Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Keputusan


__ADS_3

( POV Andra )


"Jadi kamu lebih mengutamakan perempuan itu dari pada kami yang merupakan orang tua kandung mu sendiri?" ucap Papa penuh dengan penekanan.


"Bukan nya Andra tidak menghargai Papa dan Mama, tapi Andra juga ingin bahagia dengan pilihan hati Andra Pa.


Apa Andra tidak berhak mendapatkan kebahagiaan sendiri?" ucap ku.


"Kamu harus bisa berpikir rasional Andra, kamu itu anak nya Sanjaya Pratama, penerus Papa, kelak kamu yang akan menjadi pewaris perusahaan, harta dan seluruh kekayaan Papa. Karena kamu anak kami satu-satu nya, kamu itu bukan orang biasa Andra.


Jadi tolong lah pilih pasangan hidup yang sepadan dengan mu, yang bisa membuat kami bangga memiliki menantu seperti dia, dan orang itu adalah Tasya.


Tasya yang pantas untuk mu Andra, Tasya memiliki pendidikan yang tinggi dan lulusan dari luar negeri, memiliki wawasan yang luas dan juga wanita yang berkelas dan elegan.


Apa kurang nya Tasya? Jika harus membandingkan nya dengan wanita itu, Tasya jauh berada di atas nya Andra." ucap Papa.


Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa. Sebegitu ingin nya Papa menjadi kan Tasya sebagai menantu nya.


Bahkan Papa sampai tega menghina Vania, yang tidak memiliki kesalahan apa-apa di sini.


"Pa, cukup. Jangan menghina Vania lagi, hati ku sangat sakit mendengar semua hinaan kalian pada Vania.


Aku sudah bertekad Pa, dan tidak akan berubah pikiran lagi. Aku akan menikahi Vania apa pun yang terjadi" ucap ku dengan tegas.


"Oh, jadi itu keinginan mu? Apa kamu akan menerima segala konsekuensi nya dengan tetap menikahi wanita itu?" tanya Papa lagi.


"Iya Pa" jawab ku dengan mantap.


"Walaupun Papa harus mencabut mu dari ahli waris Papa?" tanya Papa lagi.


Dan itu membuat ku sangat terkejut, hanya demi masalah ini Papa sampai tega pada ku.


Tapi aku sudah bertekad akan tetap menikahi Vania, apa pun yang terjadi.


"Iya Pa, aku siap jika memang itu keputusan Papa" jawab ku.


"Baik lah, jika memang kamu sudah yakin dengan keputusan mu. Raih lah cinta mu itu, temui wanita yang sangat kamu cintai itu.


Tapi satu hal yang harus saya pertegaskan dengan mu, jika kamu berani satu langkah saja pergi dari sini, saya benar-benar tidak akan menganggap mu anak ku lagi.


Hubungan kita akan berakhir sampai di sini, silahkan kalau kamu mau pergi dengan wanita itu.


Tapi tinggal kan semua barang-barang berharga pemberian dari Papa.


Seperti Mobil, dompet beserta semua isi nya, jangan membawa sepeser uang pun atau apa-apa dari rumah ini.


Dan saya tidak butuh kamu untuk menangani kantor, mulai detik ini kamu tidak berhak lagi datang ke kantor untuk bekerja.

__ADS_1


Sekarang kamu bebas mau melakukan apa pun yang kamu mau" ucap Papa tanpa mau menatap ku.


Bahkan Papa sekarang bicara sangat formal pada ku, tidak selayaknya berbicara dengan anak nya.


Papa sangat kejam dengan mengusir ku dari sini dengan tangan kosong, memecat ku dari kantor bahkan memutus kan hubungan keluarga dengan ku.


Aku merasa Papa sangat egois kali ini, hanya demi ambisi nya yang ingin menjadikan Tasya sebagai menantu nya, Papa tega membuang ku.


"Pa, apa yang Papa katakan itu? Papa tidak bisa memutuskan hubungan keluarga dengan Andra hanya dengan kata-kata.


Ingat Pa, Andra itu anak kita satu-satu nya. Kalian punya ikatan darah yang tidak bisa di putuskan begitu saja hanya dengan satu ucapan" ucap Mama yang sudah menangis terisak.


"Biar saja, mulai sekarang Papa tidak akan peduli lagi dengan nya. Biar saja dia hidup terlunta-lunta dengan wanita pilihan nya itu" ucap Papa.


"Baik lah Pa, sebenarnya aku tidak ingin menyakiti perasaan Mama dan Papa.


Aku hanya ingin mencari kebahagiaan ku sendiri, tapi kalian enggan melihat ku bahagia dengan keputusan ku.


Kalian lebih memilih harkat dan martabat kalian dari pada putra kalian sendiri.


