AYRAFKA (Jodoh Impian)

AYRAFKA (Jodoh Impian)
Bab 9


__ADS_3

Rafka dan Aira sampai di sekolah. Karena tertiup angin, rambut mereka jadi berantakan, terutama rambut Aira. Rafka pun turut membantu Aira merapikan rambutnya.


"Ih nggak usah aku bisa sendiri," tolak Aira saat Rafka akan membantunya merapikan rambut.


"Ay, aku mau nanya sesuatu sama kamu," kata Rafka.


"Nanya apa, Raf?" Aira sudah selesai menyisir rambutnya, lalu kembali mengikatnya tinggi-tinggi.


"Kamu kenal Revan?" tanya Rafka.


"Em, Kak Revan kakak kamu ya?"


Rafka mengangguk.


"Iya, kenal. Kenapa?"


"Kalau disuruh milih aku sama Revan, kamu pilih siapa?"


Aira mengerukan alisnya, bingung. Ia menatap cowok yang sedang menatapnya dengan sangat serius.


"Ada apa dengan Rafka? Kenapa dia terlihat sangat aneh?" batin Aira.


"Ay jawab, jangan bengong aja!" Rafka menepuk pelan tangan Aira, membuat gadis itu terkejut dan membalalakkan mata.


"Apa sih Raf, milih apa maksudnya?" tanya Aira dengan kesal.


"Yang kamu pilih jadi pacarlah, ya kali jadi tukang ojek kamu," jawab Rafka. Cowok itu turun dari motor dan berdiri sejajar dengan gadis cantik di hadapannya.


"Ngaco, aku sama kamu baru kenal, sama Kak Revan apa lagi, ketemu baru dua kali." Gadis itu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Rafka.


"Berarti peluangnya lebih gede sama aku dong," goda Rafka yang sedikit menunduk, sehingga kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Aira.


Aira yang merasa begitu dekat dengan Rafka, tiba-tiba merasakan debaran yang tidak normal di hatinya.


"Rafka, kamu ngapain sih?" tanya Aira.


"Nggak ngapa-ngapain, ternyata kamu lebih cantik kalau dilihat dari deket, tapi kayaknya kamu nggak pakek bedak ya, natural banget cantiknya."


Dipuji seperti itu, hati wanita mana yang tidak meleleh? Walaupun Rafka hampir setiap hari memujinya, tapi tetap saja, setiap kalimat yang cowok itu ucapkan selalu terdengar manis di telinga Aira.


"Rafka, bentar lagi jam masuk, berhenti godain aku deh, nggak enak dilihatin guru sama temen-temen," kata Aira yang langsung berjalan cepat menuju kelasnya.

__ADS_1


Bukannya menyerah dan menuju kelasnya, Rafka malah berjalan santai di belakang Aira.


"Ngapain lo ngintilin Aira?" tanya Dito, ketua kelas Aira.


"Suka-suka guelah, Aira aja nggak keberatan," jawab Rafka santai. Ia saat ini sedang berdiri di depan pintu kelas Aira, mengamati gadisnya yang berjalan menuju bangkunya.


Setelah Aira duduk dan melihat Rafka masih ada di depan pintu, ia malah membuang muka dan mengeluarkan buku LKSnya.


"Ra, kamu sama Rafka jadian ya?" tanya Vanya yang baru saja sampai.


"Nggaklah, siapa yang bilang?"


"Rafka kayaknya bucin banget sama kamu, aku pikir kalian udah jadian." Vanya menaruh tasnya di laci dan mengeluarkan ponselnya.


"Emang kalau aku jadian sama Rafka, menurut kamu gimana?"


Aira masih kepikiran soal pertanyaan Rafka saat di parkiran, apalagi selama ini Rafka selalu memaksanya untuk menjadi pacarnya.


"Kamu belum tahu siapa Rafka?"


Aira menggeleng kepala, tidak yakin apa dia sudah mengenal Rafka sepenuhnya atau belum.


Aira memperhatikan Rafka yang berjalan santai meninggalkan kelasnya, padahal bel masuk baru saja berbunyi. Sebentar lagi, mereka akan melakukan upacara bendera.


"Denger-denger dia ngedrunk dan free *** juga," bisik Vanya yang membuat kedua bola mata Aira membelalak sempurna.


