Bad Boy [Jjk]

Bad Boy [Jjk]
part 21


__ADS_3

◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️


Ini adalah titik penderitaan yang dialami seorang Lee Hyeri. Gadis malang ini, mendapat penyiksaan berupa kekerasan fisik dan kekerasan seksual dari Park Jimin. Tidak ada yang menolongnya, tidak ada yang bisa membawanya pergi dari cengkraman Jimin saat ini. Bahkan disaat seperti ini, Hyeri masih berharap jika Jeon Jungkook akan menolongnya.


Sepanjang hubungan seksual yang dilakukan Jimin padanya, Hyeri selalu dipukul dan disiksa, tidak ada jiwa iba, dan tidak ada rasa puas dari psikopat itu. Air mata terus membasahi pipinya, mengiringi penderitaan selama melayani napsu bejat seorang Park Jimin. Hyeri terus memohon ampun, agar Park Jimin mau mengakhiri penderitaannya segera, karna ini sangat menyiksa.


"Jangan menangis terus, bodoh!"


Plaaaak,


"Bunuh saja aku, Jim. Jangan kamu siksa begini, hentikan ... ini menyakitkan, hiks!" seru Hyeri, yang menangis tersedu-sedu, sepanjang berhubungan seksual dengan Jimin.


"Aku tidak akan membunuhmu, aku hanya ingin membunuh anak Jungkook!" tegas Jimin, yang terus memainkan tempo permainan lebih cepat. Meskipun keringat telah membasahi tubuh keduanya, rambut Hyeri sudah berantakan tak karuan, air matanya terus mengalir, serta darah dan luka lebam di sekujur tubuhnya.


Sungguh ini penyiksaan yang sangat sadis, dan menyakitkan yang dialami Hyeri, seorang ibu yang mempertahankan janinnya sekuat tenaga.


.


_____________****_______________


.


Setelah hampir semalam penuh, Jimin masih belum berhenti menyiksa Hyeri. Malam pengantin yang sangat menyiksa, Hyeri terus menerus dipaksa melayani seks keras yang dilakukan Jimin. Vibrator, cambuk, pukulan, permainan kasar, semua dikombinasi malam itu menjadi sebuah kamar bak neraka untuk Hyeri.


"Apa aku kurang sadis menyiksamu? Kenapa anak itu belum gugur juga? Brengsek ...." Seketika Jimin mulai putus asa. Setelah selesai menyiksa dengan memasukkan virbrator sebagai penyiksaan untuk Hyeri.


"Aaaaah, ya Tuhan. Aku sudah tidak kuat, Jim. Bunuh saja aku!" ujar Hyeri, yang merasa sudah lemas tak berdaya karna perlakuan sangat kasar, layaknya seperti binatang Jimin memperlakukan Hyeri.


Tangan dan kaki Hyeri diikat Jimin di setiap sisi ranjang. Membuatnya tidak berdaya melawan Jimin, yang menjadikannya budak seks sangat keji. Luka lebam kebiru-biruan, darah yang mengalir di bibir dan pelipis, tidak membuat Jimin iba.


"Apa aku harus memukul, menendang perutmu supaya dia mati? Baiklah, aku akan melakukannya!" ujar Jimin, yang sudah siap posisi untuk melakukan kejahatannya.


"Jangan, Jim. Kasihanilah aku, aku mohon jangan begini ... tidak jangan lakukan ini ... aku mohon padamu!" pinta Hyeri, yang menjerit histeris, mencoba membuat Jimin berhenti dengan apa yang ingin dia lakukan.


Tiba-tiba


Toook


Toook


Toook


Seorang mengetuk pintu, pagi sekali. Padahal ini masih pukul 04:55, dan seseorang menjadi penyelamat untuk Hyeri dan janinnya.


"Sial, siapa yang mengetuk pintu?!"


Segera Jimin melepas semua ikatan di kaki, dan tangan Hyeri. Pria itu kemudian membungkus tubuh wanitanya dengan selimut sangat rapi, membuat Hyeri hanya terdiam sambil menangis terisak.

