Baby Galaksi

Baby Galaksi
Geng All Star


__ADS_3

Happy reading


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Davin dan Alea memutuskan untuk sementara waktu tinggal di kost karena mereka belum membuat keputusan yang pasti. Apakah harus menyewa baby sitter atau menitipkan Galaksi di rumah utama keluarga Davin karena tak mungkin Galaksi di titipkan di rumah Alea yang dulu.


"Kak, tolong jaga Galaksi ya. Alea mau keluar dulu, cari bahan makanan," ucap Alea yang sudah siap dengan outer panjang dan juga celana panjangnya. Tak lupa juga tas kecil yang ia bawa.


"Kemana Al?" tanya Davin yang baru saja bangun dari tidurnya. Karena kelelahan dengan insiden dan juga menjaga Galaksi, Davin memutuskan untuk tidur di kamar Alea.


"Ke supermarket, Kak."


"Kakak anterin aja ya. Sekalian beli troli buat Gala," ucap Davin bangun dari baringannya dan berjalan menuju kamar mandi. Untung tadi Papanya mengantarkan mobilnya ke kost ini.


Alea yang melihat itu hanya tersenyum dan mengangguk, ia menatap Galaksi yang sudah menggeliat dalam tidurnya mungkin sebentar lagi bayi itu akan bangun.


****


"Ekkk ekkk."


Suara bayi yang sedang merengek itu terdengar sekamar itu. Davin yang baru selesai mandi itu langsung menghampiri istri dan Galaksi.


"Kok udah bangun aja?" tanya Davin pada Alea.


"Gak tahu kak, mungkin kebiasaan bayi," jawab Alea.


"Apa kita harus membawa Galaksi keluar kak?" tanya Alea pada Davin. Jujur ia tak tega mengajak galaksi keluar sore ini. Karena dinginnya sore di sana sungguh membuat orang orang tak betah ia takut Galaksi akan sakit.


"Enggak, biar kakak aja yang keluar cari bahan makanan dan juga troli buat Galaksi."


"Emang gak apa apa?" tanya Alea.


Davin yang dikenal sangat arogan ternyata tak seperti itu. Sejauh yang ia kenal, Davin tak pernah menunjukkan sikapnya itu padanya. Yang ia rasakan adalah sikap hangat dan kelembutan dari Davin pada Galaksi.

__ADS_1


"Gak apa apa, kamu di rumah aja jaga Galaksi. Oh ya sekalian kamu mau dibeliin apa?" tanya Davin mengelus lembut rambut Alea.


Alea yang dielus rambutnya oleh Davin itu ketika membeku, perlakuan Davin yang secara tiba-tiba membuat jantungnya tak aman. Ada apa dengan dirinya kenapa jantungnya bisa berdetak kencang seperti ini?


"Hei, kok diam aja?" tanya Davin yang tak mendapat respon dari sang istri.


"Eh enggak kak, aku gak mau apa apa. Hati hati ya di jalan," ucap Alea pada Davin.


"Bener gak mau apa gitu?" tanya Davin dengan lembut. Alya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak menginginkan apapun untuk saat ini.


"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu ya. Kalau ada apa apa telepon aja ya. Kakak nggak mau kamu dan Galaksi kenapa-napa karena Kakak tinggal," ucapnya dan lagi lagi Alya menganggukan kepalanya tanpa menjawab.


Alea memberanikan diri untuk mencium punggung tangan Davin, karena saat ini Davin adalah suaminya jadi sudah kewajibannya untuk mencium tangan Davin saat suaminya itu ingin pergi.


Davin yang mendapat perlakuan itu untuk pertama kalinya cukup terkejut tapi ia juga menikmati perannya saat ini. Davin sadar saat ini ia bukanlah Davin yang bisa dengan mudahnya keluar dari rumah dan balapan seperti biasanya. Sekarang David memiliki tanggung jawab lain yaitu Alea dan Davin.


Memikirkan balapan Davin jadi teringat dengan teman-temannya, bagaimana reaksi mereka saat tahu jika ia sudah menikah. Dan parahnya Ia menikah dengan wanita yang sudah lama menjadi incaran teman-temannya.


"Kakak hati hati, kalau hujan berteduh aja jangan diterobos kayak kemarin."


"Kan kakak bawa mobil, Al."


Alea yang menepuk kepalanya karena ia baru saja menyadari kebodohannya. Motor Davin entahlah saat ini ada di mana, dan yang ada di halaman depan adalah mobil yang dikirim oleh Papa Kevin tadi.


"Al boleh kakak cium kening kamu lagi?" tanya Davin pada Alea.


Alea yang mendapat pertanyaan seperti itu terdiam, ia tak tahu harus membalas apa.


Cups


Karena menunggu jawaban Alea sangat lama, Davin pun memberanikan diri untuk mencium kening Alea dengan lembut. Hal itu laki-laki membuat jantung Alea berdetak tak karuan.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kening Alea, Davin beralih untuk mencium Galaksi yang sudah membuka matanya itu.


"Papa pergi dulu ya sayang," bisiknya dengan pelan tepat di telinga Galaksi.


Sebenarnya Davin masih terlalu geli untuk memanggil dirinya papa, apalagi usianya masih 19 tahun. Tapi karena keputusannya untuk mengadopsi Galaksi harus membuatnya terbiasa dengan hal itu, walau Alea belum terbiasa dan sering memanggil dia kakak.


"Biasakan untuk memanggil Mama jika bersama Galaksi," ucap Davin bangkit dari duduknya dan mengambil dompet serta kunci mobilnya.


Setelah mengucapkan itu Davin keluar dari kamar itu menuju mobilnya tujuan utamanya adalah markas geng all star. Geng motor yang membuat kepribadiannya berbeda. Tatapan mata yang tadinya lembut dan hangat kini berubah menjadi tajam setelah ia masuk ke dalam mobil.


Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan penuh menuju suatu jalan yang sangat sepi. Hingga sampailah Ia di sebuah rumah yang dijadikan markas untuk geng motornya.


Davin memarkirkan mobil itu di parkiran kemudian ia keluar dari mobil menuju rumah itu. Rumah yang memiliki dua lantai dengan halaman yang sangat luas itu tampak banyak sekali anak-anak geng motor yang ada di sana. Sekitar 50 orang ada disana dan sebagian dari mereka adalah anak-anak jalanan yang kurang beruntung.


"Sore bos."


Mereka semua menyapa bos mereka yang sudah berbaik hati menampung anak-anak jalanan untuk masuk dalam geng mereka. Markas ini adalah rumah mereka, dan mereka berjanji untuk tetap setia pada Bos mereka itu.


"Andrean dan Cecil ada disini?"


"Ada bos," jawab mereka.


"Alex dan yang lain?"


"Mereka belum datang bos, kemarin setalah balapan mereka pasti di hukum orang tua mereka," jawab salah satu dari mereka.


Davin mengangguk kemudian ia berjalan menuju sebuah ruangan yang biasa ditempati Andrean dan Cecil.


Sampainya di depan ruangan itu, ia yang ingin membuka pintu itu ternyata tidak bisa terbuka.


"Sial mereka pasti lagi ngadon," gumamnya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2