Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Playing Victim


__ADS_3

POV Andra


Aku terkejut bukan main saat melihat wajah seseorang yang sangat tidak asing sudah berdiri dengan santai nya di dalam rumah ini.


'Sedang apa dia di sini? Apa yang di lakukan nya di sini?


Dan mengapa orang tua Vania mengizinkan nya menginjakkan kaki di sini setelah apa yang di lakukan pria itu pada putri mereka sendiri.' gumam ku dalam hati.


Tapi di luar dugaan ku, hal yang rumit pun terjadi. Aku sama sekali tidak menyangka dengan apa yang ku lihat dan ku dengar di sini.


Dan sesuai dugaan ku, orang tua Vania sama sekali belum mengetahui tentang prahara rumah tangga Vania yang sebenarnya.


Sebab Arvin sudah memutar balikkan Fakta dan memanipulasi keadaan seoalah-olah Arvin lah korban nya di sini, sementara Aku dan Vania adalah tersangka utama.


Dia sangat mahir dalam playing victim.


Dan yang lebih parah nya lagi adalah, orang tua Vania mempercayai apa yang mereka dengar dari Arvin.


Aku tertegun mendengar perkataan orang tua Vania, ada sakit ku rasakan seketika.


Bukan karena hinaan mereka pada ku, tapi cara orang tua Vania yang lebih mempercayai ucapan orang lain dari pada Vania yang merupakan putri kandung mereka sendiri.


Walaupun orang lain tersebut adalah seseorang yang masih mereka anggap sebagai menantu, tapi apa salah nya jika orang tua Vania mendengar cerita dari kedua belah pihak.


Bahkan orang tua Vania tega mengatakan hal yang tidak pantas pada Vania, merendahkan putri nya sendiri di depan orang.


Tapi yang membuat hati ku lebih mendidih adalah perkataan Arvin yang memanipulasi keadaan.


Bisa-bisa nya di memutarbalikkan fakta dan menyalahkan Vania.


Aku merasa pikiran Arvin sudah konslet, entah kemana jalan pikiran nya saat ini.


Dan itu sudah membuktikan seperti apa kualitas Arvin yang sebenarnya.


Sejenak aku sadar jika aku hanya lah sebatas tamu di rumah ini.


Aku tidak punya hak untuk mengatakan apa-apa, dan jika aku lebih banyak ikut campur lagi, mungkin orang tua Vania akan semakin tidak menyukai ku.


Tapi aku tidak tega melihat Vania sendiri saja tanpa ada yang memihak nya.

__ADS_1


"Vania, kami sebagai orang tua mu tidak mau tahu, segera minta maaf pada nak Arvin dan perbaiki lah hubungan rumah tangga kalian.


Apa kalian tidak kasihan pada bayi kecil yang berdosa ini?


Dia harus menanggung akibat dari apa yang di lakukan orang tua nya sendiri." ucap Ibu Vania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apa Bu? Kenapa harus Vania yang meminta maaf pada dia, sementara Vania lah korban di sini.


Vania lah yang paling banyak tersakiti di sini.


Apa Ayah dan Ibu tahu, jika Vania harus bermalam di dalam penjara karena ulah nya?" ucap Vania.


"Ibu tahu Vania, tapi kamu di penjara kamu ketahuan berbuat zina dengan lelaki itu" balas Ibu Vania.


'Astaga, apa yang baru saja ku dengar ini? Berzina?


Pikiran kotor Arvin semakin menjadi-jadi, dia benar-benar sudah mencuci otak orang tua Vania dengan segala kebohongan nya.


Selama ini aku dan Vania masih bisa menjaga batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan.


Ternyata Arvin hanyalah seorang pria yang bermulut lemas' gumam ku.


"A-apaa????" ucap Vania dengan mata yang membulat sempurna karena tidak percaya dengan apa yang didengar nya barusan.


Bahkan Vania pun tidak segan-segan hanya memanggil nama Arvin saja, tidak seperti sebelumnya yang masih memanggil nya dengan sebutan Mas.


