
Meski dengan ekspresi malu-malu, Aira tidak bisa menolak keinginan Rafka. Ia mengerti, Rafka adalah suaminya. Keinginan Rafka adalah perintah baginya. Dengan muka yang masih malu-malu, Aira mengangguk, mengiyakan keinginan Rafka.
Rafka yang mendapat lampu hijau dari Aira, langsung melakukan apa yang mestinya ia lakukan. Dia menggenggam satu bulatan penuh di tangannya. Bulatan yang masih sangat kencang itu terasa pas dalam genggaman Rafka.
Aira merasakan gelenyar aneh, saat Rafka menggenggam dan memainkan bagian sensitif itu. Nafasnya mulai tidak beraturan seiring dengan semakin liar Rafka melakukan aksinya.
"Ay, aku boleh lihat nggak?" izinnya. Cowok itu masih sangat paham batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh ia lewati.
"Jangan Raf, aku malu," tolak Aira.
"Aku suamimu Ay, boleh ya?" Rafka sedikit memaksa, ia sangat penasaran dengan benda yang selalu Aira tutupi itu. Apa lagi kata-kata teman-temannya yang menyudutkan, bahwa Aira mungkin menolaknya, membuat rasa penasaran Rafka kian membuncah.
Aira tahu, ia dan Rafka sedang dalam fase yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Lagi pula, Rafka adalah suaminya, dan berhak melakukan apa pun pada tubuhnya. Bahkan, jika Rafka mau, ia berhak melakukan hal yang lebih padanya. Aira tidak ingin mengecewakan Rafka.
"Terserah kamu, Raf," jawab Aira dengan pasrah.
"Beneran?" tanya Rafka dengan wajah berbinar.
"Iya Rafka, tapi kamu buka sendiri. Aku malu beneran Raf." Aira langsung menutup mukanya dengan kedua tangan.
Rafka langsung mengubah posisi. Ia kini tepat berada di atas Aira.
"Beneran ya, aku buka," kata Rafka sambil mengangkat sedikit kaus Aira.
Aira tidak ingin menjawab, ia masih menutup mata dengan tangan. Rasa malu masih menghampiri gadis cantik itu, meskipun Rafka adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
Perlahan Rafka mengangkat kaus istrinya hingga terlihatlah bra merah muda yang membalut dua benda kenyal yang belum pernah terjamah oleh siapapun.
Dengan jantung yang berdebar tidak karuan, Rafka mengangkat penutup itu ke atas. Ia sampai menelan ludah saking kagumnya dengan keindahan yang ada di depan matanya, apalagi chocochip merah muda yang begitu menarik perhatiannya.
Tanpa sadar, Rafka menerkam chocochip itu. Gerakan mulutnya mencoba menikmati sesuatu yang sangat sensitif milik istrinya.
Aira merasakan sesuatu yang basah menyentuh area dadanya. Sontak saja, ia membuka mata untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Raf, kamu ngapain?" tanya Aira saat melihat Rafka memasukkan chochochip miliknya ke dalam mulut.
Cowok itu hanya tersenyum sekilas, lalu membalik tubuhnya dan tubuh Aira. Kini, posisi mereka miring saling berhadapan.
"Enak, Ay," kata Rafka sambil memainkan benda kenyal Aira dengan tangan.
Hari perpisahan telah tiba, Rafka dan Aira datang ke sekolah dengan memakai kebaya dan setelan jas. Mereka akan melaksanakan wisuda siang ini.
"Kamu cantik banget sih Ay, aku takut nanti kalau kita punya anak, aku nggak bisa bagi cinta aku," kata Rafka.
Aira hanya tersenyum menanggapi ocehan Rafka. Sudah biasa baginya mendengarkan rayuan dan gombalan Rafka, hingga ia tidak kaget lagi sekarang.
"Wih, kalian best couple banget, kayak Abang None Jakarta," puji Rendi.
"Duh, thanks Ren, tapi gue nggak bawa receh," jawab Rafka sambil cengar cengir.
"Kambing lo, Deni mana?"
__ADS_1
"Mana gue tau, dari tadi gue sama Aira. Sama si anak AK itu kali," jawab Rafka.
"Ah, nasib jomblo. Gue ngintilin lo berdua aja lah, angkat gue jadi anak lo berdua buat hari ini," mohon Rendi dengan tangan mengatup di dada.
"Sial*an lo, gue ganteng, Aira cantik, mana ada anaknya kayak mo*nyet gini," balas Rafka.
"Emang kambing lo Raf."
Mereka terus berdebat, sedangkan Aira hanya fokus pada serangkaian acara demi acara. Sampai akhirnya, Pak Bambang memanggil Rafka untuk maju ke depan.
"Sebagai murid tidak teladan, paling bandel, dan bikin saya sakit kepala terus, saya mau kasih kenang-kenangan untuk Rafka Airlangga dari dua belas Kendaraan Ringan, silakan maju ke depan!" panggil Pak Bambang yang sudah berdiri di panggung.
"Raf, lo suruh maju tuh!" kata Rendi sambil mendorong pundak Rafka.
"Sama kamu ya Ay," ajak Rafka.
"Nggak mau lah, kamu yang dipanggil Raf," balas Aira.
"Duh, mau disuruh apa lagi sih Pak Bambang nih, males banget aku Ay."
🦋🦋🦋🦋
Nah loh, kira-kira disuruh ngapain ya..😅😅😅
Nggak mungkin kalau disuruh cium Aira di depan panggung 😅😅
__ADS_1