
"Mas, ayo kita pergi" Alexa menarik tangan Mas Arvin untuk pergi.
"Mas, kenapa dengan Elmira? Apa dia sakit?" tanya ku penasaran. Seketika Mas Arvin mengambil Elmira dari Alexa dan menjauhkan nya dari ku.
"Itu bukan urusan mu. Kau tak usah pura-pura peduli pada putri ku, lebih baik urus saja dirimu sendiri. Masih beberapa hari pisah dari mantan suami, tapi udah kegatelan sama laki-laki lain. Dasar, munafik" ucap Alexa.
"Diam kamu! Aku tidak bertanya pada mu. Dan satu lagi, seperti apa pun cara mu memisahkan aku dan putri ku, itu tidak akan pernah berhasil. Kau tahu kenapa? Karena aku adalah Ibu kandung nya. Dia adalah darah daging ku, selama sembilan bulan aku mengandung nya di perut ku. Kami bahkan satu detak jantung" ucap ku.
Plaaakkk
Alexa melayangkan tangan nya di wajah ku. Tentu aku tak akan tinggal diam menerima perlakuan nya barusan.
Plaakk plaaakkk
Aku membalas dua kali lipat untuk tamparan nya sehingga membuat Alexa membulatkan mata nya.
"Berani kamu menampar aku? Dasar perempuan kurang aj4r" ucap Alexa seraya mengangkat tangan nya hendak menampar ku lagi. Tapi aku langsung menangkisnya dan memelintir tangan Alexa hingga dia meringis kesakitan.
"Aawww sakit, sakit" ucap Alexa meringis kesakitan.
"Vania, apa yang kamu lakukan? Hentikan itu" ucap Mas Arvin menghampiri kami.
Vania, lepas kan. Lihat semua orang memperhatikan kita" Pak Andra berusaha melepaskan cengkraman tangan ku.
Aku pun melepaskan tangan Alexa, sedangkan Mas Arvin berusaha menenangkan Alexa yang meringis kesakitan.
"Aku akan melaporkan ini pada polisi, supaya kamu kembali mendekam di penjara" ucap Alexa.
"Silah kan, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mu itu. Asal kamu tahu, aku juga bisa melaporkan kalian atas kasus penipuan dan KDRT" balas ku.
Seketika Alexa dan Mas Arvin terkejut mendengar ucapan ku.
"Ciihh, emang kamu punya bukti untuk melaporkan kami?" ucap Alexa.
__ADS_1
"Siapa bilang kami tidak punya bukti? Aku sudah menerima surat visum dari rumah sakit. Jadi siap-siap saja pengacara ku akan menggugat kalian" ucap Pak Andra.
Mas Arvin tampak gelagapan, aku melihat raut wajah nya yang ketakutan.
"Apa maksud kalian Vania? Apa tidak bisa di bicara kan baik-baik? Kenapa kamu membuat keputusan yang sulit seperti itu? Ingat, Elmira masih membutuhkan sosok seorang Ayah" ucap Mas Arvin.
"Kenapa aku harus memikirkan itu jika kamu sendiri tidak memikirkan Elmira yang juga butuh sosok seorang Ibu." balas ku santai.
"Tapi sudah ada Alexa yang benar-benar tulus menyayangi Elmira. Beda hal nya dengan kamu Van, jika kamu yang merawat Elmira bagaimana kamu bisa memenuhi kebutuhan nya nanti? Pikirkan itu Vania, jangan egois" ucap Mas Arvin.
"Seperti apa pun Alexa menyayangi Elmira, aku adalah Ibu kandung nya. Rasa sayang ku pada Elmira jelas berbeda dengan Alexa. Kamu yang egois, kamu ingat itu Mas! Dan kamu gak perlu khawatir soal bagaimana aku membiayai Elmira, sekuat tenaga aku akan berusaha memberikan yang terbaik pada Elmira. Jadi tolong berikan hak asuh Elmira padaku, jika kalian tidak mau aku laporkan ke polisi" ucap ku.
