Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Permintaan Mama dan Papa


__ADS_3

( POV Andra )


Akhir nya Tasya dan kedua orang tua nya pun pergi, sehingga suasana di rumah ini pun semakin mencekam.


Belum ada yang berani memulai untuk berbicara.


Aku benar-benar sangat terkejut dengan apa yang terjadi hari ini, tentang kedatangan Tasya yang tiba-tiba ke rumah ini dan juga tentang perjodohan kami.


Semua itu di luar dari nalar ku karena aku dan Tasya selama ini hanya lah sebatas teman, tidak lebih dari itu.


Aku bahkan sudah menganggap Tasya sebagai adik ku sendiri, jadi hanya ada perasaan sayang sebatas kakak dan adik.


Aku tidak pernah memiliki perasaan layak nya seorang pria dan wanita pada Tasya, dan itu tidak akan mungkin terjadi.


Aku juga sangat kecewa dengan Papa dan Mama yang sudah mengambil keputusan sendiri, bahkan tidak pernah memberitahu ku sebelumnya tentang rencana perjodohan ini.


Semua terjadi secara tiba-tiba, sehingga membuat ku sedikit terkejut tadi nya.


Aku juga kasihan dan merasa bersalah pada Vania, karena aku, dia harus melalui ini dan mendengar semua hinaan pada diri nya.


Semua nya hanya menyalahkan status Vania, yang bagi ku itu bukan lah hal yang penting.


"Andra, sebaiknya kita bicara kan ini, dan ikut Papa sekarang" ucap Papa sambil melirik sinis ke arah Vania.


Aku tidak tega melihat Vania di perlakukan seperti ini, ini semua di luar rencana kami.


Seandainya aku tahu jika di rumah sedang ada Tasya dan keluarga nya, mungkin aku akan menunda dulu mengajak Vania ke rumah ini.


Dan Vania tidak akan melalui hal sulit seperti ini, apa lagi dihina dan di rendahkan.


"Vania, kamu tunggu di sini dulu. Aku akan berbicara pada Papa dan berusaha membujuk nya untuk menerima mu dan merestui kita" ucap ku sambil Memegang tangan Vania yang tampak gemetar, terlihat dia sangat ketakutan saat ini.


Bahkan sejak tadi Vania hanya bisa menunduk, tanpa berani melihat siapa-siapa.


Aku benar-benar tidak tega melihat nya seperti ini.


Vania pun menatap ku dan hanya mengangguk kan kepala.


Papa dan Mama sudah pergi terlebih dahulu, aku pun menyusul ke ruang kerja Papa.


Ya, biasa nya Papa akan mendiskusikan sesuatu di ruangan kerja nya.

__ADS_1


Sebelum aku pergi, aku masih sempat menoleh pada Vania.


Saat aku sudah sampai di ruang kerja Papa, aku langsung mengetuk pintu nya dan masuk ke dalam.


Ternyata benar, Papa dan Mama sudah duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja Papa.


Mama dan Papa hanya terdiam, tampak suasana tegang di antara mereka.


Saat aku masuk ke ruangan ini, tatapan Mama dan Papa sangat tajam pada ku, aku pun segera duduk berhadapan dengan mereka.


"Andra, sebenarnya apa yang ada di pikiran mu saat ini? Papa sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran mu.


Bisa-bisa nya kamu menyukai pegawai kamu sendiri dan berniat menikahi nya?


Di mana pikiran mu Andra?" ucap Papa dengan intonasi yang tinggi.


"Apa salah nya jika aku mencintai Vania Pa? Vania adalah wanita yang baik, Andra sudah cukup lama mengenal Vania, dan pasti sudah lebih tahu seperti apa karakter Vania" jawab ku.


"Tapi bukan berarti kamu harus menikahi nya Andra. Kamu tahu sendiri status Vania sekarang itu bagaimana, tidak mungkin kamu menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak.


Mau di taruh di mana wajah papa nanti nya?


"Andra, Mama tahu jika kamu sudah lama mengenal Vania.


Mama juga menilai Vania adalah wanita yang baik, cerdas, sopan dan bisa di andal kan bekerja di perusahaan kita.


Mama juga kagum pada Vania, tapi rasa kagum Mama hanya sebatas rasa kagum pada pegawai kita, tidak lebih dari itu.


Mama bukan nya tidak suka pada Vania, Mama suka pada nya, tapi bukan untuk sebagai menantu.


