
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai sore, Davin jug sudah pulang dari kafe. Sebenarnya bisa saja Davin bekerja di perusahaan tapi laki laki itu tak mau. Ia lebih nyaman bekerja di kafe dan sesekali di restoran miliknya yang ia bangun dengan kerja kerasnya selama ini. Dan hal itu disetujui oleh Alea. karena Alea memang mendukung setiap pekerjaan sang suami yang penting halal.
"Jadi papa kamu tadi kesini?" tanya Davin yang sudah berganti pakaiannya dan memangku sang putra.
"Iya."
Kemudian Alea menceritakan semuanya mulai dari Papa datang dan menyerahkan surat surat harta milik sang papa.
Davin hanya bisa menghela nafasnya, bagaimana ini. Ia memiliki dua tanggungan jika seperti ini, apalagi ia sudah dengan tegas menolak keinginan papanya sendiri untuk mengurus perusahaan. Kini malah di hadapkan dengan pilihan surat menyurat sang istri yang berisi warisan.
"Sepertinya kita gak bisa menerimanya sekarang, sayang. Lihat kondisi kamu sedang hamil, tak mungkin kamu belajar mengurus perusahaan dengan kondisi hamil kan. Aku juga tak bisa, aku tak enak pada Papa Kevin jika aku yang mengambil alih. Aku lebih nyaman di kafe daripada perusahaan."
"Aku juga bingung. Aku juga tak meminta harta Papa karena papa juga masih sehat. Aku bingung," ucap Alea dengan sendu.
Davin hanya bisa mengelus punggung sang istri, Galaksi yang sepertinya tahu jika sang ibu sedang sedih itu langsung turun dari pangkuan sang ayah dan memeluk sang ibu.
"Mama jangan nangis, Galaksi gak mau Adek bayi sedih juga di dalam sini," ucap Galaksi dengan suara imutnya.
__ADS_1
Alea yang tadinya ingin menangis itu langsung tersenyum mendengar sang putra yang sangat perhatian pada dirinya dan juga anak yang sedang ia kandung.
"Iya sayang, bunda gak jadi nangis," ucap Alea dengan senyum yang menularkan senyumnya pada Galaksi dan Davin.
"Biarkan semua mengalir seperti air hmmm jangan terlalu dipikirkan ya," ucap Davin dan dianggukkan oleh Alea.
Mereka terus bercanda dan tawa di ruang keluarga itu. Hingga suara bel rumah itu berbunyi. Davin menyuruh Mbak pengasuh untuk membuka pintu rumah itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Merek terkejut mendapati Raya yang sudah berdiri dengan cantik di depan mereka. Apalagi Galaksi yang memang sudah diceritain jika Mama Alea bukan Mama kandung Galaksi tapi Mama Raya adalah ibu kandungnya.
"Galaksi itu mama Raya," ucap Alea pada Galaksi.
"Mama."
Raya langsung menyejajarkan tubuhnya dengan sang putra yang kini tumbuh dengan baik bersama mereka berdua.
__ADS_1
"Anak Mama."
Raya memeluk tubuh Galaksi dengan erat tak lupa juga dengan kecupan di pucuk kepala sang anak. Ia meluapkan rindu yang membuncah saat berberapa tahun tak bersama sang putra.
"Maafkan Mama baru pulang hmm."
"Ya ma."
"Pasti Mama Alea dan Papa Davin jaga kamu dengan baik ya, pasti mereka sayang banget sama Galaksi ya?" tanya Raya pada sang putra.
"Mereka sangat sayang sama Galaksi. Mama jangan ambil Galaksi dari Mama dan Papa ya, Galaksi gak mau ninggalin Mama dan Papa. Galaksi mau tinggal disini aja," ucap Galaksi yang sepertinya tahu apa yang ada dipikiran Alea dan Davin.
"Mama gak akan ambil kamu dari mereka kok sayang. Tapi Mama masih boleh ketemu kamu kan?" tanya Raya pada sang putra.
Raya tak bisa menyalahkan Alea dan Davin karena Galaksi lebih memilihkan mereka daripada dirinya. Karena dari bayi sampai sebesar ini Galaksi dirawat dijaga oleh Alea dan Davin.
"Boleh ma, pa?"
"Tak perlu kami jawab nak. Mama Raya itu ibu kamu, kamu boleh sepuasnya sama Mama Raya. Yang penting kamu gak lupa sama Mama Alea dan Papa Davin hmm. Karena bagaimanapun kamu adalah anak pertama kami," ucapnya dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Mereka semua akhirnya lega mendengar keputusan mereka yang diutarakan oleh Galaksi. Kini mereka bermain di sana, Raya juga sudah membelikan mainan untuk Galaksi hingga membuat anak itu sangat senang.
Bersambung