
"Sayang, keponakan aunty sudah besar ya" ucap Tania sambil memegang tangan kecil keponakan nya.
"Kak, seperti nya Elmira haus" ucap Tania.
Melihat bayi nya yang sejak tadi tak henti-henti nya menangis, Vania pun segera memberikan Asi pada Elmira.
Dan itu membuat Elmira seketika terdiam.
"Aduh, pintar nya ponakan aunty" ucap Tania tersenyum.
Tania memandang wajah kakak nya yang tampak sedih.
Tapi Tania tahu jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk nya bertanya.
Tring tring tring
Ponsel Tania pun berdering, dan gegas Tania mengambil ponsel nya.
Saat melihat nama Satya yang muncul di layar ponsel nya, Tania pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Tan, aku sudah di depan rumah mu nih" ucap seorang pria dari seberang telepon.
"Iya, iya sabar. Tunggu di situ" ucap Tania dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Kak, tunggu di sini ya" ucap Tania, dan Vania pun mengangguk.
"Tania, tunggu" ucap Vania sehingga menghentikan langkah kaki adik nya tersebut.
"Tolong katakan pada Mas Andra, agar menunggu ku. Aku akan menemui nya jika situasi sudah membaik" ucap Vania.
"Iya kak, nanti Tania sampaikan" ucap Tania sambil berlalu keluar kamar.
Tania yang masih melihat kemarahan Ayah nya pada pria yang merupakan teman dari kakak nya tersebut, segera menghampiri Ayah nya.
"Ayah, sudah lah, jangan marah-marah lagi. Ingat kesehatan Ayah, marah-marah akan berpengaruh pada kesehatan Ayah nanti.
Biar kan teman Kak Vania itu pergi dari sini, dia juga punya orang tua Yah.
Jika orang tua nya tahu kalau anak nya di perlakukan seperti ini, mereka pasti akan marah dan tidak terima.
Biarkan dia pergi, aku akan menyuruh nya pergi dari sini" ucap Tania menenangkan Ayah nya.
"Kamu suruh dia pergi dari sini, kepala Ayah sakit memikirkan kelakuan Kakak mu itu" ucap Pak Jimmi sambil berlalu meninggalkan ruang tamu sederhana itu.
Tania menatap Andra dengan tatapan yang Iba, dia tahu jika Kakak nya tidak akan melakukan hal terlarang apalagi sampai mengecewakan keluarga nya sendiri.
Tania pun menghampiri Andra, "Sebaiknya Kakak pergi dari sini, situasi saat ini tidak memungkinkan kan untuk mu di sini" ucap Tania.
Tania pun mengerlingkan mata nya pada Andra seraya menunjuk ke arah luar.
__ADS_1
Andra yang tidak begitu paham maksud dari Tania tetap bergeming.
"Pergi dari sini, kehadiran mu tidak diharapkan di rumah ini. Apa kamu masih tidak mengerti juga?" ucap Arvin kesal.
Saat ini hanya ada Arvin, Andra dan juga Tania, sebab Bu Ratih dan Pak Jimmi sudah masuk ke kamar mereka.
Ada rasa kesal di hati Tania mendengar ucapan Arvin tersebut, Tania merasa seolah-olah Arvin adalah tuan rumah.
Saat Andra akan membalas ucapan Arvin tersebut, Tania pun langsung menarik tangan Andra keluar, awalnya ada perlawanan dari Andra, tapi Tania tidak menyerah begitu saja.
"Aku ada pesan dari Kak Vania" ucap Tania setengah berbisik agar Arvin tidak mendengarnya.
Andra pun paham dan mengikuti langkah Tania keluar rumah.
Melihat Andra keluar dari rumah itu, Arvin pun tersenyum miring.
'Ternyata aku tidak perlu berbuat banyak untuk membalas kan dendam ku saat kamu mengusir ku dari rumah sakit, Andra.
Lihat sendiri kan, kamu juga merasakan hal yang sama saat ini.
Jangan pernah berharap kamu akan bisa merebut Vania dari ku, Andra.
Sampai kapan pun, Vania akan tetap menjadi milik ku' gumam Arvin.
