
Aku terkejut dengan kedatangan Pak Brama yang tiba-tiba ke Rumah Sakit ini.
Tatapan nya jelas-jelas menunjukkan kemurkaan.
Dan yang sangat membuat ku terkejut adalah Pak Brama sampai melakukan kekerasan pada Mas Arvin.
Plaakkk
Sekali lagi Pak Brama menampar Mas Arvin.
Tapi walaupun aku melihat dengan mata kepala ku sendiri seperti apa perlakuan Pak Brama pada Mas Arvin, sedikit pun aku tidak merasa iba pada nya.
Antara mereka semua memang tidak ada yang bisa di benar kan.
Dan Mas Arvin harus menerima konsekuensi dari semua yang di lakukan nya.
"Pa, aku akan menceraikan Alexa secepatnya" kata-kata Mas Arvin itu membuat ku terkejut.
Terlalu gampang bagi nya memulai dan mengakhiri sebuah hubungan, apa lagi itu hubungan pernikahan.
"Apa kamu bilang? Apa aku harus mematahkan tangan mu sekarang juga? Berani-berani nya kamu mempermainkan Alexa. Apa kamu pikir aku akan menerima semua perbuatan mu begitu saja?" ucap Pak Brama.
"Aku tahu selama ini aku hanya jadi benalu untuk kalian Pa, tadi aku juga masih punya harga diri. Kalian tidak bisa menginjak-injak harga diri ku begitu saja" balas Mas Arvin.
"Harga diri? Apa kamu kira kamu masih punya harga diri? Laki-laki yang punya harga diri itu yang bisa bertanggung jawab untuk keluarga nya. Bukan hanya bermodalkan meminta-minta pada keluarga istri nya. Dan jika kamu berbicara soal harga diri, aku bisa membeli harga diri mu. Tinggal kamu katakan saja, berapa yang harus ku bayar?" ucap Pak Brama.
"Maaf Pa, sekarang aku tidak tertarik lagi dengan uang kalian. Kalian tidak bisa seenak nya saja memperlakukan aku layak nya sampah" balas Mas Arvin.
"Ini semua pasti gara-gara perempuan ini, kehadiran nya yang sudah membuat rumah tangga kalian hancur. Apa kamu mau merelakan masa depan mu yang cerah hanya karena perempuan ini? Apa kamu sebodoh itu Arvin?" ucap Pak Brama.
__ADS_1
"Iya, aku memang bodoh. Aku bodoh karena selama ini selalu menerima perlakuan kalian yang merendahkan aku" balas Mas Arvin.
"Kau.. Kau semakin kurang Ajar Arvin" Pak Brama mengangkat tangan nya hendak menampar Mas Arvin lagi.
"Papa, stop!" tiba-tiba Alexa datang bersama Ibu nya Mas Arvin.
"Nak, kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu harus melawan Pak Brama, seharusnya kamu menurut saja. Sekarang juga kamu minta maaf pada Pak Brama" ucap Ibu Mas Arvin.
"Kenapa Arvin yang harus meminta maaf Bu? Arvin merasa tidak bersalah, Ibu seharus nya melihat seperti apa kondisi ku saat ini. Ini semua karena perbuatan Papa nya Alexa. Dan sekarang Ibu meminta aku yang meminta maaf? Apa sedikit pun Ibu tidak peduli dengan perasaan ku?" ucap Mas Arvin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Arvin, jika kamu tidak melakukan kesalahan, tidak mungkin Pak Brama sampai melakukan kekerasan pada mu" ucap Ibu Mas Bayu.
"Ibu, karena kebetulan Ibu dan Alexa ada di sini. Aku akan menyampaikan sesuatu pada kalian semua. Aku akan menggugat cerai Alexa" ucap Mas Arvin.
"A-apa? Apa kata mu Mas? Kamu ingin bercerai dengan ku? Tapi kenapa Mas?" Alexa menghampiri Mas Arvin.
