
Aku pun masuk ke ruang ICU di mana Elmira di rawat. Ada rasa bahagia karena akhirnya aku pun bisa melihat putri ku setelah seminggu lebih tidak bertemu dengan nya. Tapi tidak bisa di pungkiri rasa sedih ku lebih besar saat melihat bayi kecil ku harus terbaring lemah di ranjang rumah sakit ini.
"Sayang, ini Mama nak. Mama sudah di sini, Mama berjanji akan menemani mu untuk melewati masa-masa sulit ini nak" ucap ku sambil mencium kening Elmira yang masih terlelap.
Ingin rasanya aku memeluk dan menggendong nya saat ini.
"Nanti kalau putri nya sudah bangun, Ibu sudah bisa memberi nya ASI ya Bu!" ucap Dokter Anwar.
"Iya Dok, terima kasih banyak sudah mengizinkan saya bertemu dengan putri saya lagi untuk memberikan nya ASI. Saya benar-benar berterima kasih pada Dokter" ucap ku.
"Sama-sama Bu, terlepas dari apa pun masalah Ibu dengan suami Ibu, tapi anak tetap lah yang menjadi prioritas kita. Semoga ke depan nya ini menjadi pelajaran berharga bagi kita Bu" balas Dokter Anwar sambil tersenyum ramah.
"Iya Dok, terima kasih" balas ku.
"Kalau begitu saya pamit dulu Bu" ucap Dokter Anwar sambil berlalu meninggalkan ruangan ini.
Lalu aku pun duduk di samping ranjang Elmira, menatapnya dalam sambil mengelus lembut pucuk kepala nya.
Rasa nya seperti mimpi bisa bertemu dengan putri ku lagi.
Air mata ku pun tak bisa berhenti untuk tidak jatuh.
Tiba-tiba Elmira bergerak dan menangis, "Sayang, ini Mama Nak. Mama sudah ada di samping Elmira. Mulai sekarang Mama akan selalu berada di samping Elmira, Mama akan berjuang untuk mempertahankan Elmira. Jadi Elmira harus cepat sembuh, bertahan ya nak!" ucap ku.
Aku pun segera keluar untuk memanggil perawat. Saat aku keluar, aku melihat Alexa dan Mas Arvin yang masih sibuk berdebat.
Tapi saat melihat ku, mereka langsung terdiam.
Aku memilih untuk tidak menggubris mereka, dan tetap berjalan memanggil perawat.
"Sus, bayi ku sudah bangun. Saya ingin memberi nya ASI, tapi saya bingung harus bagaimana menggendong nya karena masih terpasang selang infus" ucap ku.
__ADS_1
"Ayo Bu, saya akan melepas nya. Jika bayi Ibu sudah mendapatkan ASI nanti nya, Bayi Ibu tidak perlu di infus lagi. Tapi Ibu harus selalu berada di samping bayi nya, agar bayi Ibu tidak terdehidrasi ya Bu" ucap Suster tersebut.
"Iya Dok, pasti saya akan selalu menemani Bayi saya" ucap ku sambil melangkah mengikuti Suster tersebut.
"Vania, ada apa? kenapa kamu meninggalkan Elmira sendirian? Apa keadaan Elmira memburuk?" tanya Mas Arvin.
"Tidak ada masalah yang serius Mas" balas ku.
"Syukur lah" balas Mas Arvin merasa lega.
"Mas, kamu kenapa bisa berdua dengan dia?" tanya Alexa saat melihat aku dan Mas Arvin yang berjalan berdampingan.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar pertanyaan Alexa barusan.
Sangat jelas jika saat ini dia hanya memikirkan Mas Arvin, bukan Elmira.
'Sebegitu takut nya dia kehilangan Mas Arvin. Walaupun dia mengikhlaskan Mas Arvin pada ku, aku tidak akan pernah menerima nya lagi. Karena bagi ku penghianat tidak akan pernah bisa berubah' batin ku.
