
Akhirnya aku bebas setelah Pak Andra menjaminiku, kami lekas berjalan keluar dari kantor polisi ini.
Huuhhhh
Aku bernafas lega setelah keluar dari tempat itu. Walaupun tak sampai 24 jam, rasanya seperti sudah berhari-hari terkurung.
Pak Andra berjalan di depanku sambil terus menatap ponselnya, aku tak bisa menyeimbangi langkah nya yang terlalu cepat.
Tiba-tiba Pak Andra menghentikan langkah nya hingga membuatku menabrak punggung nya.
"Aduuuhh" ucapku spontan.
"Vania, kamu kenapa? " tanya Pak Andra khawatir.
"Maaf, jas Bapak yang mahal jadi kotor karena kena sama saya" ucapku seraya menepuk-nepuk jas nya.
Dia menggengam tanganku untuk menghentikanku "Sudahlah, itu tak masalah" ucapnya lembut.
"Ayo, masuk ke mobil" ajak Pak Andra yang masih menggenggam tanganku.
Pak Andra membukakan pintu untukku dan mempersilahkan ku masuk ke mobil, tapi aku masih terdiam menatapnya.
"Kenapa diam? Ayo masuk" ucap Pak Andra lagi.
"Pak, bagaimana bisa aku masuk kalau tangan ku terus di genggam. " ucapku sambil melirik tangan nya.
Seketika dia melepaskan tanganku, terlihat wajah nya yang memerah menahan rasa malu.
Setelah mobil melaju, kami hanya terdiam sehingga menciptakan suasana canggung.
"Bapak tidak mau menanyakan alasan ku di tahan Polisi?" Tanyaku mencairkan suasana.
Pak Andra sekilas menolehku, lalu
kembali fokus mengemudi.
"Saya tak perlu bertanya hal yang tidak penting" jawabnya singkat.
'Haahh?? Gak penting? Kalau tidak penting, kenapa dia repot-repot mengeluarkan aku dari penjara?' Gumam ku sambil mengernyitkan kening.
"Saya bercanda, gak usah di ambil hati, dari tadi tegang terus, santai saja. Saya tahu kamu pasti tidak bersalah, kamu lah yang jadi korban nya di sini" ucap Pak Andra lagi.
Aku hanya terdiam menatap Pak Andra.
__ADS_1
"Saat saya mendatangi rumah mu, saya melihat ada perempuan lain di sana. Dan dia tampak mesra dengan suamimu. Saya bertanya keberadaanmu, tapi mereka tampak sangat marah dan mengusir saya begitu saja. Saat saya mau pergi ada tetangga kamu yang memberitahu saya bahwa kamu di bawa polisi" ucap Pak Andra menjelaskan.
Aku mengangguk mengerti sekarang.
Apa jangan-jangan Pak Andra sudah tahu masalah rumah tanggaku?
"Hey" tiba-tiba Pak Andra melambaikan tangannya tepat di depan wajahku dan membuatku tersentak.
"Lagi mikirin apa? Sudah gak usah di pikirin dulu, yang penting kamu sudah bebas dan sekarang kita ke rumah sakit dulu memeriksa keadaan mu, tampaknya kamu tidak baik-baik saja" ucap Pak Andra yang kembali fokus mengemudi.
"Tidak usah Pak, saya baik-baik saja. Tidak ada luka parah, hanya luka-luka kecil saja, nanti juga sembuh sendiri." Ucapku yang merasa tidak enak.
"Kamu tidak usah membantah, kita sudah mau sampai di rumah sakit, hanya sebentar saja tidak akan merepotkan" ucap nya lagi.
Aku terdiam, kalau sampai Pak Andra berbicara seperti itu berarti dia memang sedang tidak ingin di bantah.
Hanya 10 menit kami sudah sampai di depan sebuah rumah sakit, sebenarnya aku merasa tidak enak karena sudah banyak merepotkan Pak Andra.
Kami berjalan masuk ke rumah sakit tersebut, dan tampak seorang perawat mendekati kami "Ada yang bisa saya bantu Pak Bu?" Ucapnya ramah.
"Tolong obati semua luka-luka nya" ucap Pak Andra pada perawat tersebut.
"Silahkan ikut saya ke ruang perawatan Bu" ucap sang perawat padaku.
Seketika datang seorang dokter paruh baya setengah berlari mendekati kami dan berhenti ketika sudah dekat dengan Pak Andra.
