Babysitter Ku Adalah Madu Ku

Babysitter Ku Adalah Madu Ku
Permintaan Mas Arvin


__ADS_3

Aku tetap melangkah masuk dan tidak menggubris semua ucapan Ibu Mas Arvin. Terserah dia mau mengatakan apa saja dan menghina ku sekasar apa pun, karena aku tidak peduli lagi. Bahkan aku sama sekali tidak sakit hati ketika mendengar semua hinaan kasar nya.


Bagi ku segala hinaan nya itu akan menguatkan ku dalam menghadapi semua masalah yang menimpa ku.


Saat ini prioritas utama ku adalah kesembuhan Elmira saja. Sama seperti Mas Arvin, yang lebih memilih kesehatan Elmira dari pada Alexa dan Ibu nya sendiri.


Jika aku mengingat-ingat segala perlakuan Mas Arvin dulu, aku masih tidak menyangka akan perbuatan nya akhir-akhir ini.


Karena dulu dia selalu memperlakukan ku dengan baik, sehingga aku percaya jika dia benar-benar mencintai ku.


Tapi sekarang, aku berpikir jika semua itu hanya lah bagian dari sandiwara nya.


Mengetahui fakta jika aku lah orang ketiga, seketika membuat ku menjadi orang yang bodoh.


Aku juga bersalah di sini karena tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang latar belakang Mas Arvin. Aku yang saat itu di buta kan oleh cinta dan perlakuan-perlakuan manis Mas Arvin, dengan mudah terbuai dan menerima lamaran nya begitu saja. Padahal kami belum lama saling mengenal.


Tapi apa yang harus ku sesali? Semua sudah terjadi, menyesal pun tidak akan memperbaiki keadaan.


Saat aku sedang duduk termenung di samping ranjang Elmira, tiba-tiba saja pintu di buka.


Aku melihat Mas Arvin berdiri menatap ku di daun pintu. Tatapan nya masih sama seperti dulu, saat kami masih berstatus suami istri. Saat Alexa belum muncul di antara kami.


"Vania, apa aku bisa bicara pada mu? kita bicara di luar saja. Kamu tidak perlu khawatir, Ibu dan Alexa sudah pergi" ucap Mas Arvin.

__ADS_1


"Baik lah Mas, tapi aku tidak bisa berlama-lama bicara dengan mu" aku pun bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan ini.


"Kita bicara di sini saja Mas, aku tidak bisa meninggalkan Elmira sendirian" ucap ku sambil duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan Elmira di rawat.


"Iya, tidak apa-apa Vania" balas Mas Arvin sembari duduk di samping ku.


"Vania, aku minta maaf atas perbuatan ku pada mu. Maaf kan aku yang sudah menipu dan mempermainkan mu selama ini" ucap Mas Arvin.


Aku pun menatap nya, "Untuk apa kamu minta maaf Mas? Semua sudah berlalu, sebaiknya kita tidak usah membahas masalah itu lagi" ucap ku.


"Tapi Vania, aku merasa tidak tenang karena perbuatan ku pada mu" balas Mas Arvin.


"Bukan kah selama ini kamu hidup tenang karena berhasil membodohi ku Mas? Jadi kenapa kamu tiba-tiba merasa bersalah? Dan kalau pun kamu merasa hidup mu tidak tenang, anggap saja itu balasan akan perbuatan mu pada ku" balas ku.


Aku menggeleng-geleng kan kepala karena mendengar perkataan Mas Arvin barusan.


"Bagi mu terlalu gampang untuk memulai dan mengakhiri Mas. Kamu egois Mas, kamu terlalu gampang mempermainkan pernikahan. Apa sedikit pun kamu tidak memikirkan perasaan ku?" ucap ku.


"Iya, aku mengaku bersalah Vania. Aku melakukan kesalahan yang besar, tolong maafkan aku Vania" ucap Mas Arvin.


"Aku bisa memaafkan mu Mas, tapi aku tidak bisa melupakan semua perbuatan mu pada ku. Dan satu lagi, secepatnya kamu urus surat perceraian kita Mas" balas ku.


"A-apa? Cerai? Apa kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita lagi Vania?" ucap Mas Arvin.

__ADS_1


"Apa Mas? Segampang itu kamu mengatakan nya. Apa kamu tidak ingat jika sudah menalak ku? Kita bukan suami istri lagi Mas. Kamu jangan lupa itu" ucap ku.


"Apa tidak ada sedikit pun ruang di hati mu untuk ku Vania? Aku janji akan memperbaiki semua nya, tolong kembali lah pada ku Vania" ucap Mas Arvin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf Mas, aku tidak bisa. Tidak mudah bagi ku untuk menerima mu lagi." ucap ku.


"Vania, plisss. Demi Elmira, apa kamu tidak ingat ada Elmira di antara kita?" balas Mas Arvin.


"Jika kamu sangat peduli pada Elmira, seharusnya kamu tidak melakukan ini Mas. Jika bukan karena Elmira, aku juga tidak mau lagi berurusan dengan mu apalagi dengan keluarga mu" ucap ku.


"Vania, pliss" Mas Arvin pun beranjak dari kursi kemudian berlutut di depan ku.


"Mas, kamu jangan seperti ini. Tolong, jangan membuat ku malu di sini. Sudah cukup Alexa dan Ibu mu mempermalukan ku di sini. Berdiri lah, apa kamu gak malu jadi bahan tontonan orang-orang?" ucap ku.


"Asal kan kamu mau menerima ku kembali, aku sama sekali tidak malu Vania" ucap Mas Arvin tetap bergeming.


"Tapi aku yang malu di lihat orang-orang Mas. Jangan jadi kan dirimu seperti orang bodoh lagi. Kamu pikirkan perasaan Alexa jika melihat mu seperti ini Mas. Jangan jadi pria yang egois" ucap ku.


"Aku akan menceraikan Alexa secepatnya Vania, selama ini aku memang sudah tidak mencintainya lagi. Dia selalu mengancam akan bunuh diri jika aku meninggalkan nya, dan keluarga nya juga ikut andil di sini Vania. Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi mereka, aku merasa seperti tahanan dan budak mereka selama ini. Aku baru sadar, jika kamu lah wanita yang pantas untuk ku, wanita yang paling baik yang pernah ku kenal" ucap Mas Arvin.


"Sekarang aku sadar, jika kamu hanyalah seorang lelaki pengecut dan pecundang Mas. Aku tidak mengatakan jika aku adalah wanita yang baik, tapi melihat mu seperti ini aku merasa kamu yang tidak pantas untuk ku Mas. Sudah cukup kamu mempermainkan perasaan orang lain" balas ku.


"Iya, aku memang pengecut dan pecundang. Tapi sekali ini saja, ajarkan aku menjadi lelaki yang lebih baik lagi Vania. Dampingi aku agar bisa menjadi suami dan Ayah yang baik untuk mu dan Elmira. Hanya kamu lah yang bisa mengubah ku Vania" ucap Mas Arvin.

__ADS_1


"Cukup Mas, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Jika memang niat mu berubah untuk lebih baik lagi, tanpa ada aku pun kamu pasti bisa. Jadi percuma kamu memohon sampai berlutut seperti ini, karena perasaan ku sudah tidak ada lagi pada mu" ucap ku.


__ADS_2