
Happy reading
Kini hanya tinggal Davin, Alea, Papa Kevin, Mama Tiara, Arsen, dan baby Galaksi.
"Sekarang kamu jelaskan sejelas jelasnya sama kami, apa yang sebenarnya terjadi," ucap Papa Kevin.
Sedangkan Mama Tiara hanya menyimak, ia tak mau banyak berkomentar karena ia tahu Davin tak suka dirinya.
Akhirnya Davin menjelaskan semua yang terjadi, bahkan tidak ada yang dilebihkan dan dikurangi oleh Davin.
"Jadi kalian menemukan bayi ini di gubuk?" tanya papa Kevin yang sudah menggendong bayi mungil yang sedang terlelap itu.
"Iya, Pah. Dan saat itu Davin ingin pulang ke rumah tapi naasnya motor Davin tergelincir di depan gubuk itu. Entah ini kebetulan atau apa, Davi juga gak tahu," jawab Davin.
Mama Tiara yang melihat bayi mungil itu sedikit heran.
"Mas kenapa wajah Bayi ini hampir mirip dengan Davin, hanya versi kecilnya saja. Hidung, bibir, matanya semuanya sama. Apa ini kebetulan?" tanya Mama Tiara.
Mereka semua menatap ke arah bayi mungil yang sedang terlelap itu. Benar apa kata sang mama, jika pahatan wajah bayi itu hampir mirip dengan Davin. Kenapa Alea dan Davin tak menyadari ini sebelumnya.
"Eh iya loh, Papa juga baru ngeh."
Papa Kevin menatap bayi itu dengan seksama, entah kenapa juga Papa bisa langsung sayang dengan bayi ini.
"Mungkin kebetulan aja, gak mungkin Davin tanpa sadar menghamili seorang wanita," ujar Mama Tiara mengelus pipi lembut baby Galaksi.
Davin mengangguk, ia memang tak pernah dekat dengan wanita lain selain Alea kemarin. Karena Davin sangat anti dengan yang namanya perempuan murahan.
"Jadi apa kalian setalah ini akan tinggal di rumah utama? Tak mungkin kalian tinggal disini dengan Galaksi yang masih sangat kecil. Apalagi kalian harus sekolah?" tanya Papa Kevin pada kedua pasturi itu.
__ADS_1
"Kami belum tahu, Pah. Alea dan Davin juga harus menyesuaikan diri dengan pernikahan kami yang serba mendadak ini," jawab Davin yang dianggukkan oleh Alea.
"Iya, Pah."
"Abang, itu adiknya Arsen?" tanya Arsen, adik Davin pada Davin.
Davin yang mendapat pertanyaan itu mengangguk, entah bagaimana nanti status bayi itu. Tapi ia berjanji tak akan pernah menyerahkan bayi ini pada siapapun.
"Iya, dek. Ini adik Arsen sekarang, akur akur ya jangan berantem kalau Abang dan Papa gak ada di rumah," ucap Davin yang melupakan Mama tirinya. Mama Tiara yang mendengar itu hanya tersenyum sedih, sampai kapan anak sambungnya itu tak menganggap dirinya sebagai ibu sambungnya.
Arsen yang tahu jika, ia punya teman selain kakak dan ibunya itu bersorak senang. Kemudian ia mendekat ke arah Galaksi dan mengajaknya ngomong. Mereka yang ada disana terkekeh geli saat melihat Arsen yang sangat antusias menyambut kehadiran Galaksi dalam keluarga mereka.
Alea tersenyum melihat itu, ia tak menyangka jika keluarga Davin akan se welcome ini dengan orang yang notabene adalah asing.
Kemudian tatapannya mengarah pada Mama Tiara yang tersenyum melihat kedekatan anak sambung dan juga Galaksi.
