilang. Teknologi memang memudahkan manusia menerima pesan melalui jaringan wifi di dalam pesawat.
__ADS_1
Usai mendarat di ibu kota, Rafka langsung mencari titik keberadaan Aira. Ia berhasil menemukan posisi terakhir Aira di sebuah hotel. Karena gagal mendapatkan informasi, akhirnya Rafka menghubungi Abi untuk menyusulnya.
Setelah kedatangan Abi, akhirnya mereka mendapatkan akses masuk, karena papa Aira juga membantu mereka. Abi dan Rafka pun langsung menuju kamar Dafa.
Saat mereka membuka pintu hotel, ternyata benar, Aira dan Dafa ada di hotel tersebut. Keadaan Aira sangat aneh, ia menangis sambil membelai tubuh Dafa yang sudah bertelanjang dada.
"Hey, kenapa kalian bisa masuk?" tanya Dafa dengan berteriak.
"Breng*sek. Apa yang lo lakuin sama bini gue?" Rafka langsung menubruk tubuh Dafa dan mulai menghajarnya.
Abi dengan sigap membantu Aira yang berusaha melepaskan kancing kemejanya.
"Panas banget, Bi. Gerah," rengek Aira.
Abi tahu Aira dalam pengaruh alkohol. Ia menahan gerakan tangan Aira sedangkan Rafka masih memukuli Dafa.
Dafa yang juga setengah mabuk tidak mampu melawan kekuatan Rafka yang sedang membabi buta.
"Mbing, kayaknya Aira mabuk berat, mungkin juga dia dalam pengaruh obat tertentu," teriak Abi sembari berusaha menahan gerakan Aira.
"Breng*sek." Rafka semakin ganas menghajar Dafa.
🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Tegang nggak, tegang nggak. Ya udah, Besok lagi ya 😅😅😅