"Vania!!! Belajar lah lebih sopan dan menghargai suami mu.


Tadi nya kami tidak percayakan dengan apa yang di katakan nak Arvin.


Tapi setelah kami melihat nya dengan mata kepala kami sendiri, sekarang kami paham.


Kamu bukan lah Vania yang kami besarkan dan kami ajarkan tentang nilai-nilai agama sejak kecil.


Bahkan putri kami dulu tidak pernah berani berbicara dengan meninggikan suara nya, dia adalah wania yang lemah lembut.


Hanya karena seorang lelaki, kamu melupakan semua ajaran-ajaran orang tua mu.


Kamu sudah di butakan oleh cinta Vania" teriak Ayah Vania.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Vania semakin mengencangkan isakan tangis nya, sehingga membuat Elmira pun ikut menangis kencang.


Melihat Elmira menangis, Arvin segera menghampiri Elmira yang berada di gendongan Vania.


Sebenarnya aku tak habis pikir, pertama kali Vania menginjakkan kaki di rumah ini, orang tua Vania bukan nya terlebih dahulu melihat atau menimang-nimang Elmira yang merupakan cucu nya.


Mereka lebih mengutamakan perasaan yang sedang berkecambuk karena perbuatan Arvin.


Semarah apa pun itu, hal pertama yang seharusnya nya mereka lakukan sebagai orang tua sekaligus kakek nenek Elmira adalah menyambut baik-baik dan mempersilahkan Vania duduk dulu karena sudah pasti Vania lelah sebab melakukan perjalanan jauh.


Tapi orang tua Vania sudah terlebih dahulu mencecar Vania dengan banyak pertanyaan bahkan melontarkan hinaan yang sama sekali tidak pernah Vania perbuat.


"Sayang, sini sama Papa. Kamu pasti kangen kan karena sudah lama tidak ketemu dengan Papa?


Bukan nya Papa tak mau, tapi keadaan yang tidak mengizinkan" ucap Arvin yang memulai kembali drama nya.


Aku melihat Vania yang sedikit menjauh saat Arvin mendekati nya.


"Vania, apa-apaan kamu ini nak? Kamu tidak bisa menjauhkan Elmira dari ayah kandung nya. Dosa itu nak" ucap Ibu nya Vania.


"Vania, izin kan aku untuk bertemu putri ku. Hanya sebentar saja" rengek Arvin.


Tapi melihat tatapan orang tua nya, Vania pun akhir nya menyerahkan Elmira pada Arvin.


Dan di luar dugaan, Elmira semakin kuat menangis saat Arvin menggendong nya.


"Kamu lihat kan? Bahkan putri mu sendiri enggan bersama mu" ucap Vania tersenyum miring.


"Mungkin ini karena akhir-akhir ini kami tidak pernah bertemu Vania. Sehingga membuat wajah ku tampak asing bagi Elmira" balas Arvin tak mau kalah.


"Bukan, itu sama sekali tidak ada sangkut paut nya karena sejarang apa pun Ayah dan anak nya bertemu, ikatan batin itu tetap lah kuat.


Tapi, Elmira yang masih kecil pun tahu mana yang pantas di anggap Ayah, dan mana yang harus di hormati" ucap Vania lagi.


"Vania!!!!!" teriak Ayah Vania dengan lantang sehingga membuat Elmira semakin mengencangkan tangisan nya.


"Cukup Ayah, tidak sepantasnya Ayah berteriak-teriak di depan anak bayi seperti itu, karena itu bisa menghancurkan mental seorang anak" ucap Vania sedikit lembut tapi sangat menusuk tajam.


Lalu Vania pun mengambil Elmira dari Arvin, mencoba menenang kan Elmira, tapi tetap saja Elmira menangis.

__ADS_1


Melihat orang tua Vania pun yang enggan melihat dan menenangkan cucu mereka, aku pun segera menghampiri Vania, dan mengambil Elmira dari gendongan nya.


Tidak di sangka, seketika Elmira pun terdiam di gendongan ku.


__ADS_2