
Aku membuka mata ku dan menatap ke langit-langit ruangan tempat ku berada.
Aku melihat di samping ku ada Pak Andra yang menggenggam tanganku yang terpasang selang infus.
"Pak, Pak Andra" ucap ku lemah.
Seketika Pak Andra menggerak kan kepala nya dan melihatku, bahkan dia menjaga ku sampai tertidur dengan posisi duduk di kursi yang ada di samping ranjangku.
"Vania, kamu sudah sadar?" Bagaimana keadaan mu? Apa kamu baik-baik saja" tanya Pak Andra padaku.
Aku menganggukkan kepala "Saya baik-baik saja Pak" ucapku membalas.
"Sebentar saya panggilkan Dokter dulu" ucapnya sambil berlalu.
Beberapa saat kemudian Pak Andra datang dengan seorang dokter.
"Dokter, teman saya sudah sadar. Tolong periksa lagi kondisinya" ucap Pak Andra pada dokter tersebut.
"Baik, sebentar saya periksa dulu" balas dokter tersebut.
"Tekanan darah Bu Vania naik, mungkin anda sedang banyak pikiran ya? bagaimana perasaan anda sekarang?" Tanya dokter itu setelah selesai memeriksa ku.
"Saya baik-baik saja Dok, hanya sedikit pusing saja, apa saya bisa pulang sekarang juga Dok?" Tanya ku lagi.
"Sudah Bu, tapi saya sarankan Ibu jangan terlalu banyak pikiran untuk saat ini. Dan banyak beristirahat dulu, semoga lekas membaik ya Bu" ucap sang Dokter ramah.
Akhirnya kami pulang dan meninggalkan rumah sakit ini.
Aku masih bingung karena tidak punya tujuan lagi, sementara aku tidak memiliki uang sepeser pun.
"Saya punya apartemen kosong, kamu bisa menempatinya sementara waktu. Saya tahu kamu tidak punya tujuan untuk saat ini" ucap Pak Andra yang bisa menebak pikiran ku.
"Tidak Pak, itu hanya merepotkan Pak Andra saja. Saya tidak mau jadi beban untuk Bapak" balas ku.
Pak Andra menatap ku seketika "Siapa bilang saya repot dan merasa terbebani? Kamu bisa tinggal di apartemen saya sampai kapan pun kamu mau, hitung-hitung merawat dan membersihkan apartemen saya, dari pada kosong tidak berpenghuni."
Aku masih terdiam sambil berpikir untuk menerima tawaran Pak Andra, aku merasa tidak enak sebab Pak Andra sudah terlalu banyak menolong ku.
Akhirnya aku menerima tawaran dari Pak Andra. Pak Andra pun melajukan mobil nya menuju Apartemen tersebut.
Ketika di mobil, aku lebih banyak diam. Pikiran ku tertuju pada Elmira, bagaimana keadaan nya, apa dia baik-baik saja. Aku sangat merindukan nya. Seketika air mata ku pun kembali menetes, lekas aku mengusap air mata ku.
Pak Andra pun yang sekilas memperhatikan ku segera memberikan tissu, aku pun menerima nya.
"Apa kamu baik-baik saja? Jika belum, kamu bisa istrahat dulu untuk menenangkan pikiran. Kamu bisa kembali bekerja kalau sudah merasa lebih baik." Ucap Pak Andra tampak khawatir.
"Saya baik-baik saja Pak, besok pun saya sudah bisa kembali bekerja. Berdiam diri di rumah hanya akan membuatku semakin stress dan memikirkan masalahku lagi" balas ku.
"Hmmm, apa kamu yakin?" Saya tidak mau melihat kamu nanti tidak fokus bekerja karna memikirkan masalah pribadi" ujar Pak Andra tegas.
"Tidak Pak, saya usahakan untuk profesional dan tidak mencampur aduk kan masalah pribadi dengan pekerjaan" balas ku kemudian.
__ADS_1
Pak Andra tampak berpikir sejenak.
"Baik lah mana baik nya untuk kamu, tapi pastikan dulu kamu memang benar-benar sudah fit, ingat kesehatan itu nomor satu" ucap Pak Andra.
"Baik Pak, terima kasih banyak atas bantuan nya" ucapku.
***
Akhirnya kami sampai di sebuah gedung tinggi yang juga tampak mewah, aku melangkah mengikuti Pak Andra.
Lalu kami memasuki lift, dan Pak Andra menekan tombol angka dua belas.
Akhirnya kami sampai di depan pintu, Pak Andra membuka pintu nya dan mempersilahkan ku masuk.
Aku memperhatikan sekeliling apartemen itu, sangat besar dan mewah.
Bahkan di dalam nya sudah lengkap dengan perabotan-perabotan mahal, aku semakin merasa tidak enak.
"Tempat ini terlalu mewah untuk saya tempati Pak, saya merasa tidak enak tinggal secara gratis disini" ucapku merasa tidak enak hati.
"Siapa bilang kamu tinggal gratis disini, kamu harus membersihkan dan merawat apartemen saya ini. Dari pada saya harus membayar orang untuk bersih-bersih" ucap Pak Andra menatapku.
Aku menghela nafas pelan seraya menatap Pak Andra "Baik Pak, saya akan merawat tempat ini dengan sangat baik" balas ku.
