
Membayangkan Aira hamil, rasanya ada yang menghangat di hati Rafka. Cowok itu berjalan cepat menuju kamarnya, ingin secepatnya memastikan apakah istrinya benar-benar hamil.
Sampai di kamar, Rafka tidak menemukan istrinya. Ia langsung menuju kamar mandi, dan dugaannya benar. Aira ada di kamar mandi, masih muntah-muntah di wastafel.
"Kayaknya kita perlu ke dokter, Ay. Kamu bisa dehidrasi kalau muntah muntah terus." Rafka sangat khawatir. Tangannya memijat pundak dan leher belakang Aira dengan gerakan lembut.
"Aku lemes banget, Raf. Nanti aja deh, habis sarapan, ya." Aira mengelap wajhnya dengan handuk usai mencuci mulut dan wajahnya.
"Ya udah, tapi habis ini kita beneran ke rumah sakit," kata Rafka.
Aira mengangguk, lalu mereka kembali ke tempat tidur. Aira tidur miring membelakangi tubuh suaminya. perutnya terasa sangat tidak nyaman. Mungkin lebih baik dia tidur saja.
"Ay." Rafka memeluk tubuh Aira dai belakang. Ia berniat menanyakan pada Aira mengenai kemungkinan bahwa istrinya itu hamil.
"Aku nggak apa-apa kok, Raf." Aira mencium pipi Rafka. Sebenarnya ia merasa bersalah karena tadi mengabaikan Rafka, bahkan terkesan ketus. Ia sendiri tidak mengerti kenapa perasaannya bisa berubah-ubah begitu.
"Aku mau tanya dong, Ay. Kamu masih datang bulan, 'kan?" tanya Rafka. Ia menenggelamkan wajahnya di leher belakang Aira setelah menyibakkan rambut hitam itu.
"Ma- eh, bentar." Aira membalik posisinya, berhadapan dengan Rafka. "Sekarang tanggal tujuh belas ya. Berarti aku telat dua minggu lebih, Raf."
Mendengar penuturan Aira, Rafka menjadi berdebar. "Apa kamu hamil?" Rafka menatap serius wajah Aira. Menunggu reaksi istrinya itu. Apa ia benar-benar siap hamil?
"Apa?" Raut muka Aira terlihat bahagia, ada senyum yang tertahan di wajah itu. Gerakan 3tangannya lalu mengusap perutnya sendiri dan berkata, "Apa dia ada di sini? Kenapa aku tidak menyadarinya? Rafka, antar aku ke dokter, aku mau pastikan apa aku benar hamil."
__ADS_1
Rafka mengangguk dan mencium kening Aira sangat lama. Ia merasa lega karena ternyata Aira juga menantikan kehadiran buah cinta mereka.
"Iya, Ay. Aku akan antarin ke mana aja yang kamu mau, tapi makan dulu ya," pinta Rafka lalu kembali mengecup kening Aira.
"Tapi nunggu soto ayam."
"Idih, ngidam ya," goda Rafka yang sudah tidak sabar menantikan kabar baik tentang kehamilan Aira.
"Masa iya ngidam." Aira tersenyum bahagia, tangannya tidak berhenti menyentuh perutnya sendiri.
*
*
*
"Kamu di sini aja, aku tebus obatnya dulu." Rafka menyuruh Aira menunggu di kursi tunggu. Sementara ia sendiri yang menebus vitamin yang diresepkan untuk Aira.
Saat di apotek itu, Rafka bertemu maminya yang terlihat cemas.
"Mami," sapa Rafka.
"Rafka, loh kamu udah pulang?"
__ADS_1
"Iya, baru tadi pagi sampai. Mami kenapa di sini? Mami sakit?" tanya Rafka sembari memeluk maminya.
"Mami baik-baik aja kok, Raf. Papi kamu yang sakit," jawab Mami Dinda.
"Oh." Raut muka Rafka berubah jadi biasa saja. Syukurlah kalau bukan maminya yang sakit.
"Raf ...."
"Atas nama Nyonya Annisa Humaira," panggil kasir apotek setelah vitamin Aira selesai disiapkan.
"Iya, Mbak." Rafka meninggalkan maminya dan menuju kasir untuk membayar. Lalu, cowok yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu menghampiri maminya lagi untuk berpamitan. "Aku duluan, Mi. Nanti aku main ke rumah."
"Raf, kamu nggak mau jenguk papimu dulu? Papi kamu dirawat di sini," kata Mami Dinda.
"Em, kalau udah di rumah aja, Mi. Kasihan Aira nunggu aku, dia lagi hamil." Rafka mengecup kening maminya, lalu mencium tangan wanita itu sebelum meninggalkan apotek untuk menemui istrinya.
Rafka sama sekali tidak berminat untuk menjenguk papinya. Ia justru sangat antusias dengan kehamilan Aira.
🦋🦋🦋🦋
Cie cie papa muda. Jagain istrinya ya Mas. Kudu siap kalau dikerjain Aira, eh dikerjain aku makudnya. Aku kan mau pedekate sama kamu 😄😄😄
Jangan lupa ritualnya. Eh tau ritual yang aku maksud nggak sih 🙈🙈🙈
__ADS_1