
"Cukup, sudah cukup aku mendengar semua omong kosong kalian. Selama ini aku diam saja saat kalian hina dan memperlakukan ku layak nya seonggok sampah, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam saja melihat kalian semakin menginjak-injak ku" ucap ku.
"Apa? Memang kamu siapa sampai berani-berani nya bicara dengan menaikkan suara mu pada kami?" ucap Ibu Mas Arvin.
"Kamu pikir aku akan memberikan Elmira pada mu begitu saja? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak akan mengizinkan nya" balas Alexa.
Plaaakkkk
Tangan ku melayang begitu saja pada wajah Alexa, Alexa pun menatap ku seakan bersiap-siap akan menerkam ku.
"Hey, berani sekali tangan mu yang kotor itu menyentuh wajah putri ku? Aku sudah cukup sabar menghadapi sikap mu sejak tadi, apa harus aku memasukkan mu kembali ke sel penjara agar kamu mendekam di sana selama nya" ucap Pak Brama menatap ku dengan tatapan yang tajam.
"Heh, perempuan sint1ng. Sebelum kesabaran kami habis, pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali lagi ke sini dengan alasan ingin menolong Elmira. Tanpa kamu pun kami bisa mengusahakan yang terbaik untuk Elmira" teriak Ibu Mas Arvin.
"Kalian tidak berhak mengatur hidup ku, aku tidak akan pernah pergi dari sini. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Elmira di asuh oleh manusia seperti kalian. Dan masalah Mas Arvin, aku tidak peduli dengan nya. Aku sudah jelas-jelas mengatakan sedikit pun aku tidak menginginkan untuk kembali rujuk dengan Mas Arvin. Aku hanya ingin Elmira kembali ke pelukan ku" ucap ku.
"Tidak Vania, kita masih bisa memperbaiki rumah tangga kita, dan kita akan membesarkan Elmira bersama-sama. Elmira pasti membutuhkan keluarga yang utuh, dan aku hanya bisa menjalani rumah tangga yang bahagia hanya dengan mu" ucap Mas Arvin.
Perkataan Mas Arvin barusan membuat ku semakin terpojok, entah apa yang ada di pikiran Mas Arvin saat ini. Begitu mudah nya dia mengatakan itu di depan keluarga nya.
"Mas Arvin!! Apa yang kamu kata kan?" teriak Alexa.
"Arvin, apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah gila? Sedikit pun Ibu tidak Sudi jika kamu kembali pada perempuan ini" ucap Ibu Mas Arvin.
"Bu, tolong mengerti perasaan ku sedikit saja. Selama ini aku melakukan apa pun yang Ibu mau, tapi Ibu tidak peduli akan perasaan ku." ucap Mas Arvin.
"Arvin, kamu sudah keterlaluan. Kamu bahkan tidak menghargai ku selaku mertua mu di sini. Aku tidak akan membiarkan kamu mempermainkan kan putri ku seperti ini. Alexa, sebaiknya kita pulang saja. Kamu tidak perlu mengemis-ngemis cinta pada lelaki tidak tahu diri seperti dia. Apa yang kamu harapkan dari nya? Dia bahkan tidak punya uang sepeser pun jika bukan karena mu" ucap Pak Brama.
"Pa, Alexa mencintai Mas Arvin. Tidak mudah bagi Alexa untuk meninggalkan Mas Arvin. Bagaimana pun cara nya, Alexa akan mempertahankan rumah tangga Alexa dengan Mas Arvin" ucap Alexa.
__ADS_1
"Iya Pak Brama, tolong maafkan anak saya. Dia pasti saat ini sedang emosi sehingga tidak bisa berpikir jernih. Perempuan itu pasti sudah meracuni pikiran Arvin" Ibu Mas Arvin menatap ku tajam dan menghampiri ku.
Saat sudah berada di dekat ku, Ibu Mas Arvin pun langsung menarik tangan ku begitu saja.
