
POV Author
"Lalu setelah ini kita akan tinggal di mana mas? Bukan kah apartemen ini juga milik orang tua mu?" tanya Vania.
"Kamu tidak perlu khawatir Vania, apartemen ini adalah milik ku. Mama dan Papa ku sama sekali tidak mengetahui jika aku membeli apartemen ini.
Entah kenapa saat itu aku memiliki pikiran untuk tidak memberitahu Mama dan Papa jika aku membeli sebuah apartemen.
Ternyata ini lah arti dari semua nya" ucap Andra.
"Loh, tapi bagaimana mungkin Mas Andra membeli apartemen ini tanpa sepengetahuan orang tua Mas Andra?" tanya Vania keheranan.
"Ini hasil dari kerja keras ku selama ini. Selama aku mengurus perusahaan, aku memang menabung uang di rekening pribadi ku yang tidak di ketahui Mama dan Papa. Dan beruntung masih ada sisa nya untuk kita gunakan biaya hidup selama aku mencari pekerjaan" ucap Andra.
"Aku lega mendengar nya Mas, apa perlu aku juga ikut membantu mu untuk bekerja?" tanya Vania lagi.
"Tidak perlu Vania, kamu cukup di rumah saja menjaga Elmira. Aku tahu jelas jika kamu tidak ingin menggunakan jasa babysitter lagi.
Jadi kamu di rumah saja, cukup aku yang bekerja karena memang ini sudah kewajiban ku nanti nya jika sudah menjadi suami mu" balas Andra seraya mengelus lembut rambut Vania.
"Baik lah Mas, jika memang itu sudah menjadi keputusan mu" balas Vania tersenyum.
Tak lama kemudian bel pintu pun berbunyi.
"Mungkin pesanan kita sudah sampai Mas, bentar aku ambil dulu ya" ucap Vania.
"Tapi kamu masih ada uang kan Vania? Maaf saat ini aku tidak punya uang tunai" balas Andra.
"Ada kok Mas" balas Vania sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Vania pun datang sambil menenteng plastik yang berisi makanan.
"Bentar aku ambil kan dulu sendok sama air mineral Mas" Vania meletakkan kantongan plastik tersebut di atas meja.
Andra pun mengangguk tersenyum.
"Makan dulu Mas, pasti Mas Andra juga lapar kan? Sebab kita terakhir makan siang saja" Vania meletakkan gelas berisi air mineral dan memberikan sendok pada Andra.
Andra dan Vania pun menikmati makan malam nya, rasa lapar yang sejak tadi dirasakan mampu melupakan masalah pelik yang mereka hadapi.
"Vania, sebaiknya kamu kembali ke kamar mu menemani Elmira.
Kasian Elmira sendirian di kamar.
Tidak masalah kan saat ini aku tidur di sini? Aku akan tidur di kamar ku saja.
Kamu tidak perlu khawatir" ucap Andra saat mereka sudah menghabiskan makan malam mereka.
"Iya Mas, kalau begitu aku ke kamar dulu ya" ucap Vania bangkit berdiri dan berlalu ke kamar nya.
Setelah Vania masuk ke kamar nya, Andra pun ikut beranjak ke kamar nya.
Di apartemen itu memang terdapat tiga kamar, satu memang khusus kamar Andra sebelum nya.
Dan satu nya lagi di pakai Vania, sebenarnya kamar satu nya lagi untuk Elmira.
__ADS_1
Tapi Vania tidak mau, karena dia ingin berada di kamar yang sama dengan putri nya.
Setelah Andra berada di dalam kamar nya, dia pun membuka lemari nya.
Mencari buku tabungan yang selama ini di simpan nya.
Huuhhhhh
Andra menghela nafas pelan, sambil melihat buku tabungan nya tersebut.
'Sisa nya hanya ada 200 juta, harus ku apakan uang segini?' gumam Andra.
Karena sebelum nya uang segini tidak ada arti nya bagi Andra.
Dan sekarang dia harus memikirkan kelangsungan hidup untuk seterusnya.
'Bahkan mobil saja aku tidak punya, jika aku membeli mobil, mungkin sisa nya sedikit lagi. Dan itu pun hanya mobil biasa saja.
Ah sudah lah, aku akan memikirkan nya nanti. Sekarang lebih aku mandi dulu lalu beristirahat" gumam Andra lagi.
***
Keesokan pagi nya, Andra dan Vania pun bersiap-siap akan ke kampung Vania.
"Mas, sudah siap kan?" tanya Vania.
"Sudah sayang, kita berangkat sekarang yuk" balas Andra, Vania pun mengangguk setuju.
"Mas, aku pesan taksi online dulu ya untuk kita ke terminal" ucap Vania.