Aku sedikit heran, kenapa Pak Andra meminta supaya aku di visum. Tadi dia mengatakan hanya berobat saja.
Sekali lagi aku tampak tak enak hati karena merepotkan Pak Andra.
"Baik Pak Andra, kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu ini" ucap sang dokter yang tampak patuh.
Walaupun umur nya jauh lebih tua di atas Pak Andra, tapi sang dokter tetap menghormatinya. Seperti nya mereka memang sudah saling mengenal.
Setelah semua selesai, lekas kami berjalan keluar dari rumah sakit.
Sampai di depan parkiran aku menghentikan langkahku.
Pak Andra pun ikut berhenti dan menatapku "kenapa berhenti, ayo!" Pak Andra menatapku heran.
Aku bingung mau pergi kemana, karena aku pun benar-benar tidak punya tujuan.
"Maaf Pak, saya bisa pergi sendiri. Tidak enak terlalu merepotkan Bapak, karena saya tahu Pak Andra adalah orang yang super sibuk" ucapku yang merasa tak enak.
__ADS_1
Pak Andra tampak mengernyitkan keningnya heran "memang kamu mau kemana? Saya tahu kamu tidak ada tujuan kan? Kamu tidak usah pikirkan saya yang repot atau gimana, sudah ayo ikut saya. Kita cari restauran dulu untuk makan, saya tahu cacing-cacing di perut kamu sudah demo sejak tadi" ujar Pak Andra.
Astaga, bagaimana Pak Andra bisa tahu? Mau menolak karena takut merepotkan, tapi aku tidak punya uang sepeserpun.
Mau tidak mau aku pun setuju.
Aku melanjutkan langkah ku mendahului Pak Andra yang terdiam menatapku bingung.
"Ayo Pak, cacing-cacing di perut saya sudah demo sejak semalam" ucapku pada Pak Andra.
Tampak Pak Andra tersenyum kecil dan melanjutkan langkah nya.
Kami mencari restauran yang dekat dari rumah sakit, akhirnya kami sampai di sebuah restauran.
Seorang pelayan menghampiri meja kami "Mau pesan apa Pak abu?" Ucapnya ramah.
"Kami pesan dua nasi goreng seafood spesial dan minuman nya dua hot lemon tea, tolong cepat ya" ucap Pak Andra yang sudah tahu menu favorit ku.
"Baik, silahkan ditunggu Pak Bu" ucap pelayan itu sambil berlalu meninggalkan meja kami.
"Bapak masih ingat saja makanan favorit saya" ucapku yang di angguki Pak Andra.
"Jelas dong, tapi benar kan itu yang mau kamu pesan? Kalau mau ganti juga boleh, atau mau tambah lagi?" ucap Pak Andra.
"Sudah Pak, itu saja" ucapku.
Setelah 10 menit pesanan kami akhirnya datang juga, aku langsung mengambil nasi goreng itu dan menyantapnya dengan lahap.
"Kalau kurang pesan lagi saja" ucap Pak Andra.
"Tidak Pak, ini sudah cukup" ucapku dengan makanan yang masih di mulut.
Selesai makan kami pun meninggalkan restauran, lagi-lagi aku bingung harus kemana.
Aku ingin ke rumah Mas Arvin, ingin bertemu Elmira putriku, tapi mungkin ini bukan saat yang tepat.
'Apa aku harus ke rumah Ibu nya Mas Arvin ya? Bukan kah selama ini Ibu dan adik-adiknya baik padaku? Setidaknya mereka kan wanita, pasti paham bagaimana perasaan ku. Baik lah aku akan ke rumah Ibunya Mas Arvin, aku harus menceritakan ini pada mereka' aku bergumam dalam hati.
Tapi... langkah ku terhenti seketika, mengingat perkataan Alexa bahwa mereka sudah menikah sejak tiga tahun yang lalu.
Berarti??? Ibu pasti sudah tahu, atau jangan-jangan Ibu ikut bersekongkol?
Sakit sekali rasanya, berarti selama ini mereka semua bersandiwara padaku. Mereka hanya berpura-pura baik saja.
__ADS_1
Tapi aku harus meminta penjelasan pada Ibu dan adik-adiknya Mas Arvin. Kalau memang ini semua hanya bagian dari sandiwara mereka, aku akan membalaskan rasa sakit hatiku karena telah di tipu dan di manfaatkan saja.
"Pak, apa bisa Bapak mengantarkan saya ke rumah Mertua saya?" Tanyaku yang membuat Pak Andra mengernyitkan kening nya.