Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Ungkapan Hati


__ADS_3

Aku melihat Pak Andra mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah.


Hanya melihat dari kotak nya saja aku sudah bisa menebak jika di dalam nya adalah cincin.


Lalu Pak Andra membuka kotak itu, dan seperti dugaan ku, benar jika itu adalah cincin.


Aku melihat cincin yang bermata berlian itu sangat lah indah, dan bisa di pastikan harga nya juga pasti sangat mahal.


"Bagaimana menurut mu Vania, apakah cincin ini cantik?" Tanya Pak Andra pada ku.


Pak Andra tidak tahu saja jika pertanyaan nya barusan sangat membuat hati ku perih.


Tapi aku kembali berpikir positif, mencoba untuk mensugesti diri sendiri jika aku tidak boleh egois.


"Iya Pak, cincin nya sangat cantik. Aku yakin dia pasti akan menyukai nya" balas ku tersenyum mencoba menutupi hati yang saat ini sedang terluka.


"Kalau kamu sudah mengatakan seperti itu, aku pun jadi yakin dia pasti akan menyukai nya" balas Pak andra.


Aku pun tersenyum menanggapi perkataan Pak Andra barusan.


Saat aku sibuk berperang dengan pikiran ku sendiri, tiba-tiba aku terkejut dengan perlakuan Pak Andra.


Secara tiba-tiba Pak Andra meraih tangan ku dan menggenggam nya. Sontak itu membuat ku terkejut.


Baru saja Pak Andra mengatakan akan menyatakan perasaan nya pada seorang wanita, tapi bisa-bisa nya Pak Andra memegang tangan ku dan menatap ku dengan tatapan yang sulit ku arti kan.


"Pak, ini kenapa ya?" ucap ku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Pak Andra.


Bukan nya aku tidak suka jika Pak Andra menggenggam tangan ku.


Hanya saja aku tidak mau terlalu berharap dengan harapan yang palsu.


Tapi semakin aku berusaha melepaskan genggaman tangan ini, Pak Andra semakin kuat menggenggam tangan ku.


"Pak kenapa harus menggenggam tangan ku seperti ini? Bukan kah tadi Pak Andra sudah berencana akan menyatakan perasaan pada wanita yang Pak Andra cintai itu?" tanya ku lagi.


Mendengar itu, seketika genggaman tangan Pak andra pun melemah. Entah kenapa wajah yang tadi nya berseri-seri tiba-tiba menunjukkan raut wajah kecewa.

__ADS_1


Bukan bermaksud ingin membuat Pak Andra kecewa, hanya saja aku tidak ingin berharap lebih.


"Vania, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan nya nanti jika aku mengatakan ini pada mu.


Tapi, seperti kata mu tadi lebih baik mencoba dari pada menyesal di kemudian hari.


Setidak nya aku harus berusaha untuk memperjuangkan cinta ku.


Aku tidak mau kejadian yang sebelum nya terulang kembali karena aku yang tidak punya keberanian untuk mengungkap kan perasaan ku.


Jadi, kali ini aku akan memberanikan diri untuk menyatakan perasaan ku yang sudah lama ku simpan pada mu, jauh sebelum kamu mengenal Arvin.


Ya, sejak pertama kali aku melihat mu, aku sudah jatuh hati pada mu Vania" ungkap Pak Andra.


Mendengar itu, sontak hati ku terkejut. Bagaimana tidak? Aku yang awal nya tidak pernah kepikiran jika wanita yang di maksud Pak Andra itu adalah diriku sendiri, tiba-tiba mendengar ungkapan hati Pak Andra secara tiba-tiba seperti ini.


Tapi di balik rasa terkejut ku, aku juga merasakan bahagia yang tak dapat ku ungkap kan dengan kata-kata.


Aku yang sejak dulu sudah kagum pada Pak Andra walaupun awal nya hanya sebagai rekan kerja, tapi semenjak aku berpisah dari Mas Arvin, entah kenapa perasaan kagum itu berubah menjadi rasa suka atau sayang.


