
Sejak aku melihat Vania lagi, entah kenapa perasaan ku semakin bertambah pada nya.
Rasa penyesalan selalu menghantui ku karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dia.
Sementara perasaan ku pada Alexa, kian hari semakin berkurang. Terutama ketika kami sedang berada di Rumah sakit. Aku semakin mengenali sifat Alexa yang ternyata lebih buruk dari dugaan ku selama ini.
Hingga akhirnya aku harus di hadapi dengan dua pilihan yang berat dalam hidup ku.
Ibu seakan tidak mengerti dengan kondisi ku saat ini.
Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak ku, tapi Ibu selalu lebih mementingkan perasaan Alexa.
Ibu sangat mudah di perdaya Alexa dengan di iming-imingi uang. Aku tahu Ibu tidak pernah menyukai Vania, karena Vania berasal dari keluarga yang miskin.
Melihat kedekatan Vania dan Andra akhir-akhir ini, membuat ku menjadi takut akan kehilangan Vania untuk kedua kali nya.
Apalagi aku tahu jelas seperti apa perasaan Andra pada Vania sejak dulu.
Tapi kali ini aku akan membuat keputusan yang tepat untuk hidup ku. Aku tak mau nanti nya akan menyesal lagi.
Aku akan memperjuangkan Vania, kami memiliki alasan untuk mempertahankan rumah tangga kami karena sudah ada Elmira di antara kami.
Dan tentang Alexa, aku akan menceraikan nya. Aku benar-benar tidak tahan lagi hidup berumah tangga dengan Alexa. Belum lagi rumah tangga kami selalu ada campur tangan dari orangtua nya.
Dan itu membuatku menjadi laki-laki yang tidak punya harga diri sebagai kepala rumah tangga.
Apa pun akan aku lakukan agar Vania memaafkan ku dan menerima ku lagi.
"Vania, aku mohon kembali lah pada ku. Aku akan melakukan apa pun agar kamu memaafkan ku." aku pun meraih tangan Vania dan menggenggam nya.
__ADS_1
Seketika Vania menyingkirkan tangan nya dan menatap ku tajam.
"Mas, kalau kamu hanya ingin mengatakan ini, maaf aku tak mau mendengar nya lagi." Vania beranjak dari kursi.
Tak mau menyerah, aku kembali meraih tangan Vania.
"Vania, aku minta maaf" ucap ku.
"Arvin!!!" Tiba-tiba aku mendengar suara yang tak asing bagi ku.
Aku mencari sumber suara tersebut, dan ternyata dugaan ku tak salah.
Aku melihat Papa mertua sudah berdiri menatap ku dengan tatapan yang seakan ingin menelan ku hidup-hidup.
"P-papa" ucap ku gugup. Vania pun langsung menghempaskan tangan ku yang masih menggenggam tangan nya. Dari tatapan Papa, aku yakin jika Alexa sudah mengadukan kejadian tadi pada papa nya.
Papa pun menghampiri ku, dan tanpa aba-aba Papa langsung meninju wajah ku.
Aku pun jatuh tersungkur ke lantai, aku memegang sudut bibir ku yang mengeluarkan cairan berwarna merah.
Ini bukan lah pertama kali nya Papa Mertua melakukan kekerasan pada ku, karena Papa mertua termasuk orang yang tidak bisa berbicara hanya dengan mulut.
Aku melihat Vania tampak terkejut dengan perlakuan Papa yang tiba-tiba.
"Awalnya aku tidak mempercayai ucapan Alexa, tapi sekarang aku sudah melihat dengan mata kepala ku sendiri. Dasar laki-laki bajing4n" ucap Papa tampak murka.
Aku pun segera bangkit berdiri sambil memegang pipi ku yang terasa perih.