"Kan kamu bisa menanyakan nya di sini saja Mas, kenapa harus berdua saja dengan dia?" ucap Alexa.
"Untuk kali ini aku memohon pada mu Alexa, tolong jangan membuat keributan di sini. Aku sudah banyak pikiran karena keadaan Elmira, jadi kamu jangan menambah beban pikiran ku dengan kecemburuan mu yang tidak beralasan itu Alexa" ucap Mas Arvin.
"Tidak beralasan Mas? Apa kamu lupa jika dia mantan istri mu? Bagaimana aku bisa tenang jika kalian semakin sering bertemu seperti ini?" ucap Vania.
"Jika kamu hanya ingin mencari keributan, lebih baik kamu pergi saja dari sini" balas Mas Arvin.
"Apa?? Jadi kamu mengusir aku dari sini demi perempuan ini Mas?" Alexa membelalakkan mata tak percaya dengan ucapan Mas Arvin barusan.
Malas melihat mereka berdebat, aku memilih untuk masuk ke ruang ICU di mana Elmira di rawat.
Saat aku berjalan dekat dengan Alexa, tiba-tiba Alexa menarik tangan ku dan menampar pipi ku dengan kuat hingga aku terhuyung dan kehilangan keseimbangan ku.
__ADS_1
Saat aku hampir terjatuh, tiba-tiba ada yang menahan tubuh ku. Ternyata Pak Andra yang berhasil menahan tubuh ku agar tidak sampai jatuh.
"Pak Andra" ucap ku sedikit terkejut melihat Pak Andra yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Ini peringatan terakhir saya, jika kamu berani berbuat kasar pada Vania, aku akan melaporkan mu pada polisi" Pak Andra menatap tajam pada Alexa.
"Kamu pikir aku takut dengan ancaman mu itu? Sama sekali tidak Andra." balas Alexa tanpa merasa takut sedikit pun.
"Terima kasih banyak Pak karena selalu datang di saat yang tepat. Tapi saya harus ke dalam dulu untuk menemui putri ku, saya permisi pak" ucap ku sambil berlalu dan tak menggubris Alexa yang menatap ku sinis.
"Bu, ini bayi nya sudah bisa di beri ASI ya, kalau gitu saya pamit keluar dulu ya Bu" ucap perawat tersebut.
"Iya sus, terima kasih banyak" ucap ku.
Aku segera menggendong Elmira dan memeluk nya. "Nak, ini Mama. Elmira harus sehat ya! Kalau Elmira sembuh, Mama akan membawa Elmira tinggal dengan Mama saja. Mama akan berjuang untuk mendapat kan hak asuh Elmira" ucap ku sambil mencium kening putri mungil ku tersebut.
Tiba-tiba Elmira memegang jari telunjuk ku dengan erat, aku sangat terharu hingga tak bisa menahan tangis ku yang tadi sudah sempat reda.
Aku pun segera menyusui Elmira, dan ternyata Elmira menyusu dengan lahap nya.
'Ya Tuhan, seperti ini saja aku sudah sangat bahagia. Hanya bisa melihat putri ku setiap hari nya, itu sudah lebih dari cukup.
Aku tidak menuntut hal yang lebih dari itu, tapi izinkan aku merawat Elmira untuk seterus nya Tuhan' gumam ku dalam hati.
Setelah lima belas menit menyusui Elmira, akhirnya Elmira pun kembali terlelap.
Aku segera membaringkan nya di ranjang, duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang nya dan membelai lembut pucuk kepala nya.
"Tidur lah sayang dan mimpi indah, Mama akan menemani Elmira di sini" ucap ku.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan tampak Alexa yang berdiri di daun pintu menatap ku dengan tatapan yang sinis.
__ADS_1
'Apalagi sih mau nya? Padahal aku sedang tidak mood untuk berdebat saat ini' batin ku.