
Happy reading
Sedangkan yang ditunggu Davin kini sedang menyelesaikan aktivitas panas mereka di sofa itu.
"Faster beib ahh."
Suara de sahan itu memenuhi ruangan itu yang membuat laki laki berusia 24 tahun dan wanita berusia 22 tahun itu makin bersemangat. Mereka tak tahu jika bos mereka sekaligus sahabat mereka di sini akan datang.
"AHHH."
Akhirnya mereka menyelesaikan aktivitas mereka, Cecil yang berada di atas paha sang kekasih itu langsung menyandarkan kepalanya di dada Andrean.
"Capek hmm?" tanya Andrean dengan lembut.
Mereka korban broken home hingga mereka akhirnya bertemu dan menjalin kasih sampai saat ini. Pergaulan bebas selalu mereka dapatkan setelah ia tak begitu diharapkan oleh keluarga mereka.
"Capek tapi enak," jawabnya dengan nakal menggoyangkan lagi pinggulnya.
"Ahh shittt kamu sangat nakal."
"Udah kita berhenti dulu, perasaanku gak enak deh sejak tadi," ucap Andrean membuat Cecil mengangguk dan menarik tubuhnya dari Andrean.
"Hmm."
Mereka membersihkan sisa sisa cairan kenikmatan yang ada di antara mereka. Andrean membersihkan area pribadi Cecil dengan tisu basah begitupun sebaliknya. Mereka sudah tahu masing masing dalam diri mereka.
Setelah memakai pakaian dengan lengkap, Cecil memutuskan untuk berbaring di sofa dan memejamkan matanya.
"Sayang aku mau ambil minum bentar ya," ucap Andrean mengecup kening dan bibir Cecil sebelum ia keluar.
"Aku juga mau, yang dingin ya," jawab Cecil dengan lembut serayah memejamkan matanya.
"Iya."
Andrean berjalan menuju pintu dan membukanya, Andrean terkejut saat mendapati bosnya sudah berada di depan pintu dengan sedekap dada.
"Bos."
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Davin dengan tatapan tajamnya. Sudah berulang kali Davin memperingatkan pada sahabat sekaligus kaki tangannya ini untuk menikahi Cecil sebelum mereka berbuat hal itu. Tapi mereka selalu saja menolak.
"Heee, bos udah lama?" tanya Andrean mempersilahkan Davin masuk.
Cecil yang samar samar mendengar suara bosnya itu langsung membuka matanya. Dan betapa terkejutnya Cecil saat melihat bosnya sudah berada di dalam ruangan itu.
"Bos."
"Mudah banget lu serahin tubuh lu sama ni anak? Kapan nikahnya?" tanya Davin yang sedikit sarkas tapi memang itulah kenyataannya.
Cecil tahu apa yang diucapkan Davin hanya untuk membuat mereka berubah pikiran dan menikah. Tapi keputusan mereka tetap sama, mereka takut jika ke jenjang yang lebih serius akan banyak halangan yang menghadang mereka. Sama seperti kedua orang tua mereka dulu.
"Gak tahu," jawab Cecil yang masih duduk di sana.
"Hufftt apa kalian gak takut kalau kebobolan? Dan lu hamil? Kasihan anak kalian gak punya status yang pasti," ucap Davin duduk di kursi single yang ada disana.
Keduanya saling pandang, mereka belum berpikir sampai disana. Mereka masih sibuk menikmati masa masa indahnya berpacaran belum mau memikirkan hal hal dewasa seperti itu. Lagipula Cecil sudah melakukan KB jadi tak mungkin ia hamil.
Andrean duduk di samping Cecil, tatapan Andrean beralih ke perut rata sang kekasih yang sering mendapat semprotan darinya itu.
"Kamu belum hamil kan?" tanya Andrean pada Cecil.
Davin sebenarnya ingin keduanya menikah dan menjalin hubungan rumah tangga. Tapi kembali lagi pada yang menjalaninya. Davin sebagai sahabat hanya bisa menjadi penasehat dan juga sahabat yang baik untuk keduanya.
