
Arvin pun mengepalkan tangan nya saat melihat putri nya yang terdiam saat di gendong Andra.
Arvin berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan nya di depan orang tua Vania, walaupun amarah nya sudah sampai di puncak ubun-ubun nya.
'Kenapa pria ini harus ikut ke sini sih? Dia bisa menggagalkan semua rencana ku untuk kembali dengan Vania lagi' gumam Arvin kesal.
Sementara orang tua Vania merasa heran saat melihat cucu mereka sangat nyaman di gendongan Andra.
"Ayah dan Ibu lihat sendiri kan? Bahkan bayi sekecil ini pun tahu, siapa yang benar-benar tulus dan mempunyai hati yang baik.
Berbeda saat dia di gendong oleh Ayah kandung nya sendiri" ucap Vania sambil melirik sinis pada Arvin.
"Itu karena kamu yang selama ini menjauhkan Elmira dari Ayah nya Vania, sehingga Elmira memiliki waktu yang lebih banyak bersama Andra selama ini" balas Arvin sambil tersenyum sinis menatap Elmira.
"Sini, cucu ku" ucap Bu Ratih sembari mengambil paksa Elmira dari Andra.
Tapi hanya sepersekian detik, Elmira langsung menangis ketika sudah berada di gendongan Bu Ratih.
"Ini nenek nak, jangan nangis ya" ucap Bu Ratih berusaha membujuk-bujuk Elmira.
Tapi bukan nya diam, tangis Elmira semakin menjadi-jadi.
"Itu yang perlu kamu lihat sendiri Vania, bahkan sama nenek nya pun Elmira tetap menangis. Itu karena Elmira tidak pernah bertemu nenek nya, dan itu lah yang di rasakan Arvin saat ini.
Jadi apa yang kamu katakan itu jelas-jelas salah.
Seorang anak tidak akan bisa dekat dengan keluarga kandung nya sendiri jika tidak ada ruang untuk menghabiskan waktu bersama" ucap Pak Jimmi.
"Ayah, kalian tidak tahu apa yang sudah di lakukan pria ini. Kenapa kalian tidak percaya juga pada ku? Aku putri kandung kalian sendiri, tapi kenapa kalian lebih percaya dia yang hanya orang asing?" ucap Vania.
"Dia bukan orang asing Vania, dia adalah menantu ku. Kamu jangan menjadi gila hanya karena terbujuk rayuan pria ini.
Walaupun dia orang yang berada dan kaya raya, tapi itu tidak akan mengubah pikiran kami.
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak nya, tidak ada orang tua yang ingin menghancurkan rumah tangga anak nya sendiri.
Kami juga malu jika sampai tetangga tahu jika putri kami bercerai hanya karena tergoda sama pria lain. Mau di taruh di mana wajah kami nanti nya?
Itu sama saja kamu sudah melempar kan kotoran di wajah orang tua mu Vania" ucap Pak Jimmi dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Tolong kamu pergi dari sini sekarang juga, apa kamu tidak lihat kekacauan apa yang sudah kamu buat dalam keluarga ini?" ucap Arvin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hentikan omong kosong mu itu Arvin, mungkin Ayah dan Ibu ku bisa kau perdaya dengan air mata buaya mu itu.
Tapi tidak dengan ku" ucap Vania dengan suara yang lantang dan dengan dada yang bergemuruh menahan emosi.
"Pak, Bu, tolong lah percaya dengan apa yang di katakan oleh putri kalian. Saya adalah saksi hidup yang melihat sendiri seperti apa yang sudah di lakukan Arvin pada Vania.
Jika kalian mengizinkan Vania kembali pada pria ini, itu sama saja kalian menghancurkan hidup Vania lagi" balas Andra.
Mendengar ucapan Andra, Pak Jimmi pun semakin marah dan melangkah mendekati Andra.
Buugghh
Satu pukulan melayang di wajah Andra, sehingga mengeluarkan cairan berwarna merah di sudut bibir nya.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan pada Mas Andra? Dia tidak salah, jika bukan karena bantuan Mas Andra, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada ku" ucap Vania.
