
Happy reading
"Ahhh ahh kak pelan pelan ahh," ucap Alea yang merasakan tubuh Davin bergerak cepat.
"Yahh sayang, maafkan aku."
Walau sedang enak enaknya tapi Davin tetap mempertahankan akal sehatnya. Kembali dengan lembut dan slay.
"Ahh ahh kak."
"Sial ini terlalu nikmat," batin Davin dengan gejolak yang makin bertambah.
"Kak Davin ahh."
Akhirnya setelah berberapa saat akhirnya mereka sampai di puncaknya.
Davin jatuh di atas dada empuk sang istri yang sedang mengatur nafasnya.
"Kalau aku hamil gimana?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir tipis Alea.
Padahal mereka sudah berulang kali melakukan hubungan seperti ini. Dan Davin juga berulang kali mengeluarkannya di dalam rahim Alea. Kenapa baru dipertanyakan.
"Ya kita syukuri, biar Galaksi ada temannya."
"Pertanyaan kamu aneh yank," ucapnya mencabut pelan pusakanya.
"Ahhh Kak."
__ADS_1
Nampaknya Alea masih belum rela Davin melepas pusaka itu dari miliknya.
"Kakak gak mau kamu makin capek gara gara kakak."
"Heemmm."
Davin terkekeh kemudian ia menarik tubuh Alea ke dalam dekapan hangatnya.
"Pertanyaan aku gak aneh, gimana kalau aku hamil? Terus Galaksi gimana? Dia masih kecil," ucapnya dengan bingung.
"Haiss sayang dengarkan aku. Ada atau tidaknya nanti kecebong aku di perut kamu itu adalah anugrah, bukan sebuah kesalahan," jawab Davin mengecup kening Alea dengan lembut.
"Kan kita masih muda, apa gak apa apa urus dua anak. Apalagi kamu juga bakal kuliah," ucap Alea memejamkan matanya seraya menikmati elusan di punggungnya itu.
"Pasti bisa. Kita gak boleh nolak kalau Allah kasih kita anak secepat ini," bisiknya yang membuat Alea tersenyum malu.
"Kak," panggil Alea yang mendapat deheman dari Davin.
"Kakak udah cinta belum sama aku?" tanya Alea pada Davin.
Davin tak langsung menjawab, laki laki itu malah bertanya balik kepada Alea.
"Kamu udah cinta belum sama Kakak?"
"Ishh kakak kan aku tanyanya kamu, kok dibalikin pertanyaannya," ucap Alea dengan kesal tapi ia tak bisa berbuat apa apa karena posisinya saat ini ia sedang berada di pelukan sang suami.
Alea diam, Davin juga diam jadi mereka berdua saling diam hanya suara elusan tangan Davin saja yang terdengar.
__ADS_1
"Sayang, sudah tidur?" tanya Davin yang tak mendapat sahutan dari Alea.
"Alea sayang," panggilnya lagi.
"Kenapa sih kak. Aku mau tidur ini, dipanggil terus," ucap Alea yang lagi lagi tak bisa tidur.
"Gimana jawaban kamu?" tanya Davin.
"Kaka dulu deh."
"Jangan kayak anak kecil, kakak ingin mendengar jawaban kamu. Kamu sudah cinta sama kakak apa belum?" tanya Davin dengan tak sabaran.
Davin? Disuruh sabar? Mungkin itu dulu sebelum mereka M*k**g love. Sekarang Davin membutuhkan kejelasan tentang perasaan Alea padanya.
"Ya, aku udah jatuh cinta sama kakak. Tapi aku juga gak bisa mak..."
Belum selesai Alea berbicara, Davin sudah terlebih dahulu memeluk erat Alea seraya berkata.
"I Love you too, aku juga cinta kamu Alea sayang. Terima kasih dengan begini cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan. Apalagi kamu banyak yang suka," ucap Davin dengan pelan.
"Kakak juga banyak yang suka."
"Tapi yang kakak suka cuma kamu sayang."
Akhirnya di malam itu mereka mengetahui isi hati mereka masing masing. Alea dan Davin sudah tak canggung lagi jika ingin berbicara romantis.
Setalah lelah berbincang keduanya memutuskan untuk tidur dengan posisi saling berpelukan.
__ADS_1
Bersambung