Tapi ada sesuatu yang aneh terlihat, sepertinya Davin dan Mama Tiara itu tak banyak terlibat pembicaraan tadi. Bahkan ia belum sekalipun mendengar Davin memanggil Mama Tiara sejak tadi.
"Mama sama Papa pulang dulu ya, Arsen juga sudah ngantuk kayaknya," ucap Papa Kevin pada mereka.
"Papa, Mama nanti Arsen boleh main sama dedek bayi kan?" tanya Arsen pada Papa dan Mamanya.
"Boleh sayang, nanti Mama ajak kamu main sama dedek bayi kalau Abang sama kakak Alea gak ke rumah," jawab Mama Tiara dengan lembut. Jujur ia sangat menyayangi anak dari suaminya ini, walau Arsen dan Davin bukan darah dagingnya.
"Asikk, Arsen punya teman baru."
Mereka yang mendengar teriakan Arsen tersenyum. Anak laki-laki itu tampak senang karena ia akan memiliki teman baru walaupun masih bayi.
"Papa hati hati ya," ucap Davin seadanya.
__ADS_1
Papa Kevin yang masih mendapati Sang putra belum bisa menerima pernikahannya dengan Mama Tiara itu hanya bisa bersabar. Ia yakin anak sulungnya ini akan menerima Tiara sebagai ibu sambungnya sama seperti Arsen yang sudah menerima Mama Tiara.
"Dedek bayi, Arsen pulang dulu."
Mereka meninggalkan kost yang sudah sepi itu, hingga kini tersisa Davin dan Alea. Sejak tadi mereka belum juga berbicara lagi.
Alea dan Davin sama sama canggung dengan situasinya saat ini. Alea yang menggendong Galaksi itu sedikit pegal karena bayi laki-laki itu tak mau jauh dari mereka berdua.
"Ehem, ayo masuk gak mungkin kan kita di depan aja?" ajak Davin pada Alea.
Hal itu membuat Alea langsung tersadar kemudian membawa Galaksi masuk ke dalam kost. Untungnya ia tak di usir dari kost itu, hal itu cukup membuat Alea bersyukur.
Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Suasana masih sangat canggung untuk mereka saat ini.
"Al, mungkin ini terlalu cepat untuk kita. Tapi aku mohon jangan jadikan pernikahan ini sebagian kesalahan," ujar Davin yang masih sempat berpikir normal. Ia tak mungkin menyalahkan suatu yang sakral untuk di permainkan. Pamali kata orang dulu dulu mah.
"Huhhh aku gak tahu ini baik atau buruk buat kita. Di satu sisi, dengan kita menikah Galaksi bisa mendapat orang tua yang lengkap. Tapi disisi lain kita masih sekolah, bagaimana kita harus menjaga Galaksi? Tak mungkin kita membawa Galaksi ke sekolah kan?" tanya Alea yang dianggukkan oleh Davin.
Benar apa kata Alea, hari ini saja mereka sudah izin tak mungkin mereka putus sekolah hanya karena Galaksi.
"Dan kak."
Davin menatap Alea yang kini sudah resmi menjadi istrinya, walau istri siri.
"Maaf jika kehadiranku dan Galaksi membuatmu tak nyaman. Aku merasa bersalah karena menyeretmu dalam masalah ini hingga kamu harus terlibat dalam pernikahan yang tak kamu inginkan ini. Maaf sekali lagi," ucapnya dengan rasa bersalah.
Siapa yang tidak merasa bersalah jika laki laki yang tak pernah masuk ke dalam pikirannya kini tiba tiba menjadi suaminya hanya karena ia lupa lapor ke ibu kost dan pak RT.
"Jangan merasa bersalah, aku yakin ini sudah takdir kita. Dan pertemuan kita dengan Galaksi juga sudah menjadi takdir," jawab Davin tak ingin menyalahkan siapapun. Karena dengan pernikahan ini ia tak perlu lagi curi curi pandang ke arah Alea lagi.
__ADS_1
Bersambung