
( POV Andra )
Setelah aku sampai di apartemen, aku pun mengambil segala keperluan Vania dan juga ponsel nya yang terletak di atas nakas.
Setelah itu aku menuju supermarket untuk membeli roti, snack dan buah-buahan untuk Vania kemudian kembali ke Rumah Sakit.
Sampai di ruangan Vania, aku mengetuk pintu terlebih dahulu lalu membuka pintu nya.
Ternyata Vania sedang tidur, aku membiarkan nya tanpa mau mengganggu nya dan meletakkan barang-barang yang ku bawa di dalam lemari kabinet.
Aku memperhatikan jam yang ada di ruangan ini, ternyata masih jam lima. Pantas saja rasa ngantuk mulai melanda, sebab tidak ada tidur semalaman. Aku pun memutuskan untuk tidur di sofa yang tersedia, hanya sebentar saja aku pun mulai mengarungi alam mimpi.
( POV Vania )
Saat terbangun, aku melihat Pak Andra yang tidur terlelap di sofa. Aku memandangi wajah nya yang kebetulan mengarah kepada ku.
Aku mengira Pak Andra sudah pulang, tapi ternyata dia masih setia menjaga ku di sini.
Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh, 'Apa ku bangun kan saja ya? Bukan kah Pak Andra harus bekerja hari ini?' batin ku.
Tiba-tiba pintu di ketuk.
Tok Tok Tok
Pintu pun terbuka, tampak seorang perawat masuk. "Bu, ini makanan nya. Setelah selesai makan, obat nya langsung di minum ya" ucap sang perawat dengan ramah.
Setelah perawat tersebut pergi, aku pun bangkit dari ranjang dan mengambil sebuah selimut yang memang di sedia kan untuk penunggu pasien.
Kemudian aku menyelimuti tubuh Pak Andra, seketika Pak Andra bergerak dan tiba-tiba merangkul ku dan menarik tubuh ku. Aku melihat Pak Andra masih memejam kan mata nya. Jarak antara wajah ku dan wajah Pak Andra sangat dekat, aku bahkan bisa merasakan deru nafas nya.
Entah kenapa tiba-tiba jantung ku berdegub kencang, aku pun teringat kembali saat dia memeluk ku. Ada rasa nyaman berada di pelukan nya, sejak dulu dia memang selalu memperlakukan ku dengan baik.
Aku merasa seperti seorang adik yang sangat di jaga oleh kakak nya.
Aku segera melepaskan tangan Pak Andra yang merangkul pinggang ku, tapi aneh nya rangkulan nya sangat kuat. Semakin aku berusaha untuk melepaskan nya, pelukan nya pun semakin kuat.
__ADS_1
"Sebentar saja, tetap lah seperti ini Vania. Aku mohon! Ucap Pak Andra masih dengan mata terpejam.
'Astaga, tidur saja masih bisa setampan ini' gumam ku sambil menatap wajah nya.
Seketika Pak Andra membuka mata nya dan tersenyum manis melihat ku, jantung ku rasanya takul karuan saat ini. Aku sudah sering melihat wajah Pak Andra, tapi rasa nya biasa saja.
"Pak, maaf aku tidak bermaksud mengganggu" ucap ku. Tapi Pak Andra hanya tersenyum menanggapi nya.
"Tidak apa-apa Vania, aku suka di ganggu sama kamu" ucap Pak Andra sambil menyunggingkan senyuman termanis nya.
Mendengar ucapan nya barusan membuat ku menjadi semakin salah tingkah.
"Pak, saya harus makan dulu. Itu sarapan nya sudah sejak tadi di antar sama perawat" aku mencari alasan agar Pak Andra melepaskan pelukan nya.
"Oh, maaf Vania. Ya sudah kamu sarapan dulu biar langsung minum obat" Pak Andra pun melepaskan pelukan nya, aku segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ranjang. Berusaha menata hati agar kembali normal.