Setelah Andra dan Tania berada di luar rumah, Tania pun bergegas memanggil Satya.
"Sat, aku minta tolong ya" ucap Tania.
"Iya, kata Kak Vania tolong tetap bertahan, dia akan menemui mu saat situasi nya sudah membaik. Jadi untuk saat ini kamu ikut sama teman ku dulu.
Tenang saja, dia orang nya baik dan bisa di percaya kok" ucap Tania.
Andra pun paham dan mengikuti apa rencana dari Tania tersebut.
"Sudah pergi sana, nanti kalau di lihat Ayah lagi bisa gawat" ucap Tania.
"Yuk, bang" ucap Satya menatap Andra.
Andra pun mengangguk dan bergegas mengikuti langkah Satya.
'Huuhhhh, satu masalah beres" ucap Tania menghembuskan nafas kasar dan segera masuk ke dalam rumah.
"Vania, tolong buka pintu nya. Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu" ucap Arvin sambil menggedor-gedor pintu kamar.
Mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat, Arvin pun langsung mengubah ekspresi wajah nya.
"Vania, tolong buka pintu nya ya. Aku tidak akan marah pada mu, apa pun yang sudah kamu lakukan, aku masih tetap bisa menerima mu sebagai istri ku" ucap Arvin.
Pak Jimmi yang merasa risih karena suara-suara ketukan pintu itu dan segera mendekati Arvin.
__ADS_1
"Vania, buka pintu nya. Jangan bertingkah seperti anak-anak, tingkah mu ini sudah membuat malu kami sebagai orang tua mu.
Bersyukur jika nak Arvin masih mau menerima mu sebagai istri nya.
Jika Ayah di posisi Arvin saat ini, belum tentu Ayah bisa menerima semua perbuatan mu itu" ucap Ayah lagi.
Tania hanya menggeleng kan kepala melihat Ayah nya yang sangat mempercayai Arvin.
'Ayah sangat kejam, dia bahkan tidak bisa mengerti perasaan putri nya sendiri.
Jelas-jelas tatapan mata Kak Vania menyimpan banyak luka saat ini' gumam Tania.
"Ayah, sudah lah. Berikan waktu pada Kak Vania saat ini, jangan terlalu memaksakan kehendak Ayah pada Kak Vania.
Kita juga belum tahu siapa yang benar saat ini" ucap Tania seraya menatap sinis pada Arvin.
"Tahu apa kamu Tania? Ini bukan lah urusan anak kecil seperti mu, jadi kamu tidak perlu ikut campur sama masalah ini.
Dan satu lagi Ayah tegaskan pada mu, jangan ikuti jejak Kakak mu nanti nya.
Jika kalian tidak mau Ayah mu ini cepat mati karena tingkah kalian itu" ucap Pak Jimmi dengan tegas dan berlalu begitu saja.
Tok tok tok
"Kak, ini Tania, buka pintu nya" ucap Tania.
Melihat Arvin yang masih tetap berdiri di depan kamar itu, Tania pun menjadi kesal.
"Kak, aku tidak tahu apa masalah kalian saat ini.
Tapi tolong beri waktu untuk Kak Vania sendiri dulu saat ini" ucap Tania.
"Tapi aku harus meluruskan Masalah kami Tania, mau sampai kapan kami bisa menyelesaikan masalah ini jika Vania selalu menghindari ku?
Apa sampai Vania kawin lari dengan pria itu?" ucap Arvin dengan nada yang tinggi.
"Apa pun yang kamu katakan tentang kakak ku, aku yang lebih tahu tentang Kak Vania.
Tidak mudah bagi ku untuk mempercayai lelaki seperti mu.
Sejak awal pun aku sudah mengatakan pada Kak Vania untuk berpikir lagi menerima lamaran mu, karena aku tahu ada yang tidak beres dengan mu.
Dan lihat lah, apa yang di alami Kakak ku saat ini.
Walaupun Kak Vania belum menceritakan semua nya pada ku, aku tahu jelas jika Kakak ku tidak bersalah.
Dia hanya korban di sini" ucap Tania.
"Kak, tidak perlu buka pintu nya. Aku mau keluar dulu" ucap Tania lagi dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
'Sial' gumam Arvin kesal.