__ADS_1


"Tetaplah di sini, jangan menangis. Aku gak mau orang curiga, dan kalau sampai itu terjadi, kamu akan tahu akibatnya!" Ancaman Jimin, membuat Hyeri hanya terdiam. Dia berdoa, agar keajaiban datang menolongnya saat ini, untuk membiarkan Hyeri lari dari cengkraman menyakitkan dari Park Jimin. Pria itu memakai celana boxer pendek, lalu berjalan membukakan pintu.


.


_____________****_____________


.


Jimin akhirnya pergi, untuk membuka pintu. Seorang assistant rumah tangga Jimin tengah memberitahukan sesuatu dengan membisikkannya suatu hal yang tidak bisa di dengar Hyeri.


"Apa kamu serius?" tanya Jimin terkejud.


"Aku serius tuan,"


"Tolong jaga dia, aku tidak mau dia keluar kamar. Jika nanti malam aku tidak pulang, maka kamu harus tetap menguncinya di kamar."


Sebuah titah dari Jimin, yang langsung membuat assistant rumah tangganya mengangguk. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Jimin seolah panik dan segera mengambil baju di lemari untuk dipakainya.


Setelah selesai memakai baju, Jimin datang menghampiri Hyeri. Pria itu merangkak keatas tubuh wanita yang menjadi istrinya, lalu mencium keningnya. Sementara Hyeri berusaha menghindar dengan membuang muka dari Park Jimin.


"Aku pergi sebentar, sayang. Kamu jangan nakal ... kita akan lanjutkan setelah aku pulang!" ujar Jimin, yang memarik dagu Hyeri dan memaksanya untuk berciuman lebih lama dengan pria yang **** tubuhnya saat ini. Tanpa rasa malu dan sungkan, padahal assistant rumah tangga itu, masih ada di ruangan ini.


"Aku akan sangat merindukan bibirmu yang lembut, dan darahmu yang manis!" ujar Jimin yang membelai rambut Hyeri, lalu tersenyum puas dengan keadaan Hyeri saat ini. Sementara Hyeri hanya menangis dalam diam, dia tampak jijik hanya sekedar menatap Jimin.


.


.


Tak lama, pria itu pergi meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Hyeri akhirnya mencoba untuk duduk dari posisi tidurnya dan menatap assistant rumah tangga itu dengan wajah sendu. Entah apa yang dirasakannya, assistant rumah tangga itu, menangis terisak, melihat Hyeri yang dalam keadaan mengenaskan.


Assistant itu kemudian mendekat dan memeluk Hyeri dengan sangat erat. Hyeri yang awalnya takut, juga ikut menangis tersedu-sedu ketika ada orang yang peduli dengan keadaannya saat ini.


"Tolong maafkan tuan muda, aku tahu dia sangat jahat padamu." Assistant itu menangis sejadi-jadinya, sambil membelai rambut Hyeri.


"Aku akan membantumu lari dari sini, percayalah padaku. Tuan Jimin tidak akan berubah, dia akan terus menyiksamu ... jangan sampai anak dalam kandunganmu menjadi korban." Tegas assistant itu, memberitahu Hyeri sambil melepas pelukannya.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya hyeri.


"Aku dari semalam mencoba untuk mencari cara, agar bisa membuat tuan muda pergi dan aku bisa menemuimu. Selagi dia pergi, aku akan membawamu pergi dari sini sejauh-jauhnya."


"Tapi, bagaimana jika Jimin menemukanku? pasti aku akan dibunuh!" ujar Hyeri ketakutan.


"Tuan muda pasti akan segera mencarimu bahkan dilubang semut sekalipun. Tapi akan aku pastikan, sampai anak itu lahir kamu harus tetap bersembunyi." ujar assistant itu, memberitahukan hal yang sangat berharga dan membuat Hyeri menangis terharu.


"Sebaiknya kita kerumah sakit dulu, untuk memastikan keadaan anak di dalam perutmu!" ujar Assistant itu, yang segera membantu Hyeri untuk bangun.


Jimin pergi keluar kota hari itu. Sebuah kebakaran besar melanda pabrik industri milik Jimin di kota Busan. Tentu saja itu akan memakan waktu berhari-hari, sebab Jimin harus membayar kerugian atas musibah kebakaran itu. Hal itu dimanfaatkan oleh assistant Park Jimin, untuk menyelamatkan Hyeri dan membawanya pergi jauh.