Dan itu sudah membuat ku cukup sadar, jika kalian memang tidak peduli dengan perasaan ku.


Baik, aku akan pergi dari sini" aku mengeluarkan dompet, ponsel dan kunci mobil dari saku celana ku dan meletakkan nya di atas meja.


Bahkan jam tangan yang ku pakai pun ikut ku lepaskan juga.


"Ini, aku akan kembali kan semua nya" ucap ku.


Apakah tidak ada sedikit pun rasa penyesalan di dalam hati mu setelah mengambil keputusan itu?


Mama minta kamu segera minta maaf pada Papa mu nak, Papa pasti akan memaafkan mu. Jangan mengambil keputusan di saat kamu marah" ucap Mama terisak.


Sebenarnya aku tidak tega melihat Mama seperti ini, tapi aku yakin dengan keputusan ini.


Dan semoga suatu saat nanti Mama dan Papa mengerti, dan bisa menerima ku kembali.


"Biar lah Ma, mungkin kesalahan Andra sudah sangat fatal sehingga tidak bisa di terima lagi.


Karena mencintai wanita yang mempunyai status janda dan bukan dari kalangan atas dan sepadan dengan kita, adalah suatu kesalahan besar.


Maaf Ma, Andra akan pergi, jaga diri Mama dan tetap lah sehat" ucap ku sambil melangkah pergi.


"Andra, tunggu nak. Jangan pergi, jangan tinggalkan kami nak" ucap Mama sambil terisak.


"Ma, cukup. Jangan mengemis-ngemis lagi pada anak durhaka dan tidak tahu diri itu. Biar saja dia pergi, biar dia tahu seperti apa kehidupan di luar sana" ucap Papa.


"Pa, tolong cegah Andra untuk pergi. Jangan biarkan dia pergi Pa.

__ADS_1


Bagaimana pun Andra itu tetap anak kita, hiks hiks" ucap Mama yang masih terdengar oleh ku walaupun aku sudah berjalan menjauh.


Tak terasa mata ku sudah basah, dan aku tidak bisa lagi menahan air mata ku untuk tidak jatuh.


Sejak tadi aku sudah menahan agar jangan sampai menangis, tapi hati ini terlalu sakit saat ini.


Aku pun mengusap air mata ku, jangan sampai Vania melihat ku menangis karena itu akan membuat nya merasa bersalah.


Setelah memastikan air mata ku sudah tidak ada lagi, aku pun melanjutkan langkah ku ke ruang tamu untuk menemui Vania.


Tapi saat aku sudah sampai di ruang tamu, aku tidak melihat keberadaan Vania di situ.


'Astaga, kemana Vania?' gumam ku khawatir.


Aku segera berlari menuju keluar, berharap jika dia belum terlalu jauh.


Ingin menelepon Vania, tapi aku tidak memiliki ponsel lagi.


Saat sampai di depan pos keamanan, aku segera bertanya pada satpam yang berjaga.


"Pak, apa melihat wanita yang tadi bersama ku keluar dari sini?" tanya ku.


"Oh, wanita yang menggendong bayi ya tuan?" tanya Pak Joko, dan aku pun langsung mengangguk.


"Iya tuan, baru saja keluar sambil nangis-nangis. Tadi pergi nya ke arah sana tuan" ucap Pak Joko yang menunjuk ke sisi jalan.


"Pak, bisa saya pinjam ponsel nya untuk menelepon?" tanya ku lagi.


"Oh, bisa tuan, ini..." Pak Joko pun menyerahkan ponsel nya pada ku.


Aku segera mengetik nomor Vania, beruntung aku masih mengingat nomor nya.


Awal nya aku memanggil lewat aplikasi hijau, tapi panggilan ku tidak berdering.


Aku pun mencoba melakukan panggilan biasa, tapi sama saja tidak aktif.


Akhir nya aku mengembalikan ponsel Pak Joko.


"Terima kasih Pak" ucap ku.


"Sama-sama tuan" balas Pak Joko.


Aku berpikir mungkin Vania akan kembali ke apartemen, sehingga lebih baik aku menyusul ke sana sekalian memperhatikan Vania siapa tahu bertemu dengan nya di jalan.


Tapi aku baru ingat, jika aku tidak memiliki uang sepeser pun.


Aku kembali menghampiri Pak Joko, "Pak, apa boleh saya meminjam uang seratus ribu? nanti akan saya kembali kan" ucap ku.

__ADS_1


"Oh, iya tuan boleh kok" ucap Pak Joko sambil merogoh saku nya dan memberikan selembar uang kertas berwarna merah.


"Terima kasih banyak Pak" ucap ku sambil berlalu meninggalkan Pak Joko yang masih menatap ku heran.


__ADS_2