"Pukulan itu belum seberapa untuk nya, aku bahkan rela membunuh orang yang sudah menghancurkan kehidupan anak ku" ucap Pak Jimmi dengan mata yang nyalang.
Tok tok tok
Suasana menjadi hening, saat mendengar suara pintu di ketuk.
"Loh, Kak Vania..." ucap gadis itu yang terkejut.
"Tania..." ucap Vania dengan tatapan yang sendu, sementara Tania menatap orang-orang di sekeliling nya dengan tatapan yang heran.
Bahkan tatapan juga tertuju dengan sosok seseorang yang tidak di kenal nya.
"Tania, kamu bawa kakak mu ke kamar. Jangan biarkan dia keluar, Ayah akan mengurus kekacauan ini" ucap Pak Jimmi.
Walaupun masih tersimpan banyak pertanyaan di hati Tania, dia pun mengikuti perintah Ayah nya tersebut.
Karena Tania tahu jelas seperti apa Ayah nya jika sudah marah.
Dia tidak akan mendengar kan kata bantahan.
"Kak, sebaiknya kita ke kamar dulu ya" ucap Tania seraya menarik tangan kakak nya tersebut untuk menjauh.
__ADS_1
"Tidak dek, Kakak takut jika Ayah akan melakukan hal buruk lagi pada Mas Andra nanti nya" ucap Vania sambil melepaskan tangan Tania.
"Kakak kan sudah tahu Ayah seperti apa, percuma kakak melawan nya, yang ada masalah ini akan semakin rumit nanti nya.
Jika Kak Vania kasihan pada teman Kakak itu, ada baiknya suruh dia pergi dulu dari sini.
Situasi ini sangat tidak memungkinkan untuk nya berada di sini" ucap Tania lagi.
"Tapi dia sudah datang jauh-jauh ke sini dengan niat yang baik dek, bagaimana mungkin Kakak menyuruh nya pulang begitu saja" ucap Vania.
"Kakak tenang saja, Tania akan bantu teman Kakak tersebut. Jadi sebaiknya kita ke kamar dulu ya" ucap Tania.
Mau tidak mau Vania pun mengikuti apa kata adik nya tersebut.
Vania tahu, apa pun yang di katakan oleh adik perempuan nya itu benar, situasi saat ini tidak akan bisa mengubah jalan pikiran ayah nya karena sudah termakan oleh kata-kata Arvin.
Sebelum pergi, Vania mengambil Elmira yang kembali menangis di gendongan Bu Ratih.
Dengan tatapan sendu, Vania menatap Andra yang masih meringis kesakitan karena pukulan Pak Jimmi tadi.
Sementara Arvin, tersenyum miring karena merasa dirinya menang saat ini.
Sesampainya di dalam kamar, Tania yang masih memakai seragam sekolah nya langsung menelepon seseorang.
"Sat, kamu di mana? Aku bisa minta tolong gak?" ucap gadis yang masih memakai seragam putih abu-abu itu.
..."Lagi di rumah nih, minta tolong apa Tan?" ucap seorang pria dari seberang telepon....
"Tolong kamu tunggu di depan rumah ku, nanti ada seorang pria yang akan keluar. Dia memakai jaket berwarna hitam, tolong kamu bawa dia ke rumah mu untuk sementara.
Dia tidak mungkin pulang ke kota saat ini, karena bus yang menuju kota sudah tidak ada.
Penginapan pun tidak ada di kampung ini, aku minta tolong ya" ucap Tania memelas.
"Oh, iya iya. Aku akan menuju ke rumah mu sekarang" ucap pria itu tanpa banyak bertanya.
"Terima kasih banyak Sat" ucap Tania yang merasa lega.
"Kak Vania, tenang saja ya. Aku sudah menyuruh teman ku untuk memberikan tempat tinggal sementara di rumah nya.
__ADS_1
Kakak tidak perlu khawatir, teman ku itu baik kok" ucap Tania.
Vania hanya mengangguk setuju, setidak nya ini adalah jalan terbaik selagi menunggu situasi mulai tenang.