"Tidak Mas, aku tidak mau kita bercerai. Sampai kapan pun aku akan mempertahankan pernikahan kita" ucap Alexa.
"Apa lagi yang harus di pertahankan Alexa? Rumah tangga kita sudah hancur, dan kalian lah yang sudah menghancurkan nya" ucap Mas Arvin.
"Pa, tolong bujuk Mas Arvin Pa. Alexa tidak mau bercerai dengan Mas Arvin" Alexa memohon pada Ayah nya sambil menangis.
"Alexa!!! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu harus merendahkan dirimu dengan mengemis-ngemis pada lelaki yang tidak tahu diri dan miskin seperti dia?" ucap Pak Brama.
"Pa, ini juga karena Papa. Kenapa Papa harus memakai kekerasan pada Mas Arvin?" teriak Alexa.
Ibu Mas Arvin menatapku tajam, dan menghampiri ku.
Plaakkk
__ADS_1
Satu tamparan melayang pada wajah ku, kemudian Ibu Mas Arvin menjambak rambut ku sekuat nya.
"Ini semua pasti karena kamu, kamu yang sudah meracuni pikiran anak ku. Dasar perempuan tidak tahu diri. kenapa kamu harus hadir lagi dalam kehidupan anak ku, sebelumnya anak ku sudah bahagia dengan istri nya" ucap Ibu Mas Arvin.
Seketika Mas Arvin berlari menghampiri kami dan berusaha melepaskan tangan Ibu nya dari rambut ku.
"Lepas kan Bu, Vania tidak bersalah. Aku lah yang salah di sini Bu, aku yang tidak bisa tegas dan plin plan selama ini.
Aku yang sudah terlanjur mencintai Vania, dia sama sekali tidak bersalah " ucap Mas Arvin.
"Diam kamu Arvin, kamu tidak pantas dengan perempuan ini. Sampai mati pun Ibu tidak akan pernah merestui kalian berdua" Ibu Mas Arvin masih tetap menjambak rambut ku, bahkan dia semakin kuat menarik nya hingga rambut ku rasa nya mau lepas.
"Ibu, lepaskan. Tadi sudah jelas-jelas ku katakan, jika kalian hanya ingin membuat keributan di Rumah Sakit ini, lebih baik kalian pergi dari sini" ucap Mas Arvin.
Seketika Ibu Mas Arvin melepaskan tangan nya dari rambut ku, dan menatap tajam Mas Arvin.
"Sejak kapan kamu berani berkata hal yang menyakitkan pada Ibu? Kamu tega mengusir Ibu hanya demi perempuan itu. Hiks hiks" Ibu Mas Arvin pun menangis.
"Jika Ibu bisa di ajak bekerja sama, tidak mungkin aku sampai mengusir Ibu. Tapi Ibu sama sekali tidak mengerti dengan posisi ku saat ini. Aku malu Bu, kita jadi bahan tontonan di rumah sakit ini. Aku pun tidak tahu lagi mau di taruh di mana muka ku saat ini." ucap Mas Arvin.
"Semua nya akan baik-baik saja jika perempuan ini tidak di sini, seharus nya dia yang kamu usir Arvin. Bukan Ibu atau istri mu" ucap Ibu Mas Arvin.
"Maaf Bu, demi kebaikan Elmira, apa pun akan ku lakukan. Walaupun itu harus mengusir Ibu dari sini" ucap Mas Arvin.
"Mas, kamu sangat keterlaluan. Tega-tega nya kamu memperlakukan kami seperti ini Mas. Dan sekarang kamu mengatakan jika kamu mencintai perempuan itu. Kamu sudah menyakiti hati ku Mas" ucap Alexa tersedu-sedu.
"Alexa, silahkan jika kamu ingin menyalahkan aku. Aku terima semua kemarahan mu, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Maaf kan aku Alexa" ucap Mas Arvin.
Alexa pun menatap ku sinis, "Apa kamu sudah puas membuat rumah tangga ku hancur? Apa kau memang berniat balas dendam pada ku?" teriak Alexa.
__ADS_1