
POV Vania
Aku dan Mas Andra sama-sama terkejut melihat kehadiran sosok seseorang yang ku harap tidak pernah untuk ku lihat lagi.
"Mas Arvin? Kenapa kamu di sini?" ucap ku membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini.
Setelah apa yang di lakukan nya pada ku, berani-berani nya Mas Arvin datang ke rumah orang tua ku.
"Iya Vania, aku datang ke sini untuk mengunjungi mertua ku? Apa ada yang salah?" ucap Mas Arvin dengan santai nya.
"A-apaa???" ucap ku yang tidak percaya dengan apa yang ku dengar saat ini.
Aku benar-benar tidak tahu maksud dan tujuan Mas Arvin datang ke rumah orang tua ku, bahkan mengatakan orang tua ku dengan sebutan mertua.
'Apa yang ada di pikiran Mas Arvin saat ini? Apa dia sudah gil4?' gumam ku.
"Apa maksud mu Mas? Apa kamu sudah gil4?" ucap ku.
Plaaakkkk
Seketika Ayah melayangkan tamparan di wajah ku, aku pun menatap Ayah yang wajah nya saat ini memerah seperti menahan amarah dan membelalakkan mata memandang ku.
"Ayah, kenapa Ayah menampar ku?" ucap ku masih tidak percaya.
"Kamu memang pantas di tampar Vania, tamparan itu belum ada apa-apa nya untuk mu" balas Ibu yang juga menatap ku dengan wajah yang sangat marah.
"Ayah tidak pernah mengajarkan mu menjadi wanita yang tidak mempunyai harga diri Vania" ucap Ayah lagi.
Mendengar ucapan Ayah tersebut, aku mengalihkan pandanganku pada Mas Arvin yang masih berdiri santai.
"Apa maksud nya Ayah? Vania tidak mengerti dengan ucapan Ayah barusan? kenapa Ayah berkata kasar bahkan sampai menampar Vania?" ucap ku lagi.
"Jadi kamu masih bertanya lagi kenapa Ayah melakukan itu pada mu?
Apa kamu tidak menyadari semua perbuatan tercela mu itu?
Ayah tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk pada mu Vania, tapi sekarang kamu sudah membuat Ayah dan Ibu mu kecewa atas tindakan mu" ucap Ayah.
Aku yakin jika ini adalah perbuatan Mas Arvin, aku tidak tahu apa yang di katakan Mas Arvin pada orang tua ku sehingga membuat Ayah dan Ibu sangat murka pada ku.
"Apa yang kamu katakan pada orang tua ku Mas Arvin?" tanya ku lagi.
"Cukup Vania, kamu sudah mendzolimi suami mu sendiri dan sekarang kamu mau menyalahkan nak Arvin?
__ADS_1
Di mana rasa hormat mu pada suami?" ucap Ibu sambil menunjuk-nunjuk ku dengan jari telunjuk Ibu.
"Tidak, Ibu dan Ayah pasti sudah salah paham. Aku tidak tahu pasti apa yang di katakan Mas Arvin pada Ayah dan Ibu.
Tapi bukan kah seharusnya Ayah dan Ibu bertanya pada ku terlebih dahulu dan mencari tahu hal yang sebenarnya?
Dan kenapa Ayah dan Ibu bisa lebih mendengar cerita dari salah satu pihak sdan mempercayai nya begitu saja?" ucap ku.
"Bagaimana kami mau bertanya pada mu, sementara kami sudah berulang kali menghubungi mu tapi nomor mu sengaja tidak kamu aktifkan Vania.
Kamu benar-benar sudah gil4 sampai tergoda dengan boss mu sendiri dan meninggalkan suami yang sudah setia dan baik pada mu" ucap Ayah lagi.
"A-apaa? Jadi Mas Arvin mengatakan itu pada Ayah dan Ibu?" tanya ku.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku dengar saat ini, bisa-bisa nya Mas Arvin membolak-balikkan fakta di depan orang tua ku.
Saat ini aku benar-benar tidak menyangka dengan sifat Mas Arvin yang semakin terlihat jelas seperti apa karakter nya.
