Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Di usir kembali


__ADS_3

Akhir nya perasaan ku pun bisa lega setelah mendengar jawaban dari Dokter Anwar.


Aku yang tadi nya sama sekali tidak bisa berkutik, akhir nya mendapat pertolongan dari Pak Andra.


Entah sudah berapa kali Pak Andra datang di saat yang tepat untuk menolong ku.


"Vania, sebaiknya kamu kembali untuk menemui putri mu. Kamu tidak perlu takut atau pun khawatir dengan mereka semua. Aku sudah menjamin jika kamu yang lebih berhak untuk mendampingi Elmira di Rumah sakit ini. Kamu sudah dengar sendiri kan penuturan dari Dokter Anwar. Mari, aku akan menemani mu" ucap Pak Andra.


Aku pun mengangguk, lalu kami melangkah ke ruangan di mana Elmira di rawat.


Di mana masih ada Mas Arvin dan keluarga nya yang masih menunggu di depan ruang ICU.


Melihat ku datang, mereka pun menatap ku heran. Mungkin mereka mengira jika aku adalah wanita yang tidak tahu malu karena masih berani datang padahal sudah di usir dengan cara yang hina.


"Mau apa lagi kamu ke sini? Apa kamu tidak mengerti-mengerti juga dengan apa yang kami katakan tadi? Kenapa kamu bebal sekali" ucap Ibu Mas Arvin.


"Ayo Vania, sebaiknya kamu masuk saja. Temani putri mu, dia pasti sangat membutuhkan mu saat ini" ucap Pak Andra.


"Heh, siapa kamu sampai bisa seenak nya mengizinkan dia untuk masuk ke dalam" Ibu Mas Arvin membelalakkan mata menatap Pak Andra.


"Oh maaf, saya belum sempat memperkenalkan diri saya. Saya adalah Andra, yang merupakan atasan di kantor tempat Vania bekerja" jawab Pak Andra dengan santai.


"Jadi, karena kamu bos Vania di kantor nya, kamu punya hak untuk memerintah di sini?" ucap Ibu Mas Arvin.


"Maaf, saya tidak perlu menjawab semua pertanyaan anda, waktu saya terlalu berharga untuk meladeni pertanyaan anda yang sangat tidak masuk akal itu. Vania, kamu masuk saja ke dalam" ucap Pak Andra.

__ADS_1


Buuuggghhh


Tiba-tiba Mas Arvin melayang kan tinju di wajah Pak Andra, dan itu membuat ku terkejut hingga aku mengurung kan niat untuk masuk ke ruang ICU di mana putri ku di rawat.


Dengan panik, aku menghampiri Pak Andra yang hampir terjatuh. Tapi beruntung Pak Andra masih bisa menjaga keseimbangan nya.


"Berani sekali kamu bicara tidak sopan pada Ibu ku, apa kamu kira jika kamu seorang bos jadi kamu berhak merendahkan orang tua. Jika kamu bisa seenak nya memerintah atau menghina orang lain di kantor mu, tapi tidak di sini. Dan satu lagi, kamu terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain. Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain mengikuti Vania" ucap Mas Arvin.


Pak Andra hanya tersenyum miring seraya menggelengkan kepala menanggapi perkataan Mas Arvin.


Mas Arvin menatap heran pada Pak Andra dan wajah nya bertambah merah karena menahan amarah.


"Kamu memang tidak beda jauh dengan mertua mu, yang selalu mengatasi masalah dengan kekerasan tanpa berpikir dulu apa dampak dari perbuatan kalian" ucap Pak Andra.


"Semakin ke sini, aku pun bisa melihat seperti apa karakter kalian semua. Kalian itu tak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada arti nya. Dan kalian memang cocok jika bersatu" ucap Pak Andra.


"Diam mulut mu itu" teriak Mas Arvin sembari mengangkat tangan nya hendak memukul Pak Andra.


