
Mereka baru saja selesai makan malam untuk merayakan kelulusan Aira. Suasana yang tadinya tegang, kini lama-lama mulai mencair. Papi Rizal sepertinya mulai menerima kehadiran Rafka.
"Jadi, apa kamu akan membangun perusahaan di Jakarta atau di New York sana?" tanya Papa Tomy.
Rafka semringah mendengarnya. Mertuanya itu memang selalu antusias dan mendukung kesuksesannya.
"Sebenarnya yang punya ide itu Sean, Pa. Aku cuma bantu aja, soal mengelolanya nanti juga dia yang lebih banyak ambil bagian," jawab Rafka merendah. "Perusahaan kami di sini sedang merekrut dan memberikan platihan khusus saat ini, tapi akan diusahakan tahun ini kami mulai menjual jasa kami," lanjutnya.
"Papa mau menjadi klien pertama kalian," balas Papa Tomy dengan bangga.
"Bisa diatur, Pa."
*
*
*
Malam terakhir di Jakarta, Aira sedang melamun sendirian di balkon kamarnya. Suaminya sedang pergi sebentar karena urusan. Aira menikmati dinginnya malam itu sendirian di balkon.
Abi melihat saudarinya termenung, cowok itu pun menghampirinya. Ia duduk di kursi sebelah adiknya.
"Cie yang bentar lagi jadi bule," goda Abi yang seolah ingin menghibur adik satu-satunya.
"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, Bi." Aira menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak yang sebenarnya merasakan kesedihan juga karena akan berpisah lagi dengannya.
__ADS_1
"Kan ada si Kambing. Dia pasti bisa bikin kamu lupa sama Indonesia." Abi mengusap rambut adiknya pelan.
Bicara soal Rafka yang selalu dipanggilnya dengan sebutan Kambing, Abi sekarang sudah mempercayakan adiknya sepenuhnya pada mantan sahabatnya itu.
"Emang dia kambing ya, Bi?" Aira kini menegakkan duduknya. Ia menatap mata saudaranya itu dengan muka serius.
"Dari lahir dia emang kambing, Ra." Abi mengelak. Ada sedikit senyum di bibirnya yang Aira lihat sebelum cowok itu memalingkan wajah.
"Seperti kamu yang jadi ba*bi semenjak lahir. Aku nggak bisa ngebayangin gimana muka anakku nanti," celoteh Aira.
"Emang kenapa?" Abi kini menatap adiknya dengan serius. Suara Aira terdengar sedih di telinganya saat mengatakan anak.
"Papanya kambing, omnya ba*bi, kasihan sekali dia," jawab Aira.
Rafka yang ternyata sudah datang dari tadi dan hanya menyimak obrolan anak kembar itu, tiba-tiba tertawa keras. Aira dan Abi yang mendengar suara tawa keras Rafka jadi menoleh ke arah pintu kamar Aira. Di sana Rafka berdiri bersandar pada kusen pintu dan masih tertawa.
Abi menatap sebal pada Rafka yang entah menertawakan apa. "Apaan sih lo, datang-datang malah ketawa ngagetin orang. Kesambet?"
Rafka menghentikan tawanya dengan menutup mulut rapat-rapat. Lalu ia duduk di samping istrinya dan mengacak rambut Aira, gemas.
"Dasar Kambing Congek, udah nggak waras kayaknya gara-gara kelamaan di Amerika," komentar Abi.
"Kamu ngetawain apa sih, Raf?" tanya Aira penasaran.
"Aku lagi bayangin, yang tadi kamu bilang. Kamu sama si Ba*bi kan kembar, otomatis kamu juga Ba*bi. Terus kalau Kambing sama Babi distuin, anaknya pasti akan lucu." Rafka menjawab masih sambil tertawa.
__ADS_1
Abi ikut tertawa mski pelan. Ia juga membayangkan apa yang dikatakan Rafka. Sementara itu, Aira terlihat tidak suka dengan suara tawa Rafka dan cekikikan Abi.
"Dasar gila!" Aira meninggalkan dua lelaki itu dan memilih masuk kembali ke kamarnya.
Rafka dan Abi menatap kepergian Aira dengan menghentikan tawa mereka.
"Lo sih, ngambek kan dia," kata Abi.
"Lo juga, sama."
Abi mengalihkan pandangannya. Ia memandang ke arah langit yang saat ini terlihat cerah, meski tak ada bintang yang dapat dilihat. "Kita udah lama ya nggak ketawa gini."
Rafka menoleh, lalu menatap Abi yang sepertinya sedang merindukan masa-masa remaja mereka saat masih bersahabat.
"Kayaknya sebelum kejadian itu." Rafka menunduk, tak lama ia mengeluarkan rokok dari saku celananya. Beberapa detik kemudian asap mengepul dari mulutnya.
Abi mengambil sebatang rokok milik Rafka, lalu menyalakannya.
Untuk sesaat adik dan kakak ipar itu terdiam. Pikiran mereka melayang mengingat kebersamaan mereka saat masa putih biru. Dulu, mereka adalah dua remaja yang selalu bersama di setiap saat. Sangat berbeda dengan hubungan mereka sekarang.
"Kalau kamu sama Aira punya anak, mungkin hubungan kita akan kembali seperti dulu."
❤❤❤
Mas Abi, jangan ngomongin anak dulu ya. Biar Zayyan sama Putri aja yang duluan 🤣🤣🤣 Mas Rafka biar sukses dulu.
__ADS_1
Ritual jejaknya jangan lupa. 😉😉😉