Dan mungkin itu karena semua perlakuan Pak Andra yang selama ini selalu ada untuk ku, entah itu dalam keadaan suka dan duka.


"Vania....." panggil Pak Andra sembari menggenggam erat tangan ku.


Tapi kali ini aku tidak melakukan perlawanan seperti tadi.


"Aku tahu kamu pasti terkejut dengan ungkapan ku barusan. Tapi kalau boleh jujur, selama ini aku menyayangi mu bukan karena ssbatas rekan kerja.


Tapi aku menyayangi mu layak nya seorang wanita dan pria. Jadi, aku ingin tahu seperti apa respon mu setelah mendengar ini.


Jujur, yang ku cari saat ini bukan lah pacar, melain kan seorang istri.


Jadi, mau kah kamu menjadi istri ku Vania?" tanya Mas Andra.


Seketika jantung ku bedegub kencang tak karuan, hal yang tidak pernah ku duga, akhir nya menjadi kenyataan.


"Pak, jujur aku sangat terkejut dengan apa yang Pak Andra kata kan barusan.

__ADS_1


Aku masih tidak menyangka jika Bapak menyimpan perasaan pada ku. Hal yang di luar dari mimpi ku, bahkan untuk bermimpi pun aku tidak berani.


Pak Andra sendiri pun tahu seperti apa kondisi ku saat ini. Aku bukan lah gadis lagi, melainkan seorang janda beranak satu.


Ada rasa minder dan juga tidak pantas untuk hidup berdampingan dengan Pak Andra.


Kita sangat jauh berbeda Pak, bagai langit dan bumi. Jujur, aku takut untuk menjalani hubungan itu. Terlebih aku yang memiliki trauma dengan rumah tangga ku yang pertama. Aku takut kejadian itu akan terulang kembali" balas ku panjang lebar.


Mendengar penjelasan ku, Pak Andra pun menyunggingkan senyuman sembari menatap ku.


"Sekarang aku tanya pada mu Vania, bagaimana perasaan mu pada ku? Apakah kamu merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan?" Pak Andra pun balik bertanya.


Membuat ku bingung harus mengatakan apa.


Tapi mungkin lebih baik aku jujur saja dengan perasaan ku saat ini.


"Sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama dengan Pak Andra" balas ku.


"Lalu, apakah kamu siap menjadi istri ku?" tanya Pak Andra menatap ku dalam.


Tanpa menunggu lama lagi, aku pun menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Aku tidak mengerti Vania, apa kamu bisa mengatakan langsung pada ku?" tanya Pak Andra.


"Iya Pak, aku setuju untuk menjadi Istri Pak Andra" jawab ku.


Seketika Pak Andra langsung memeluk ku, membawa ku ke dalam pelukan hangat nya.


Dan hal itu membuat ku sontak terkejut karena di peluk secara tiba-tiba.


"Aku sangat bahagia mendengar jawaban kamu Vania. Sudah lama aku ingin mengatakan ini, jauh sebelum kamu mengenal Arvin. Tapi aku terlalu pengecut untuk berani mengungkap kan perasaan ku pada mu" ucap Pak Andra tanpa mau melepas pelukan nya.


"Andai saja sejak dulu aku berani mengatakan nya, dan tidak menjadi lelaki yang pecundang, mungkin saja kita sudah hidup bahagia. Dan mungkin kamu tidak akan sempat mengenal Arvin apalagi sampai menikah dengan nya.


Andai saja saat itu aku punya keberanian, mungkin penderitaan yang kamu alami sekarang tidak akan pernah menimpa mu" ucap Pak Andra dengan suara yang parau.


Aku mencoba melepaskan pelukan ini untuk memastikan apakah Pak Andra sedang menangis atau tidak, tapi Pak Andra seolah tidak mengizinkan ku untuk melepasnya.

__ADS_1


"Biar kan kita seperti ini sebentar saja Vania" ucap Pak Andra sembari mengencangkan pelukan nya.


__ADS_2