
Happy reading
Davin dan Alea sudah sampai di rooftop sekolah yang sangat tinggi itu. Sedari tadi Saat ia ditarik oleh Davin Alea tidak memberontak sama sekali. Gadis itu hanya nurut dan pasrah ingin dibawa ke mana oleh Davin.
"Kak."
"Duduk, Al."
Davin menyuruh Alea untuk duduk di kursi kayu yang ada di rooftop. Sebenarnya pemandangan di sana sangat indah jika dari atas sana.
Merekapun duduk di kursi itu dengan canggung, apalagi posisi Alea dan Davin yang sedikit jauh.
Hufftt
"Kamu pasti takut sama kakak ya?" tanya Davin pada Alea yang sedang menatap pemandangan yang ada di depannya.
Davin yang tak mendapat jawaban dari Alea itu mendekat ke arah Alea. Kemudian menyandarkan kepala gadis itu di dadanya.
Alea yang masih kaget itu langsung mengajukan tubuhnya dari dada Davin. Tapi laki-laki itu tetap tahan kepala Alea hingga membuat gadis itu pasrah.
"Kamu bisa rasain detak jantung aku kan, Al?" tanya Davin pada Alea. Davin tak bisa terus terus menguat Alea takut kepadanya.
Alia yang memang merasakan detak jantung Davin yang sangat kencang itu hanya bisa mengangguk dalam dekapan Davin. Sebenarnya bukan hanya detak jantung Davin saja yang kencang tapi juga miliknya. Iya takut apa yang terjadi pada Louren terjadi juga padanya.
"Kenceng banget," jawabnya dengan lirih malah mirip bisikan.
Davin hanya terkekeh kemudian mengelus rambut halus Alea. Ia tahu jika sang istri pasti sangat takut saat ini, monster dalam tubuhnya datang begitu saja tidak bisa di cegah.
Cups
"Maaf ya udah bikin kamu takut, aku lepas kendali tadi," ucap Davin pada Alea. Laki laki itu mengecup kening Alea hingga membuat jantung Alea ingin keluar.
"Kamu gak apa apa kan, Al?" tanya Davin karena ia merasakan detak jantung Alea yang sangat kencang.
"Kak, jangan lakuin gitu lagi ya. Alea takut kakak sakiti cewek tadi. Alea takut apa yang terjadi pada Louren terjadi juga pada Alea."
"Hufftt."
"Kalau dia gak mancing amarahku, gak mungkin aku berbuat kasar seperti tadi. Jangan takut lagi ya, lagipula aku sudah menyuruh anak anak untuk baw Louren ke rumah sakit kan," jawab Davin dengan senyum tapi hal itu tak bisa dilihat oleh Alea.
"Jangan takut sama kakak ya, Al. Kakak gak mau kamu trauma dengan apa yang terjadi hari ini," ujar Davin memegang tangan Alea dan mengecupnya.
Setelah berberapa saat akhirnya Alea sudah tak setakut tadi. Tentu karena perlakuan Davin yang sangat manis padanya.
__ADS_1
Alea bisa kembali tertawa hingga membuat Davin senang dengan hal itu. Ia tak mau sampai istrinya takut padanya hanya karena sifat sialannya.
"Al."
"Ya kak," Alea menoleh ke arah Davin.
"Jangan buat iblis dalam diri gue bangun ya. Kalau nanti seandainya iblis gue bangun lu tenangin ya. Karena gue takut tangan gue akan melukai orang lagi."
"Iya, tapi kakak gak boleh marah marah lagi sama orang ya," Alea menjawabnya dengan senyum manisnya.
"Kakak usahain," bisiknya mengecup kembali kening Alea.
Mereka menikmati waktu istirahat dengan memandang pemandangan dari atas rooftop. Alea yang tak pernah masuk ke area rooftop itu sempat terkejut dengan tempat ini di sekolah.
Dulu, ia berpikir rooftop di sekolahnya ini kosong dan tak akan seindah ini tapi kenyataannya malah berbanding terbalik. Bahkan rooftop ini lebih indah daripada taman, karena dari atas rooftop mereka bisa melihat pemandangan gunung dan laut yang jauh disana.
"Itu laut apa kak?" tanya Alea menujuk laut yang ada gunungnya.
"Laut winarta, Al. Kamu mau kesana?" tanya Davin pada sang istri.
