
Happy reading
Ceklek
Alya masuk ke dalam kamar seraya menggendong galaksi yang sudah terbangun itu.
"Habis dari mana?"
"Ikut Mama antar Arsen ngaji," jawab Alea meletakkan tubuh sang bayi ke kasur empuk itu. Sebenarnya Papa Kevin dan Mama Tiara sudah menyiapkan ranjang kecil untuk Galaksi di samping ranjang mereka. Tapi tetap saja mereka belum berani meletakkan Galaksi sendiri di ranjangnya.
"Ngaji?"
"Iya, Mama Taira udah mikir tentang kehidupan Arsen loh Kak. Aku bisa merasakan ketulusan hati Mama Tiara saat mengatakan jika Arsen harus menjadi anak yang berbakti dan bisa melindungi ibu dan ayahnya nanti."
Davin seperti teringat waktu ia masih berusia 6 tahun, Mama Mariana mengantarkannya mengaji setiap hari. Tapi sejak Mama Mariana meninggal Davin melupakan semua itu.
"Sebenarnya kamu itu beruntung memiliki ibu tiri sebaik Mama Tiara, sedangkan aku sejak ibuku meninggal aku tidak lagi mendapat kasih sayang ibu bahkan ayah. Aku bagaikan orang asing di dalam rumah itu. Bahkan aku sampai tidak mengenal ayahku saat ini."
"Tidak semua ibu tiri itu jahat, contohnya Mama Tiara. Sejak aku masuk dalam keluarga ini aku bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu lagi," tambah Alea seraya mendudukkan dirinya di samping Davin.
"Pelukan hangat dari Mama Tiara dan Papa Kevin kala itu membuat aku merasa aku memiliki orang tua yang sayang sama aku. Aku tak menyesal menikah dengan kamu, walau nanti aku tidak lagi berjodoh sama kamu tapi setidaknya aku sudah bisa merasakan hangatnya keluarga lagi."
Davin yang mendengar itu langsung memeluk tubuh sang istri dengan lembut. Davin tak ingin pernikahannya kandas di tengah jalan begitu saja. Walau saat ini ia belum sepenuhnya mencintai Alea tapi nama Alea sudah tertulis sedikit demi sedikit di hati Davin.
__ADS_1
"Siapa bilang kita gak berjodoh?"
"Kamu jodoh aku, Al."
"Aku tahu."
Alea melepas pelukan hangat itu, selama ia dekat dengan Davin. Alea sudah menaruh rasa suka dan sayang pada laki-laki itu. Tak bisa dipungkiri pesona Davin memang sangat kuat untuk dirinya yang hanya wanita biasa.
"Besok kan weekend, kita jalan jalan yuk. Aku mau kamu ke nonton besok. Sejak pacaran aku belum pernah merasakan itu kencan. Karena memang aku baru pertama kali pacaran," ajak Davin yang tak mau membuat kekasihnya sedih lagi.
"Galaksi di ajak?" tanya Alea menyentuh tangan sang putra.
"Jangan dulu deh Al. Galaksi belum boleh terlalu lama berada di luar. Apalagi di mall banyak bakteri dan kuman. Aku gak mau Galaksi kenapa napa," jawab Davin yang sebenarnya ingin berduaan dengan sang istri.
"Tapi."
"Gak ada tapi tapian, lagian kita cuma bentar kok. Ya Sayang."
Mendengar Davin mengucapkan kata sayang membuat wajah Alea seketika memerah malu. Alia belum terbiasa dengan panggilan itu apalagi mereka pacaran belum genap 3 hari.
"Dih yang malu."
"Kak."
__ADS_1
"Hmm."
Tatapan mereka terkunci seolah terhipnotis dengan mata indah masing-masing. Tanpa sadar David dan alias saling mendekatkan wajah mereka yang membuat Alea langsung menutup matanya.
Cups
Benda kenyal itu menempel di bibir masing-masing. Belum ada pergerakan dari mereka berdua hingga akhirnya Davin melanjutkan aksinya itu. Sedangkan Alea yang masih amatir itu hanya bisa mengikuti naluri seorang wanita saja.
Tangan Davin sudah berada di tengkuk leher Alea, kemudian mereka berbaring di samping Galaksi dengan posisi yang masih saling berciuman.
"Ekkkkk ekkkk."
Galaksi mengarahkan tangan kecilnya ke sembarang arah hingga membuat Davin dan Alea tersadar.
"Aduh anak Mama, maaf ya sampai lupain kamu. Gara gara Papa kamu nih," ucapnya langsung mencium pipi Galaksi.
"Dih, Mama kamu juga menikmati nak. Papa gak salah."
Saat mereka sedang menikmati waktu bersama si kecil tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar.
Keduanya saling pandang hingga akhirnya dari memutuskan untuk membuka pintu kamar itu.
"Loh kalian ngapain disini?" tanya Davin saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Bersambung