"Iya sayang" balas Andra.
"Itu dia Mas, taksi nya sudah datang" ucap Vania, setelah itu, mereka pun menaiki taksi tersebut.
"Pak, apa bisa sebentar singgah di ATM center?" tanya Andra pada supir online tersebut.
"Boleh Pak" balas sang supir.
Tak lama kemudian supir online tersebut menepikan mobil nya di depan ATM center, dan Andra bergegas keluar.
Vania sempat heran, karena sepengetahuan nya Andra tidak memiliki apa-apa lagi.
Bahkan semua nya sudah di tinggalkan di rumah orang tua Andra.
Hanya beberapa menit, Andra pun kembali dan memasuki taksi tersebut. Dan taksi tersebut pun melaju ke arah tujuan mereka.
"Mas, ngapain ke ATM? bukan kah Mas bilang semalam..." ucap Vania tanpa meneruskan ucapan nya.
"Nanti aku akan cerita pada mu Vania" ucap Andra sehingga Vania pun mengangguk mengerti.
Hingga akhir nya taksi yang mereka tumpangi pun berhenti di tempat tujuan mereka.
Setelah Andra membayar ongkos nya, mereka pun menuju counter terminal untuk membeli tiket.
Setelah semua selesai, Andra dan Vania pun menaiki bus tujuan ke kampung Vania.
__ADS_1
"Maaf ya Vania, aku hanya bisa membawa mu dengan menaiki bus" ucap Andra yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Mas, mau naik apa pun itu sama saja, yang penting kita sampai ke tujuan dengan selamat.
Sebelum nya juga aku sudah terbiasa menaiki bus, jadi ini sudah hal biasa untuk ku Mas.
Malah, aku yang tidak enak pada mu Mas.
Yang biasa nya kemana-mana naik mobil, sekarang harus naik Bus" ucap Vania.
"Tidak masalah kok Vania, yang penting bersama dengan mu, aku sudah bahagia kok" ucap Andra sambil merangkul Vania.
"Terima kasih Mas, karena kamu sudah pengertian. Pasti ini kali pertama mu naik US kan?" ucap Vania sambil terkekeh.
Andra pun membalas dengan senyuman khas nya.
"Sini, biar aku saja yang menggendong Elmira. kamu tidur saja dulu" ucap Pak Andra.
Vania pun menyerahkan Elmira pada Andra, "nanti kalau sudah lelah, kita bergantian saja Mas" ucap Vania yang di angguki Andra.
Setelah melakukan perjalanan enam jam, akhir nya bus yang mereka tumpangi pun berhenti.
"Mas, ayok turun. Kita sudah sampai" ucap Vania membangunkan Andra yang tertidur.
Di tengah perjalanan mereka bergantian menggendong Elmira, sehingga Andra pun tertidur karena mengantuk.
"Lama juga ya sampai nya" balas Andra seraya meregangkan otot-otot tangan nya.
Mereka pun turun dari bus, lalu melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot.
Hingga akhir nya mereka pun sampai di tempat tujuan mereka.
Hanya berjalan beberapa langkah, akhir nya Vania dan Andra pun sampai di depan sebuah rumah yang tampak sederhana.
"Mas, ini rumah ku. Yuk, masuk" ucap Vania.
"Assalamualaikum, Ibu ayah, Vania datang" teriak Vania sambil tetap masuk ke dalam rumah, dan Andra tetap mengikuti langkah Vania dari belakang.
"Ibu, Ayah, kalian di mana?" ucap Vania lagi.
Dan ternyata orang yang di cari Vania sedang duduk di ruang tamu.
"Ayah, Ibu kalian di sini? Vania panggil-panggil sejak tadi tapi tidak ada yang menyahut, biasa nya Ibu dan Bapak pasti bersemangat mendatangi Vania sampai ke depan rumah" tanya Vania menghampiri orang tua nya hendak mencium punggung tangan kedua orang tua nya.
Tapi bukan nya menyambut kedatangan putri nya dengan hangat, tampak Ekspresi orang tua Vania yang datar dan dingin.
Bahkan mereka enggan menerima tangan Vania yang akan menyalam mereka.
Dan saat melihat Andra datang, orang tua Vania pun menatap nya tajam dan tampak Ekspresi wajah yang tidak suka.
Dan itu membuat Vania sedikit heran dengan Ayah dan Ibu nya yang tidak biasa nya seperti ini.
"Vania....." ucap seseorang yang berasal dari kamar.
Suara itu memang tampak tidak asing di telinga Vania sehinga Vania menoleh ke sumber suara tersebut.
__ADS_1
Deg
Seketika jantung Vania berdegub sangat kencang saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.