"Cukup Mas Arvin, sekali lagi kamu melakukan kekerasan, aku tidak akan segan-segan melaporkan mu pada polisi" ucap ku.


"Heh, berani-berani nya kamu mengancam putra ku." Ibu Mas Arvin menghampiri ku. Tapi Mas Andra segera menghadang nya dengan berdiri di depan ku.


"Sekali lagi aku melihat mu main tangan pada Vania, aku akan menjebloskan mu ke penjara. Tidak peduli berapa usia mu saat ini, karena aku hanya menghormati orang yang pantas di hormati" ucap Pak Andra.


"Kamu....." ucap Ibu Mas Arvin dengan menunjuk di wajah Pak Andra.

__ADS_1


"Maaf, Pak Bu, saya mendapat keluhan jika di sini sedang terjadi keributan sehingga membuat kenyamanan pasien atau pengunjung menjadi terganggu. Tolong jangan buat keributan di rumah sakit ini, atau kami bisa mengusir paksa Bapak atau Ibu dari sini." ucap Pria paruh baya berseragam warna coklat yang tiba-tiba datang menghampiri kami.


"Mereka yang sudah membuat keributan, sebaiknya usir saja mereka dari sini. Sejak tadi aku sudah mengusir nya, tapi dia terlalu keras kepala dan tidak juga pergi dari sini" ucap Ibu Mas Arvin.


Tak lama kemudian Dokter Anwar dan seorang suster datang menghampiri kami.


"Maaf Pak Bu, Saya sudah mendapat keluhan tentang keributan yang terjadi di sini. Mohon pengertian nya karena ini adalah rumah sakit" Ucap Dokter Anwar.


"Ini Dok, mereka berdua yang sudah membuat keributan sejak tadi. Tolong usir mereka dari sini" ucap Ibu Mas Arvin sambil menunjuk-nunjuk aku.


Dokter Anwar memperhatikan kami sejenak, sementara Pak Andra terlihat santai menanggapi nya.


"Maaf Bu, seperti nya saya harus menyampaikan ini pada kalian. Saya sudah tahu semua nya yang terjadi di sini, banyak yang mengeluh karena di sini terjadi keributan. Sebaiknya jika ada masalah keluarga di selesaikan baik-baik di rumah, bukan di tempat umum seperti ini. Itu bisa mengganggu kenyamanan pasien lain di Rumah sakit ini. Jadi, dengan berat hati saya harus mengatakan kepada Bapak dan Ibu untuk segera meninggalkan rumah sakit ini" ucap Dokter Anwar.


"Tuh, kalian dengar kan apa yang di katakan Dokter. Sebaiknya kalian pergi, tidak perlu merasa sangat di butuh kan di sini" ucap Ibu Mas Arvin tanpa tahu jika yang di maksud Dokter Anwar itu adalah mereka.


"Maaf Bu, mungkin ada kesalahpahaman. Yang saya maksud tadi adalah, Ibu dan juga yang lain nya. Cukup Bu Vania saja yang menjaga putri nya di sini" ucap Dokter Anwar.


"A-apa? Maksud nya saya dan keluarga saya yang pergi dari sini? Jadi Dokter mengusir kami dari sini?" ucap Ibu Mas Arvin dengan mata membelalak karena tidak percaya.


"Iya Bu, sekali lagi saya minta maaf. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk pasien-pasien saya di sini. Jadi tolong pengertian nya" balas Dokter Anwar.


"Dokter, kenapa harus kami yang pergi dari sini? Saya adalah ibu nya Elmira dan ini adalah ayah nya. Yang pantas pergi dari sini adalah perempuan itu" ucap Alexa.


"Maaf Bu, keputusan saya sudah bulat. Jika dalam waktu sepuluh menit lagi Bapak dan Ibu tidak meninggalkan tempat ini, dengan berat hati saya akan menyerahkan masalah ini di selesaikan oleh petugas keamanan" ucap Dokter Anwar.

__ADS_1


__ADS_2