"Berani-berani nya kamu mempermainkan putri ku, apa kamu lupa seperti apa pengorbanan Alexa pada mu? Tanpa Alexa, kamu itu bukan lah apa-apa. Semua uang, jabatan, rumah, dan harta yang kamu miliki itu berasal dari Alexa. Kamu datang hanya membawa pakaian yang kamu pakai saja, apa perlu aku harus mengingatkan itu lagi pada mu?" teriak Papa mertua.
__ADS_1
Seketika orang-orang pun menatap kami, entah sudah berapa kali masalah rumah tangga ku menjadi bahan tontonan orang-orang di rumah sakit ini.
Sebenarnya aku sangat malu dan merasa sudah tidak punya harga diri lagi, terutama pada Vania karena dia telah menyaksikan semua hal yang memalukan pada diri ku.
"Dan kau, jika kamu memang perempuan baik-baik, kamu tidak akan menunjukkan wajah mu di sini lagi. Apa kamu sengaja ingin merusak rumah tangga putri ku?" Papa menunjuk-nunjuk Vania dan menatap nya sinis.
"Apa maksud Om? Walaupun aku sudah di tipu mentah-mentah oleh Mas Arvin dan Alexa, sedikit pun aku tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga mereka" ucap Vania.
"Diam kamu! Aku tidak meminta pendapat mu" ucap Papa membelalak kan mata nya.
"Pa, cukup. Papa bisa menghina ku, apa pun yang Papa lakukan pada ku selalu ku terima. Tapi jangan menghina Vania, apalagi sampai merendahkan nya. Vania tidak bersalah di sini, sudah cukup kita memberi luka pada nya" ucap ku.
Kali ini kesabaran ku sudah setipis tisu, rasa nya bom atom akan segera meledak dalam diri ku. Aku tidak terima jika Papa menilai Vania seperti itu, karena aku yang lebih mengenal Vania lebih dari siapa pun.
"Jadi sekarang kamu sudah berani melawan Papa? Hanya demi perempuan ini? Demi perempuan yang sama sekali tidak ada andil dalam segala kesuksesan mu Arvin." ucap Papa.
"Memang Vania tidak ada andil dalam kesuksesan ku Pa, tapi Vania tahu cara memperlakukan ku sebagai suami. Dia selalu menghormati ku dan tidak pernah semena-mena pada ku Pa" balas ku.
"Wajar jika dia seperti itu, karena dia sadar diri. Sementara Alexa, dia yang sudah berjasa dalam kesuksesan mu Arvin. Hal yang wajar jika dia banyak menuntut pada mu. Kamu jangan menjadi kan itu sebagai alasan untuk menyalahkan Alexa" ucap Papa.
"Sekarang aku sadar Pa, sikap Alexa yang selama ini selalu semena-mena itu berasal dari siapa. Ternyata Papa lah yang menjadi kan Alexa semakin manja dan harus mendapatkan apa pun kemauan nya. Dengan kejadian hari ini, aku tahu keputusan apa yang harus ku ambil" balas ku.
Plaaakkk
Sekali lagi Papa melayangkan tangan nya pada wajah ku, rasa sakit yang ku rasa kan tidak sebanding dengan sakit hati ku saat ini.
"Silahkan Papa mau menampar aku atau memukul ku sepuas nya. Aku sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh Papa" ucap ku.
"Kamu semakin kurang ajar Arvin, kamu tidak sadar diri seperti apa kehidupan mu sebelum nya. Ini lah ketakutan ku sejak awal ketika akan menikahkan mu dengan Alexa. Aku sudah menduga jika orang miskin bisa menjadi lupa daratan ketika sudah berada di puncak nya. Kamu memang tidak pantas untuk putri yang berharga" ucap Papa.
__ADS_1
"Aku sadar Pa, jika aku memang tidak pantas untuk Alexa. Jadi, mulai sekarang Papa bisa mencari pria yang paling pantas untuk Alexa. Bukan pria miskin yang tidak tahu diri seperti ku Pa" jawab ku.