Jika selama ini kamu merasa tertekan karena kami selalu meminta mu untuk segera menikah, bukan berarti kamu harus mencari jalan pintas untuk menikahi Vania" ucap Mama dengan nada yang masih lembut.


"Papa tidak mau tahu Andra, kamu masih belum terlambat. Secepatnya kamu mengambil keputusan yang tepat, tinggalkan Vania. Jika memang kamu menyayangi nya, Kamu harus pikirkan juga ke depan nya nanti seperti apa untuk Vania.


Banyak orang-orang yang akan mencemooh dan menghina Vania, orang-orang akan bergunjing membicarakan Vania karena menikah dengan mu.


Mereka akan menilai Vania adalah wanita yang tidak baik karena belum lama bercerai tapi sudah berani mendekati atasan nya sendiri.


Seolah pernikahan pertama nya itu berakhir karena orang ketiga ,yang tak lain adalah kamu.


Orang-orang tidak akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena mereka lebih percaya pada apa yang di lihat nya dan ada yang ada di pikiran nya.

__ADS_1


Apa kamu mau seperti itu?


Itu sama saja kamu akan merusak mental Vania jika memaksakan untuk menikah dengan nya.


Ini belum terlambat untuk kamu Andra, ambil lah keputusan yang tepat. Keputusan yang terbaik untuk mu dan juga Vania.


Tinggal kan dia, bicara kan baik-baik pada nya, Papa yakin dia akan mengerti" ucap Papa yang mulai berbicara dengan lembut.


"Keputusan yang terbaik untuk siapa Pa? untuk kami atau untuk Papa?" tanya ku.


Aku tidak menyangka jika Papa yang selama ini ku bangga kan dan ku kagumi memiliki sifat yang picik seperti ini.


Selama ini aku menilai Papa adalah orang tua yang tegas, berwibawa dan juga bijaksana.


Bukan hanya di rumah, tapi di kantor juga Papa termasuk atasan yang patut di acungi jempol karena bijaksana.


"Andra, kamu jangan sekali-kali membantah Papa. Papa melakukan ini karena ingin yang terbaik untuk mu dan juga masa depan mu. Ingat Andra, orang tua Tasya itu sudah sangat berjasa dengan keluarga kita. Jika bukan karena mereka yang membantu Papa saat perusaahan kita sedang berada di ujung tanduk, mungkin kita sudah jadi gembel dan kamu tidak akan pernah merasakan kemewahan yang saat ini kamu nikmati" ucap Papa.


"Jadi Papa mau menjual ku demi membalas budi pada orang tua Tasya? Papa tega melihat ku hidup tidak bahagia dengan menikahi orang yang tidak Andra cintai?


Percuma memaksakan pernikahan dengan Tasya Pa, karena Tasya tidak akan pernah bisa hidup bahagia dengan ku walaupun dia sudah memiliki ku.


Mungkin Tasya bisa memiliki raga ku, tapi tidak dengan hati ku.


Apa Papa juga tidak memikirkan itu?" ucap ku.


"Andra, tolong nak dengar kan Papa dan Mama mu ini, jangan keras kepala dan egois. Kamu hanya memikirkan perasaan mu saja, tidak memikirkan perasaan kami sebagai orang tua mu.


Apa kamu rela membuat sakit hati orang tua yang sudah memberi kehidupan pada mu, membesarkan mu, menyayangi mu, dan memberi kebahagiaan dan kemewahan untuk mu demi perempuan yang hanya kamu kenal selama kurang lebih sepuluh tahun?" ucap Mama dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak Ma, aku tidak ingin membuat hati Mama dan Papa sakit. Tapi Andra juga berhak hidup bahagia dengan Vania.


Selama bertahun-tahun Andra menyimpan hati dengan Vania, bahkan jauh sebelum dia mengenal mantan suami nya.


Dan sekarang, dengan semudah itu Andra menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki Vania seutuh nya? Tidak Ma, pilihan Andra satu-satu nya hanya lah Vania, Andra tidak ingin menikah dengan wanita lain selain Vania.


Jika Andra tidak bisa menikah dengan Vania, lebih baik Andra tidak usah menikah selama nya" ucap ku dengan tegas.


Plaaakkkk


Akhir nya satu tamparan pun mendarat di pipi ku, Papa menatap ku tajam. Bahkan wajah nya tampak bergetar karena menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2