"Mas, biarkan dia berbuat sesuka hati nya. Kamu tidak perlu takut, ada aku dan keluarga ku yang akan mendukung mu. Apa kamu lupa seperti apa keluarga ku? Kami punya banyak uang untuk menyewa pengacara yang terbaik" ujar Alexa.
Aku hanya tersenyum menyeringai mendengar ucapan Alexa barusan. 'Pantas saja kelakuan nya kurang aj4r, jika orang tua nya saja tidak mengajari anak nya dengan benar' gumam ku.
"Vania, mari kita pergi dari sini. Percuma kamu berdebat dengan mereka, tidak akan ada habis nya. Kita lihat saja, sejauh apa mereka bertindak. Dan kamu tidak perlu khawatir, ada aku yang akan selalu berada di samping mu dan mendukung mu" ucap Pak Andra.
"Elmira, Mama pergi dulu ya. Mama akan berjuang untuk merebut mu dari orang-orang yang tidak punya perasaan seperti mereka" ucap ku menatap Elmira.
"Itu tidak akan pernah terjadi" Alexa menatap ku sinis.
Aku tak menggubris ucapan Alexa dan memilih melanjutkan langkah ku. Sebelum pergi, aku melihat Mas Arvin menatap tidak suka pada Pak Andra. Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini. Tapi sedikit pun aku sudah tidak peduli lagi padanya.
"Aku salut pada mu Vania, kali ini kamu berani menghadapi mereka. Tetap lah seperti itu, jangan lemah lagi. Setidaknya demi putri mu" ucap Pak Andra.
Aku hanya mengangguk setuju, benar yang di katakan Pak Andra barusan. Tidak ada guna nya aku berlarut-larut dalam kesedihan.
Aku harus berjuang merebut hak asuh Elmira.
"Apa kita lanjutkan cari angin segar atau kita kembali saja ke kamar?" tanya Pak Andra.
"Lanjut saja Pak, jika di kamar akan membuat ku memikirkan kejadian tadi" balas ku.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu" sahut Pak Andra lagi.
Sampai di taman, aku menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sangat indah dan membuat mata menjadi segar.
"Apa kamu suka di sini?" tanya Pak Andra.
"Sangat suka" balas ku sambil mengangguk.
Lalu kami pun duduk di bangku yang ada di taman ini, seketika pikiran ku melayang pada Elmira.
"Apa lagi yang kamu pikirkan Vania?" ucap Pak Andra.
"Aku hanya memikirkan Elmira Pak, entah sakit apa putri ku saat ini"balas ku.
"Apa kamu penasaran?" tanya Pak andra. Aku hanya menganggukkan kepala.
"Kalau begitu aku akan mencari tahu. Kamu tenang saja ya!" balas Pak Andra.
"Bagaimana cara nya Pak? Mereka tidak akan memberitahu nya begitu saja pada kita. Bapak lihat sendiri kan seperti apa mereka tadi pada kita?" ucap ku.
"Apa kamu tidak percaya pada ku Vania?" tanya Pak Andra.
"Aku percaya Pak, maaf bukan bermaksud meragukan Bapak" balas ku.
"Vania!!!" tiba-tiba Mas Arvin datang menghampiri kami.
'Tapi kenapa hanya dia sendiri? Di mana Alexa dan Elmira?' gumam ku.
"Aku tidak menyangka ternyata seperti ini kelakuan mu yang sebenarnya. Jadi selama ini kau enak-enakan tinggal bersama lelaki ini yang merupakan Bos mu sendiri? Jangan-jangan selama ini kalian ada main di belakang ku?" tanya Mas Arvin yang tampak kesal melihat kami.
Plaaakkkk
"Apa kamu sadar sama apa yang kamu ucap kan barusan? Jangan sama kan aku sama dirimu sendiri" balas ku.
__ADS_1