Pak Andra merogoh saku nya dan mengambil dompet, lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikan nya padaku.
"Ini uang untuk biaya kamu sehari-hari menunggu sampai gajian nanti, kalau kurang bilang saja pada saya" ucap Pak Andra sambil menyodorkan uang itu ke tangan ku.
Aku melihat uang yang menurutku sangat banyak, lalu aku hanya mengambil sepuluh lembar uang berwarna merah itu dan mengembalikan sisanya pada Pak Andra.
"Kamu tidak usah pikirkan itu Vania, saya ikhlas. Kalau begitu saya harus pergi dulu" ucap Pak Andra pamit dan melangkah keluar.
"Sekali lagi terimakasih Pak" ucapku yang diacungi jempol oleh pak Andra.
Setelah pak Andra pergi aku lekas membersihkan apartemen ini, aku mencari kesibukan agar tidak terlalu memikirkan masalah ku.
Aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima, tak terasa sudah dua jam aku bersih-bersih.
Rasanya sangat lelah dan juga gerah, ingin lekas mandi dan segera tidur.
Tapi aku sadar kalau aku tidak punya baju, bagaimana ini? Besok pun aku bingung mau ke kantor memakai baju apa.
Astaga! Seandainya aku membeli baju dari uang yang di beri Pak Andra tadi, pasti tidak cukup untuk biaya makan untuk dua minggu ke depan.
Aku yang sedang bingung seketika terkejut mendengar suara bel yang berbunyi.
'Apa mungkin itu Pak Andra ya?' Gumam ku bertanya dalam hati.
Lekas aku membuka pintu dan ternyata benar Pak Andra yang datang.
"Apa ada yang ketinggalan pak?" Tanya ku kemudian.
__ADS_1
Pak Andra masuk begitu saja dengan membawa begitu banyak paper bag, lalu meletakkan semuanya di sofa.
"Ini ada beberapa pakaian dan ada juga ponsel untuk kamu gunakan, saya tidak mau mendengar penolakan dengan alasan tidak enak hati atau merasa di repotkan, karena ini semua barang yang kamu butuhkan, dan saya akan marah kalau kamu sampai menolaknya.
Ada juga makanan untuk makan malam kamu, jangan lupa di makan lalu kamu istirahat.
Saya pergi dulu, masih banyak pekerjaan yang menunggu di kantor, permisi" ucap Pak Andra sambil melangkahkan kaki menuju pintu.
Ketika sampai di depan pintu Pak Andra menghentikan langkah nya dan berbalik menatapku "Saya sudah save nomor saya di ponsel itu, kalau kamu butuh sesuatu hubungi saja saya" Pak Andra akhirnya berlalu begitu saja.
Aku bahkan tidak sempat mengatakan apa-apa karena Pak Andra sudah tak nampak lagi.
Aku melihat paper bag yang terletak di sofa lalu memeriksanya.
'Astaga, banyak sekali' batin ku.
Ada beberapa pasang pakaian yang bisa ku gunakan untuk ke kantor, ada juga beberapa baju harian.
Bahkan, Astagaaa... sampai beberapa pakaian dalam pun ada, aku benar-benar malu.
Aku juga melihat ada beberapa skin care dan body care.
Lalu aku melihat paper bag yang berisi sebuah kotak. Astaga, ini ponsel mahal keluaran terbaru. Aku benar-benar terkejut dengan semua pemberian Pak Andra. Dia sangat tahu apa yang ku butuh kan saat ini.
Akhirnya aku mengaktifkan ponsel itu dan memeriksanya.
Di kontak hanya ada nomor Pak Andra saja yang tersimpan.
Aku membuka aplikasi hijau lalu menulis pesan untuk atasan ku tersebut.
[ Terima kasih banyak Pak untuk semuanya, saya tidak akan bisa melupakan kebaikan Bapak pada saya ] aku mengirim pesan tersebut.
Triinggg
Tak lama ponsel ku berdering tanda ada pesan masuk, lalu aku membacanya.
[ Vania, kamu sudah mengucapkan berkali-kali terima kasih pada saya. Jangan pernah sungkan atau merasa terbebani, saya tulus membantumu. ] balasan pesan dari Pak Andra.
Aku tak membalas lagi pesan itu, lalu aku bergegas ke toilet ingin mandi.
Rasanya sudah berapa hari tubuh ini tidak di guyur air.
Setelah selesai mandi, perut rasanya sudah terlalu lapar. Aku ingin cepat-cepat makan lalu bergegas tidur. Tubuh ini sangat lelah, karena kurang istirahat.
Setelah perut sudah aman terisi akhirnya aku bergegas ke kamar hendak tidur.
Disaat aku sudah berbaring di tempat tidur, pikiran pun melayang memikirkan putri ku, aku sangat merindukan nya.
'Elmira sayang, apa kabar kamu nak? Ibu sangat merindukanmu' gumamku di hati. Air mata ku jatuh begitu saja.
Seketika aku merasakan sakit dan nyeri pada payudara ku, mungkin karena sudah dua hari ini aku tidak menyusui putriku, sehingga payudara ku pun membengkak.
__ADS_1
Tapi rasa sakit ini tak sebanding dengan sakit nya berpisah dengan putriku.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja sambil menahan sakit dan juga rindu pada putriku, karena rasa lelah pada tubuh ini, akhirnya aku pun tertidur.