"Pergi kau dari sini, aku tidak mau melihat wajah mu lagi. Sudah cukup kamu menghancurkan rumah tangga anak ku" teriak Ibu Mas Arvin sambil menarik paksa tangan ku agar pergi.
Kemudian Ibu Mas Arvin pun menghempaskan tangan ku lalu mendorong ku hingga terjatuh.
"Pergi dari sini, atau aku akan melakukan hal yang lebih kejam lagi pada mu" ucap Ibu Mas Arvin.
"Bu, kenapa kasar gitu sih. Sampai-sampai pakai kekerasan segala, seperti tidak punya hati saja" ucap seseorang yang merupakan pengunjung rumah sakit.
"Eh, kamu tak usah ikut campur. Kalian tidak tahu dia itu seperti apa" ucap Ibu Mas Arvin.
"Kalau Ibu tidak mau orang lain ikut campur, jangan cari masalah di tempat umum dong." ucap yang lain nya.
"Aku gak butuh komentar kalian. Urus saja diri sendiri" ucap Ibu Mas Arvin sambil berlalu begitu saja.
"Vania!!" tiba-tiba Pak Andra datang menghampiri ku.
"Kamu kenapa Vania? Kenapa sampai duduk di lantai seperti ini?" tanya Pak Andra khawatir.
"Itu, mereka semua jahat sekali pada adik ini." ucap Salah seorang wanita.
Pak Andra menatap ke arah di mana Alexa dan Mas Arvin berada.
"Ini, bawa barang butut kamu ini. Dan jangan pernah menunjukkan wajah mu lagi di depan kami" Ibu Mas Arvin kembali lalu mencampakkan tas ku ke lantai dan pergi begitu saja.
Pak Andra pun membawa ku untuk bangkit berdiri.
__ADS_1
"Pak, aku tidak bisa meninggalkan Elmira begitu saja. Aku akan tetap di sini menemani nya, tidak peduli mereka akan melakukan apa saja pada ku" ucap ku sambil menangis.
"Kamu tenang saja Vania, aku akan memastikan jika mereka yang akan pergi dari sini, bukan kamu" ucap Pak Andra.
"Sekarang kamu tenang, tidak usah takut, ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti mu sedikit pun" ucap Pak Andra.
Aku tidak tahu apa maksud perkataan Pak Andra, tapi mendengar ucapan nya, aku sedikit lega.
Aku melihat Pak Andra mengeluarkan ponsel dari saku nya dan menelepon seseorang yang tidak ku ketahui siapa.
"Halo, Dokter di mana sekarang? Saya ingin mengatakan sesuatu yang penting" ucap Pak Andra.
"Baik, saya akan ke sana sekarang Dok" Pak Andra pun mengakhiri panggilan telepon nya.
"Vania, ayo ikut aku" ucap Pak Andra.
Aku pun mengikuti nya, seketika Alexa, Mas Arvin dan Ibu nya menatap ku. Tapi aku tidak melihat lagi keberadaan Pak Brama di situ.
Kami pun sampai di depan ruangan Dokter Anwar yang sebelum nya pernah ku datangi.
Sebelum masuk Pak Andra mengetuk pintu dan masuk begitu saja, "Ayo masuk Vania" ucap Pak Andra.
Aku pun mengikuti langkah Pak Andra hingga akhirnya kami sudah berada di depan meja kerja Dokter Anwar.
"Dokter, saya minta tolong agar Vania tetap mendampingi putri nya Elmira. Dan untuk keluarga Elmira yang lain nya, tolong Dokter usir dari sini karena mereka sudah menyebabkan keributan di Rumah sakit ini. Vania yang lebih pantas mendampingi putri nya sini, karena Elmira juga sangat membutuh kan nya" ucap Pak Andra.
Mendengar perkataan Pak Andra, Dokter Anwar pun manggut-manggut.
"Baik lah, saya akan meminta perawat dan beberapa pihak keamanan untuk meminta mereka pergi dari sini" balas Dokter Anwar.
__ADS_1
Seketika hati ku lega mendengar nya, untuk kesekian kali nya Pak Andra selalu datang di saat yang tepat untuk menolong ku.