"Kamu yakin?" tanya Aira. Logikanya memang bisa menerima apa yang Vanya sampaikan, melihat penampilan luar Rafka yang terbilang sangar. Akan tetapi, dari lubuk hatinya yang terdalam, Aira percaya Rafka tidak sebe*jat itu.


"Nggak terlalu sih, tapi rumor yang beredar di sekolah emang gitu," kata Vanya, teman sebangku Aira itu mengeluarkan topinya karena mereka harus mengikuti upacara bendera.


Aira bergabung dengan barisan teman sekelasnya yang mengikuti upacara. Pikirannya terbang jauh membayangkan sosok Rafka yang tadi diceritakan Vanya.


Apa iya, Rafka separah itu? Kenapa itu menjijikkan sekali kedengarannya?


Karena melamun, Aira sampai tidak fokus saat teman di depannya berjalan mundur meluruskan barisan. Dia yang tidak sigap, akhirnya secara reflek hampir terjatuh, dan beruntungnya, Rafka menangkap tubuh Aira.


Pandangan mata mereka kembali bertemu. Aira melihat keteduhan di mata Rafka. Sedangkan Rafka hanya tersenyum dan berkata, "Hati-hati Ay, untung aku yang nangkep kamu, kalau cowok lain gimana?"


"Apaan sih Rafka, emang barisan kamu di situ ya?"


Rafka mengamati ke depan dan ke belakang, memang ia berbaris bukan bersama teman-temannya, tapi malah di barisan kelas XII KR 3 yang bersebelahan dengan barisan kelas Aira.

__ADS_1


"Sengaja di sini, biar deket kamu," balasnya.


"Gombal."


"Raf, kalau lo berisik, mending balik ke barisan lo, lagian biasanya juga lo bolos upacara," cibir murid cowok yang berada di belakang Rafka.


"Aelah, namanya juga usaha, Bro. Iya, gue diem, awas ngadu sama Pak Bambang." Rafka lalu meluruskan barisannya dan mengikuti upacara untuk pertama kalinya.


...****************...


Jam pulang sudah berbunyi, perut yang mulai lapar dan hari yang sudah mulai sore membuat siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Pun demikian dengan Rafka, cowok itu langsung mengambil tas dan keluar kelas begitu bel berbunyi. Akan tetapi, bukannya berlari ke parkiran, ia justru menerobos murid-murid lain dan berjalan cepat menuju kelas Aira.


Maklum saja, saat istirahat ia tidak bisa menggoda Aira, karena jam istirahat tadi Aira tidak ke kantin.


"Rafka, ngapain kamu ke sini, bukannya parkiran ada di sono!" ucap salah seorang teman Aira sambil menunjuk jalan menuju parkiran.


"Jemput bidadari, takutnya dia balik terbang ke kahyangan kalau nggak gue jemput," balas Rafka.


Teman-temannya hanya geleng-geleng kepala karena jawaban Rafka.


Setelahnya Aira keluar dari kelasnya, dan mereka sama-sama berjalan menuju parkiran.


Sampai akhirnya, saat mereka tiba di parkiran, lalu seseorang menarik tangan Aira.


"Kak Revan."


"Bareng aku aja, aku bawa mobil," kata Revan berusaha mengambil hati Aira.


"Maaf Kak, aku udah janji sama Rafka, lagi pula kalau naik mobil, aku suka muntah-muntah," jawab Aira. yang membuat Revan mengerutkan kening.


"Kamu nggak suka naik mobil?" tanya Revan.


"Nggak Kak, aku sama Rafka aja, kita udah janjian tadi," balas Aira yang kemudian menghampiri Rafka. Cowok itu tersenyum puas karena kali ini Aira memilihnya.


"Raf, ayo kita pulang!" kata Aira setelah memakai helm dan membonceng di belakang Rafka.


"Kita muter-muter bentar ya, Ay. Jarang-jarang kan bisa kayak gini."


🦋🦋🦋🦋


Selamat malam semuanya. Selemat beristirahat. Aku terlambat ya. Maaf ya, karena aku masih sakit dan belum sembuh total 😢😢😢 Semoga kalian tetap terhibur 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2