__ADS_1


.


______________****______________


.


Keesokan paginya, Hyeri dibawa assistant rumah tangga Jimin bernama bibik Jung, ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kehamilan Hyeri.


"Keadaan bayinya lemah, aku harap untuk sementara kamu jangan berhubungan suami istri dulu!" ujar dokter, memberitahu.


"Apa bayinya masih hidup?"


"Tentu, ini benar-benar keajaiban. Detak jantungnya baik, hanya saja kandunganmu bisa saja lemah, jika dipaksakan terus!" ujar dokter yang memberi obat penambah darah dan vitamin untuk Hyeri.


Setelah memeriksakan kandungannya, Hyeri dituntun bibi Jung untuk keluar dari ruangan dokter. Berapa mengejudkan, ditempat yang sama, Hyeri bertemu Jeon Jungkook. Pria itu segera mengejar Hyeri, dan menarik tangannya. Begitu mengenaskan apa yang dilihat Jungkook, karna Hyeri dalam keadaan sangat memprihatinkan.


"Hyeri!" panggilnya.


"Maaf aku buru-buru!" ujar Hyeri ketus.


"Kenapa dengan wajahmu? kenapa penuh luka? ada apa dengan tangan dan betismu? kenapa kebiru-biruan?" tanya Jungkook, yang memaksakan menanyai Hyeri.


"Bukan urusanmu, urusi saja hidupmu!" ujar Hyeri, yang acuh.


"Apa ini ulah Jimin?"


"Tidak ada urusannya denganmu. Minggir ...!" ujar Hyeri, yang tetap memaksa berjalan meninggalkan Jungkook.


"Hyeri, aku mohon katakan sesuatu!" tanya Jungkook, yang melihat perut Hyeri sudah mulai membesar dengan usia kandungan hampir 3 bulan. Pandangan Jungkook tertuju pada perut Hyeri, dan reflek tangan Jungkook menyentuh perut itu dengan tarapan sendu.


"Hentikan, jangan sentuh!" ujar Hyeri, dengan ketusnya menghalau tangan Jungkook.


"Kamu bilang itu anakku, kan? katakan Hyeri, aku kemarin sedang emosi makanya aku tidak mau mendengarkan ucapanmu. Tapi sekarang, aku mau dengar yang sebenarnya darimu. Aku sangat mempercayaimu ...!" ujar Jungkook, dengan tatapan sendu, yang tampak tidak tega melihat kondisi memprihatinkan Hyeri saat ini.


"Harusnya aku dulu menolak saat kau membawaku pergi. Aku menyesal, Jeon Jungkook. Tapi aku berterima kasih karna kamu sudah mengajarkanku bagaimana bisa membencimu ... aku bisa merawat anak ini tanpamu, meskipun ayahnya tidak menerima kehadirannya." Hyeri menitikan air matanya memandang Jungkook.


"Jadi, ini benar-benar anakku? katakan Hyeri?"


"Anak ini tidak butuh ayah sepertimu!" ujar Hyeri menangis dalam diam, lalu pergi begitu saja.


"Hyeri, aku mohon maafkan aku. Ayo kita pergi, dan aku akan bertanggung jawab. Izinkan aku menebus kesalahanku!" ujar Jungkook yang berlutut dihadapan Hyeri.


"Sudah terlambat!" ujar Hyeri, dengan ketusnya sambil terus pergi meninggalkan Jungkook. Di saat Jungkook hendak mengejar, sebuah suara memanggil.


"Jungkook ...!" panggil Anna yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan. Bukan karna hamil, melainkan Anna mengidap penyakit kista, yang menyebabkan kandungannya harus diangkat dan dia tidak bisa hamil.


Sedangkan Hyeri terus berjalan pergi meninggalkan Jungkook bersama bibi Jung. Ini adalah hari terakhir Jungkook melihat Hyeri, gadis itu pergi ke kota Gwangceon. Bibi Jung, menitipkan Hyeri pada seorang dokter muda dan tampan bernama Kim Seokjin.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2