Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Berjuang bersama


__ADS_3

Setelah aku menerima uang dari Pak Joko, aku bergegas berlari mencari taksi.


Hingga beberapa saat menunggu, tapi taksi tak kunjung datang juga.


Akhir nya aku memutuskan untuk berlari ke arah jalan yang di tunjuk Pak Joko tadi, berharap ada taksi yang lewat.


Hingga beberapa meter berlari, akhir nya aku melihat cahaya dari lampu mobil yang berjalan menuju ke arah ku.


Bersyukur yang ku lihat itu adalah taksi, aku segera menghentikan taksi tersebut.


Setelah taksi berhenti, aku pun naik dan menyebut kan arah tujuan ku.


Selama di perjalanan, aku selalu khawatir memikirkan Vania.


'Vania, kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan ku?


Apa Vania mendengar pertengkaran ku dengan Papa dan Mama tadi, sehingga membuat nya sakit hati?' gumam ku.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhir nya aku pun sampai di depan gedung apartemen ku.


"Ini Pak, ongkos nya" aku menyodorkan selembar uang berwarna merah yang ku minta dari Pak Joko tadi kemudian bergegas keluar dari taksi.


"Ini kembalian nya Pak.." ucap supir taksi tersebut, tapi aku mengabaikan nya dan tetap pergi begitu saja.


Aku berlari dengan cepat menuju apartemen ku, berharap jika Vania memang berada di sana.


Hingga akhir nya aku sudah berada di depan pintu apartemen ku, tanpa memencet bel terlebih dahulu, aku pun langsung masuk begitu saja.


Setelah aku masuk ke dalam, aku mencari ke kamar Vania, tapi tidak menemukan keberadaan nya di sana.


Aku juga memeriksa toilet yang ada di dalam kamar nya, tapi toilet itu kosong.


Aku memeriksa lemari pakaian Vania, tapi lemari itu masih berisi pakaian Vania.


Tapi walaupun begitu, tetap membuat rasa khawatir ku hilang.


"Vania... kamu di mana? Apa kamu di sini?" teriak ku, tapi tidak ada balasan apa-apa.


Pikiran ku semakin kacau, tapi aku tetap memutuskan untuk mencari Vania ke semua sudut ruangan.


"Vania....." ucap ku sekali lagi, dan masih tetap tidak ada balasan.

__ADS_1


Setelah semua tempat ku cari, sampai tidak ada tempat yang terlewatkan di sudut rumah ini, tapi tetap saja Vania tidak ada.


Aku terduduk lemas di lantai sambil menangis, rasa nya kepala ku mau pecah karena memikirkan ini semua.


Baru saja merasakan kebahagiaan, hanya dalam sekejap kebahagiaan itu pun sirna.


Aku bingung harus mencari Vania kemana lagi, apalagi sekarang sudah malam dan Vania juga membawa Elmira yang masih bayi.


"Vania, kamu di mana? Kemana aku harus mencari mu?" ucap ku.


Tak lama kemudian, aku mendengar seperti suara pintu yang terbuka, aku bergegas berdiri untuk memeriksa. Berharap jika itu adalah Vania.


Seketika hati ku lega saat melihat wanita yang ku harap kan sudah berdiri di daun pintu dengan kondisi yang memprihatin kan.


Mata nya yang sembab, tidak bisa menutupi jika dia sudah terlalu lama menangis.


Tanpa aba-aba, aku langsung menghampiri Vania dan memeluk nya.


Aku sengaja memeluk nya tidak erat karena posisi nya yang sedang menggendong Elmira.


"Vania, kamu kemana saja? Aku mencari-cari mu sejak tadi, kenapa kamu meninggalkan ku begitu saja?" ucap ku sambil membelai rambut nya dengan lembut.


Vania tidak menjawab, tapi aku bisa mendengar nya seperti menahan tangis.


Vania masih tetap diam, sehingga aku pun melepas pelukan ku dan menatap Vania.


Aku melihat wajah Vania yang sudah sangat basah oleh air mata nya.


Segera aku mengusap lembut wajah nya yang sudah di banjiri air mata.