Alea tampak berpikir, betapa indahnya laut itu jika dilihat dari dekat. Ingin sekali Ia melihat laut itu tapi ia juga ingat jika dia memiliki galaksi yang masih bayi. Tak mungkin hal yang membawa bayi sekecil galaksi untuk pergi ke pantai yang panas.
Brug
"Eh."
Alya kaget dengan apa yang dilakukan Davin, sebelum-sebelumnya Davin tak pernah semanja ini padanya.
"Gimana?" tanya Davin pada Alea. Laki-laki itu mengambil tangan Alea dan diletakkannya di kepala dengan gerakan mengelus rambut laki laki itu.
"Elusin, Al."
"Mau sih sebenarnya, tapi nunggu Galaksi besar dulu ya."
"Nunggu Galaksi besar lama, Al. Sekarang aja Galaksi belum genap 1 bulan. Kalau nunggu dia besar lama. Kalau kamu mau aku bisa memenuhi keinginan kamu untuk ke pantai itu," jawab Davin yang menikmati elusan tangan Alea dengan mata tertutup.
"Gak mau pokoknya nunggu Galaksi besar dulu," ucap Alea pada Davin. Akhirnya Davin hanya diam, iya tak mau memaksakan apa yang menjadi kehendaknya.
Saking asyiknya mereka berdua sampai lupa jika sekarang sudah waktunya masuk kelas. Alea yang teringat jika ia masih di sekolah itu langsung menghentikan gerakan tangannya.
"Kak, bukannya masih ada jam pelajaran ya setelah istirahat?" tanya Alea yang tak mau ia sampai bolos karena keenakan di rooftop.
"Ada tapi mungkin jam kosong, udah ya aku gak mau masuk kelas. Tadi aku denger guru guru lagi ada rapat setelah istirahat," jawab Davin jujur.
__ADS_1
Tadi saat ia melewati ruang guru yang mendengar jika setelah istirahat akan ada rapat dadakan hingga para guru harus memberikan tugas untuk anak-anak muridnya.
"Beneran? Alea gak mau bolos ya kak," ujar Alea dan dianggukkan oleh Davin. Laki laki itu masih tampak nyaman berada di pangkuan Alea.
"Al."
"Hmm."
"Alea."
Alia yang menatap Davin itu hanya bisa mengendus kesal. Ia sedari tadi melihat ke arah Davin tapi kenapa laki laki itu malah memancing emosinya.
"Kamu ngefans gak sama aku? Pasalnya kamu tahu sendiri banyak yang suka sama aku. Apa kamu juga suka sama aku?" tanya Davin.
"Apa kamu juga seperti wanita wanita lain yang mengagumi aku dari jauh?" tanya Davin pada Alea.
Alea yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa tersenyum kemudian ia merapikan rambut Davin yang menghalangi mata laki laki itu.
"Mau jawaban jujur atau gimana?" tanya Alea pada Davin.
"Jujur lah."
Alea hanya tertawa singkat.
"Aku bahkan hanya mendengar gosip tentang kakak dari anak anak. Aku juga punya telinga kak, kakak cukup populer di kelas aku. Aku juga mikir gimana jadinya kalau mereka tahu kakak itu pacar aku."
"Kalau kamu di apa apain mereka, maka mereka berurusan sama aku."
"Iya iya. Mau dilanjut apa enggak?"
"Lanjut."
"Aku gak ada perasaan tertarik sama obrolan mereka, karena memang aku gak begitu kenal sama kakak dulu."
"Baru baru ini aku pikir ucapan mereka semua salah tentang Kakak karena kakak selalu baik dan lembut sama aku. Tapi setelah hari ini aku tahu tak semua yang mereka omongkan salah. Tapi mereka juga gak tahu sifat kakak yang lain, mereka hanya tahu Davin yang arogan dan tak pandang bulu."
Davin yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Alea tidak salah karena ia sendiri menyadari akan hal itu.
"Kalau kakak tanya aku suka apa enggak sama kakak, maka jawabannya adalah belum tapi sudah menjelang kok. Kakak udah jadi suami aku jadi otomatis aku harus menerima semua yang ada dalam diri kakak, dan aku juga harus mencintai dan menyayangi kakak sebagai suami aku."
Davin yang mendengar itu langsung tersenyum, ia juga akan berusaha untuk membuat Alea dan dirinya sendiri jatuh cinta hingga pernikahan mereka nanti tak akan ada kata berpisah.
Bersambung
__ADS_1