"Gue kesini mau bilang aja, kalau saat ini gue udah nikah," ucap Davin yang membuat keduanya sontak langsung menatap Davin.
"Serius??" tanya Keduanya dengan kompak. Laki laki itu langsung mengangguk, buat apa juga ia bohong.
"Hemmm."
"Gimana critanya? Bukannya kemarin lu masih ikut balapan?" tanya Cecil dengan raut wajah tak percaya.
Yang benar saja kemarin ia masih melihat Davin ikut balapan dengan teman-temannya tapi kenapa hari ini Davin bilang jika ia sudah menikah. Dan kenapa jika Davin menikah mereka tidak diundang.
Davin menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin malam hingga ia akhirnya dinikahkan secara siri oleh ketua RT setempat. Cecil dan Andrean yang mendengar cerita dari bos sekaligus sahabatnya itu hanya bisa mengganggu dan mencerna apa yang diceritakan oleh Davin.
Mereka tak menyangka jika Davin menerima pernikahan itu dengan lapang dada, tapi kini yang menjadi pertanyaan keduanya adalah siapa istri dari Davin dan bayi itu siapa???
__ADS_1
"Jadi lu udah nikah?"
"Hmm."
"Gue ke sini cuma mau bilang itu sih, dan mungkin gue akan jarang main ke markas. Tolong jaga markas ya, dan juga jangan sampai pernikahan gue ini nyebar ke orang lain selain sahabat kita yang lain. Gue gak mau ketenangan istri dan anak gue terusik," ujar Davin pada mereka.
Keduanya pun hanya bisa mengangguk dan mengiyakan apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
Lagi pula mereka tidak ada hak untuk menceritakan apa yang dialami Davin pada semua orang.
"Eh, Vin. Emang lo gak curiga kalau istri lu itu ngejebak elu? Dan anak itu bisa jadi kan dia itu anak kandung dari istri lu? Gue gak maksud untuk menjelek-jelekkan istri lu tapi ini hanya pemikiran gue aja sih," ujar Cecil dengan hati hati. Ia tak mau menyakiti hati sahabatnya ini.
Davin sudah terlalu baik kepada dirinya, Davin dan Andrean yang mengulurkan tangannya saat ia sedang dalam masa terburuk dalam hidupnya. Sesil hanya tak mau Davin sakit hati jika ia mengetahui kenyataan yang belum ia pernah tahu.
"Gue tahu, gue sudah pernah menyelidiki tentang istri gue. Dan semuanya aman gak ada yang mencurigakan, dan bayi itu bukan anak istri gue. Gue bisa jamin itu," jawab Davin yang memang sudah mengetahui latar belakang Alea dulu.
Sejak sahabat-sahabatnya di sekolah membahas tentang Alea, Davin langsung mencari identitas dari gadis tersebut.
"Bagus deh kalau gitu, kapan kapan ajak main ke markas," ujar Cecil dan dianggukkan oleh Andrean.
"Kapan kapan kalau gak sibuk. Udah ya, gue mau beli troli buat si kecil. Kapan kapan kita ngobrol lagi," ucap Davin pada keduanya.
"Boleh gak kita main ke rumah lu nanti?" tanya Andrean yang kepo dengan istri dan anak dari Davin.
"Boleh kapan kapan, asal kalian gak bocorin apa yang baru aja gue bilang," jawab Davin pada mereka.
"Hemm siap."
"Oh ya sekali lagi, gue saranin kalian buat nikah aja. Itu pun terserah kalian gue gak maksa sebenarnya," ujar Davin sebelum ia keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam.
"Yank, kita nikah apa enggak ya?" tanya Cecil yang kini sudah berada di pangkuan Andrean.
"Kamu maunya gimana?"
"Gak tahu, aku takut."
"Kita jalanin aja dulu, kalau kita sudah sama sama sreg kita nikah hmm," ucap Andrean pada Cecil.
__ADS_1
Cecil mengangguk dan memeluk tubuh sang kekasih yang sedang mengelus rambut lembutnya itu.
Bersambung