Terasa wajah nya yang sangat dingin saat ku sentuh, aku juga menyentuh wajah Elmira yang sama saja dingin seperti Vania.


"Vania, sebaiknya kalian masuk dulu. kalian pasti kedinginan setelah dari luar apalagi malam-malam begini" ucap ku sambil membawa Vania untuk melangkah ke dalam.


Walaupun Vania tidak menjawab, tapi dia tetap mau mengikuti ku untuk masuk ke dalam.


"Duduk dulu Vania" ucap ku, dan Vania pun duduk di sofa.


Aku melihat Elmira yang sedang tidur terlelap di gendongan Vania.


"Sini, Elmira pasti lelah karena sejak tadi kamu menggendong nya terus. Biar ku baring kan di box bayi saja" aku pun membuka ikatan gendongan jarik yang di gunakan Vania dan mengambil Elmira dari gendongan nya.

__ADS_1


Aku segera membawa Elmira ke kamar lalu meletakkan nya di box bayi, menyelimuti tubuh mungil nya yang masih kedinginan karena tadi terkena angin malam.


Bahkan setelah Elmira sudah terlelap di Box bayi, dia masih tetap terlelap dan tidak terbangun.


Setelah memastikan Elmira aman dan terlelap, aku pun menyusul ke ruang tamu di mana Vania duduk.


"Vania.." ucap ku sambil berlutut di hadapan Vania dan menggenggam tangan nya.


"Kenapa kamu ke sini? Seharusnya kamu tetap di rumah mu menemani orang tua mu" ucap Vania memulai pembicaraan.


"Tidak Vania, mulai sekarang aku akan selalu menemani mu" jawab ku sehingga membuat Vania menatap ku keheranan.


"Kenapa? Aku tidak mau membuat mu jadi anak yang pembangkang pada orang tua, apalagi hanya karena aku" jawab Vania.


"Apa kamu mendengar semua yang di katakan orang tua ku tadi?" tanya ku, dan Vania pun mengangguk.


Aku pun langsung bangkit, dan duduk di samping Vania lalu merangkul nya.


"Kamu tidak perlu memikirkan semua yang di katakan orang tua ku Vania. Bagi ku, yang terpenting adalah tetap bersama mu selama nya. Bukan kah kita tadi sudah berjanji akan tetap memperjuangkan cinta kita sebesar apa pun masalah yang kita hadapi?" ucap ku.


"Tapi bagi ku itu terlalu berat, aku juga merasa bersalah karena kamu jadi bertengkar dengan orang tua mu" ucap Vania.


Aku pun melepaskan pelukan ku.


"Kamu tenang saja, mungkin saat ini Mama dan Papa ku sedang marah. Tapi aku percaya suatu saat nanti orang tua ku pasti akan menerima mu" balas ku.


"Tapi bagaimana dengan mu?" tanya Vania lagi.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu Vania. Dengan atau tanpa restu orang tua ku, aku akan tetap menikahi mu, dan aku akan memperjuangkan mu apa pun yang terjadi. Jadi, tolong tetap lah bertahan dengan ku Vania, kita sama-sama memperjuangkan cinta kita, kamu mau kan?" ucap ku sambil menggenggam tangan nya.


Agak lama Vania berpikir sebelum menjawab pertanyaan ku.


Aku tahu jika saat ini dia hanya merasa bersalah dan tidak enakan karena mendengar perdebatan ku dengan Mama dan Papa.


"Baik lah, aku mau. Aku akan tetap bersama mu, dan kita bersama-sama memperjuangkan cinta kita.


Aku pun sangat berharap jika Mama dan Papa mu akan menerima ku suatu saat nanti.


Maafkan aku, karena aku sudah membuat banyak masalah dalam hidup mu.


Dan membuat mu bertengkar dengan orang tua mu.

__ADS_1


Tadi nya aku sangat takut, jika kamu akan meninggalkan ku.


Tapi aku juga gak mau jadi wanita yang egois karena hanya memikirkan perasaan ku saja" ucap Vania dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2