
"Rafka sudah dijodohkan?" Terdengar pertanyaan dengan nada kecewa dari bibir Aira. Gadis itu terlihat sedih dan kecewa.
"Ya, dia sudah kakek jodohkan dari kecil. Mereka terikat dengan benang merah perjodohan. Kakek sama kakek gadis itu sendiri yang mengikat mereka."
Rafka memperhatikan ekspresi Aira. Ia tahu, Aira sedang cemburu saat ini, padahal gadis yang dicemburui itu adalah dirinya sendiri.
"Aku cintanya sama dia Kek, gimana lagi," jawab Rafka. Ia sengaja memancing reaksi Aira.
Kakek sebenarnya juga sudah mendapat informasi bahwa gadis yang dinikahi Rafka adalah gadis yang dijodohkan dengan cucunya itu sejak kecil.
"Raf, apa kakek ingin kita pisah, apa lagi kita kan nggak punya buku nikah," bisik Aira. Sebagai wanita yang dinikahi secara siri, ada ketakutan dalam hati Aira jika nanti tiba-tiba Rafka meninggalkannya seperti yang pernah Abi katakan.
Rafka menatap mata Aira dan melihat ketakutan di mata istrinya.
"Ay, apa yang kamu takutkan, aku cintanya sama kamu, Ay. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Rafka.
"Aku percaya kok Raf, tapi aku juga takut, karena aku nggak puna kekuatan apa pun Raf untuk nahan kamu kalau nanti kamu pergi," kata Aira dengan jujur.
"Kamu bisa apa untuk menjadi menantu kami?" tanya kakek pada Aira.
Aira menoleh pada Rafka lagi. Rafka membalasnya dengan menggenggam tangan Aira.
Dengan takut-takut, Aira menjawab pertanyaan kakek, "Saya belum bisa apa-apa, tapi saya akan belajar apa pun untuk bisa diterima di keluarga ini."
"Kamu tahu tidak, jodohnya Rafka itu dari keluarga baik-baik. Orang tuanya beberapa minggu lalu juga ke sini. Teruus kalau mereka ke sini lagi, kakek akan jawab apa?"
Aira masih menundduk. Rafka juga diam, membuat Aira semakin bingung.
__ADS_1
"Kamu tahu, Om Tomy dan Tante Dinda kan Raf?" tanya Kakek.
Aira mengerutkan alis saat mendengar nama rang tuanya disebut.
"Gimana ya cara kakek bilang ke mereka, kalau kamu sudah menikah." Kakek seolah merasa pusing dengan memijat pelipiisnya.
"Sudahlah Kek, jangan mengerjai cucumu, kasihan neng cantik jadi sedih gitu mukanya," sahut nenek yang sedari tadi hanya diam menyimak suami dan cucunya kompak mengerjai Aira.
"Maksudnya gimana, Nek?" tanya Aira.
Rafka sudah menahan senyumnya.
"Em, jadi mereka ...." Kakek tidak melanjutkan ucapannya karena mendapat pukulan pelan di pahanya dari nenek.
"Ya yang dijodohkan sama Rafka itu kamu, Aira." Nenek menghampiri Aira dan duduk di sebelahnya. "Mereka lagi ngerjain kamu." Nenek langsung memeluk Aira.
"Lagian, punya cucu bandel banget, udah nikah aja nggak mau ke sini minta restu kakek."
"Restui kami ya Kek, please! Restui aku sama Aira, biar kami bahagia." Rafka tiba-tiba sungkem di hadapan kakeknya.
"Dasar anak nakal." Kakek memukul pelan pundak Rafka sambil tersenyum.
Aira tersenyum lega melihat keakraban Rafka dan kakeknya, sangat kontras sekali dengan hubungan Rafka dan papinya.
"Tapi ngomong-ngomong Papa Tomy kapan ke sini, Kek?" tanya Rafka setelah berhasil kembali ke posisi duduknya.
"Em, waktu kamu nyusul istrimu ke Surabaya. Dia bingung anaknya kabur karena tidak mau dijodohkan dengan Revan, terus dia ke sini minta pendapat kakek," jawab Kakek.
__ADS_1
"Terus Kakek nyaranin Papa Tomy buat nikahin aku sama Aira gitu ya?" tebak Rafka.
Aira dan neneknya Rafka mendengarkan dengan serius. Nenek Rafka memang bukan tipe wanita yang banyak omong, beliau lebih banyak diam dan hanya bicara jika diperlukan saja, karena itulah Rafka sangat menyayangi kakek neneknya.
"Kakek cerita ke Tomy, kalau kakek dan papanya sudah menjodohkan kalian. Lalu, dia minta izin bagaimana kalau kalian dinikahkan secepatnya. Ya sudah, kakek malah setuju, karena perjodohan kalian akhirnya berhasil."
"Makasih Kek, karena Kakek akhirnya aku dan Aira bisa menikah." Rafka mencium tangan kakeknya berkali-kali.
"Tapi kalian belum mengesahkannya, 'kan?"
"Aku masih kumpulin uang Kek, pasti mahal ya biaya sidangnya."
"Udah biar pengacara kakek yang urus nanti," kata kakek memberi solusi.
"Tapi, Kek. Itu kewajiban aku."
"Perjodohan kalian itu juga tanggungg jawab kakek. Itu amanat dari kakeknya istrimu. Udah yang penting kalian bisa mendapat buku nikah. Jadi, papimu nggak akan bisa macam-macam lagi."
"Gimana Ay?"
"Aku terserah kamu aja, Raf."
"Oke deal. Kakek yang urus, nanti biar pengacara yang urus semuanya," putus Kakek.
π¦π¦π¦π¦
Selamat malam gaess, aku udah up 2 bab, nanti Insya Allah up lagi. Kondisikan komen sama like ya. Makasih banget yang udah komen, udah aku baca semua kok, cuma mau balas satu satu waktunya belum sempatπππ Jangan lupa votenya ya π π π
__ADS_1