Dia benar-benar lelaki tidak tahu malu yang pernah ku kenal.
Bahkan satu-satunya penyesalan ku saat ini adalah pernah mengenal Mas Arvin apalagi sampai menikah dengan nya.
"Ayah, Ibu, semua yang di katakan Mas Arvin itu salah.
"Vania, aku paham jika selama ini aku kurang perhatian dan tidak memiliki banyak waktu untuk mu sehingga kamu tergoda dengan atasan mu itu.
Tapi aku melakukan itu demi kita Vania, demi keluarga kecil kita, agar aku bisa membahagiakan mu dan juga putri kita Elmira.
Waktu ku habis karena bekerja itu juga untuk kalian" ucap Mas Arvin menyela perkataan ku sebelumnya.
"Hah??? Aku tidak salah dengar Mas? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan saat ini?
Apa kamu sudah gil4 Mas?" tanya ku lagi.
"Cukup Vania, semakin lama kamu itu semakin kurang ajar.
Ayah tidak menyangka jika kamu berubah seperti ini.
Di mana Vania yang kami besarkan dengan didikan dan norma-norma agama sejak kecil?" ucap Ibu menimpali.
"Ayah Ibu, kalian salah. Sedikit pun Vania tidak ada berubah.
Dia yang sudah berbohong pada Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Dia sudah menipu kita selama ini, dia bahkan sudah menikah. Dan dia membawa istri pertama nya itu ke rumah dengan menjadi kan nya sebagai Babysitter Elmira.
Vania hanya di jadikan istri kedua, karena dia sudah memiliki istri selama tiga tahun" ucap ku.
"Vania, kenapa kamu tidak percaya pada ku.
Cuma kamu istri ku satu-satu nya, Alexa sudah berbohong.
Aku tidak tahu jika Alexa menyukai ku selama ini, dan dia tergila-gila pada ku.
Kenapa kamu malah percaya dengan ucapan wanita gil4 itu dari pada aku suami mu sendiri?" ucap Mas Arvin.
Plaakkkkk
Dengan mudah nya aku melayang kan tamparan di wajah Mas Arvin.
Jika ada hal lebih yang menyakitkan agar membuat nya sadar, aku akan melakukan nya.
"Vania....." Teriak Ayah dengan suara yang lantang.
"Pak, Bu, Maaf jika aku harus menyela dan terkesan ikut campur. Tapi apa yang di katakan Vania itu benar. Arvin yang sudah berbohong" ucap Mas Andra kemudian.
"Diam, kamu. Kamu tidak perlu ikut campur pada urusan keluarga kami, dan rumah tangga Vania.
Kamu hanya orang luar, jangan mentang-mentang kamu boss nya Vania, kamu bisa berbuat sesuka hati mu.
Walaupun kamu orang kaya, kami tidak akan menerima jika Vania menikah lagi sementara dia masih punya suami dan bahkan sudah punya anak dari suami nya" ucap Ayah dengan lantang pada Mas Andra.
"Saya minta tolong pada mu, tolong jauhi anak ku. Apa yang kamu harapkan dari wanita yang sudah punya suami bahkan anak?
Masih banyak wanita lain di luar sana, kenapa harus Vania?
Kamu tidak kasihan melihat cucu kami yang harus berpisah dengan ayah kandung nya?
Bagaimana pun juga, Elmira lebih butuh ayah kandung nya dari pada kamu" ucap Ibu .
Aku melihat mata Mas Andra yang sudah berkaca-kaca, mungkin setelah mendengar apa yang di katakan Ayah dan Ibu ku membuatnya menjadi segan untuk berbicara lagi.
Tapi aku tidak akan membiarkan Mas Arvin memanipulasi orang tua ku, aku tidak akan terima dengan keadaan ini.
Bahkan hanya melihat wajah nya saja, sudah membuat ku muak dan jijik.
'Ya Tuhan, kenapa engkau menciptakan lelaki seperti Mas Arvin ini?' gumam ku.
__ADS_1