Pak Andra masih menatap ku tanpa melepaskan pandangan nya dari ku. Dan itu membuat ku semakin salah tingkah.
"Apa Pak Andra tidak sarapan dulu?" Aku berusaha mencairkan suasana yang canggung ini.
"Apa Bapak tidak berangkat ke kantor hari ini?" tanya ku lagi.
"Tidak Van, aku akan di sini menunggu mu" jawab Pak Andra.
"Tapi Pak, aku bisa kok sendiri saja di sini. Sebaiknya Bapak ke kantor saja, pasti lebih banyak yang membutuhkan Bapak di sana ketimbang aku di sini. Toh di sini ada banyak perawat, aku bisa memanggil mereka jika membutuhkan sesuatu" ucap ku.
"Tidak Van, aku akan tetap di sini. Masalah pekerjaan kantor tidak perlu kamu pikirkan. Aku sudah menyerahkan semua nya pada asisten ku, biar dia yang menghandel semua nya" ucap Pak Andra.
Aku jadi merasa tidak enak untuk kebaikan Pak Andra. Berkali-kali dia membantu ku, bahkan dia selalu ada di saat aku susah.
"Ya sudah terserah Pak Andra saja, tapi Bapak tidak perlu memaksa kan diri. Kalau memang ada hal penting lain yang ingin di lakukan, aku gapapa kok di tinggal sendiri" ucap ku.
"Iya iya, bawel banget sih. Buruan makan, keburu dingin tuh" balas Pak Andra.
"Aku keluar sebentar ya, mau cari udara segar" ucap Pak Andra sembari bangkit dari sofa.
__ADS_1
"Apa aku boleh ikut Pak? Aku juga butuh angin segar, bosan di kamar terus" Pak Andra mengernyitkan kening nya.
"Apa? Bosan? Belum juga ada 24 jam kamu masuk ke rumah sakit ini, bisa-bisa nya sudah bosan" Pak Andra menggelengkan kepala.
"Tapi aku memang merasa bosan berada di kamar terus Pak" ucap ku memelas.
"Ya sudah, makan dulu lalu minum obat nya" ucap Pak Andra kembali duduk di sofa.
Sebelum Pak Andra berubah pikiran, dengan cepat aku melahap makanan yang tersedia di depan ku.
"Pelan-pelan saja, aku pasti nungguin kok" ucap Pak Andra yang ternyata memperhatikan ku.
"I-iya pak" ucap ku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Kurang lebih sepuluh menit akhirnya aku selesai makan.
"Ayok Pak, kita jalan-jalan keluar" ajak ku pada Pak Andra yang sedang sibuk menatap ponsel nya.
"Ayok" Pak Andra bangkit berdiri.
Kami pun berjalan menuju taman rumah sakit, Pak Andra memang sudah mengenal seluk beluk Rumah sakit ini. Jadi tidak begitu susah bagi kami untuk mengetahui tempat yang asyik untuk menongkrong.
Ketika kami sedang berjalan di koridor, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak ku.
"Vania" ucap nya, dan aku menoleh ke belakang.
Seketika jantung ku rasa nya tak karuan, tapi kali ini tidak sama seperti tadi.
"Mas Arvin!!" ucap ku terkejut. Yang menjadi pandangan utama ku adalah Elmira yang sedang di gendong Alexa.
"Sayang, putri ku.. .hiks hiks" ketika aku mau memeluk putri ku, Alexa segera menjauh kan nya dari ku.
"Kamu? Enak sekali kamu bilang-bilang Elmira putri mu" ucap Alexa.
"Elmira itu putri ku, putri yang ku lahirkan sendiri. Aku yang berjuang melahirkan nya dengan mempertaruhkan nyawa ku." ucap ku memelototi Alexa.
__ADS_1
"Mas, ayok kita pergi dari sini." Alexa segera menarik tangan Mas Arvin yang terpana menatap ku dan Pak Andra bergantian