Bad Boy [Jjk]

Bad Boy [Jjk]
part 27


__ADS_3

◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️


Dengan tergopoh-gopoh, Seokjin menggendong  Hyeri yang tengah merintih kesakitan luar biasa di perutnya. Dalam situasi genting saat ini, Hyeri malah hendak melahirkan dengan keadaan ketuban yang sudah pecah. Tidak ada taxi yang lewat. Hal itu membuat Seokjin panik tidak karuan, dan terus mempercepat langkahnya.


"Dok, tinggalkan aku di sini saja. Aku gak mau dokter dalam bahaya, sudah banyak jasamu yang telah menolongku. Percayalah, Park Jimin tidak akan membunuhku ... dia hanya ingin membunuh anakku. Pergilah dok, jangan hiraukan aku!" pinta Hyeri, yang semakin merasa sakit dan tak bisa menahan  kontraksi yang cukup hebat.


"Tidak akan, aku akan melindungimu ... apapun resikonya!" tegas Seokjin, yang terus menyebar pandangan di seluruh penjuru. Tiba-tiba sebuah taxi datang dan menepi, walau Seokjin tidak memanggilnya. Karena memang keadaan sangat genting, tanpa pikir panjang, Seokjin membawa Hyeri naik ke dalam taxi tersebut. Sedangkan mata-mata itu, juga mengikuti Hyeri dan Seokjin menggunakan mobil.


Dengan segera mobil taxi tersebut melaju cukup kencang, meskipun Seokjin belum memberitahu kemana mereka akan pergi.


"Bawa kami ke rumah sakit," titah Seokjin, pada supir taxi tersebut. Supir taxi itu hanya diam, dan terus menerus melirik Hyeri dari kaca mobil di atas kepalanya. Hal itu, cukup membuat Seokjin dan Hyeri curiga. Supir taxi yang memakai topi dan masker hitam itu, sedari tadi diam tanpa bicara, akan tetapi matanya terus mengamati Hyeri dari pantulan kaca mobil.


"Aaawwww sakit ... aku gak kuat dok, ini menyakitkan!" rintih Hyeri, yang sudah terlihat lemah tak berdaya.


"Biar aku periksa, sepertinya kamu akan segera melahirkan ... tapi kita masih di jalan, bagaimana ini?" gumam Seokjin, yang sudah keringat dingin karna panik. Sementara mata-mata mencurigakan itu, terus mengikuti mereka menggunakan mobil di belakang. Supir taxi itu semakin mempercepat laju mobil mereka.


"Sakit, dok!" rintih Hyeri.


"Kita terpaksa harus melakukan persalinan di dalam mobil ini, demi keselamatan nyawamu dan anakmu!" tegas Seokjin. Yang berkeringat deras karna gugup, sekaligus cemas.


"Tolong selamatkan nyawa Hyeri dan anakku, Hyung!" ucap supir taxi tersebut, membuat Hyeri dan Seokjin tertegun. Suara itu, terdengar tidak asing untuk Hyeri, karna setelah mengamati matanya lebih dalam, Hyeri sadar jika itu adalah Jeon Jungkook.


.



______________****______________


.


Mobil melaju cepat, mata-mata itu bertambah menjadi 3 mobil yang mengikuti mereka. Keadaan ini cukup gawat, karna 3 mobil itu tampak berlomba-lomba untuk menghentikan laju mobil taxi yang di kemudi Jungkook.


"Seokjin, Hyung. Tolong bantu persalinan Hyeri ... sementara aku akan terus mengontrol mobil ini, supaya tidak di hadang mereka." titah Jungkook, yang masih membuat Hyeri dan Seokjin  tidak percaya. Entah bagaimana bisa, kini Jungkook ada diantara mereka dalam kondisi begini.


Akhirnya tanpa pikir panjang, Seokjin melakukan tugasnya sebagai dokter, untuk membantu persalinan Hyeri di dalam mobil taxi yang di kendarai Jungkook, ayah kandung dari anak yang dikandung Hyeri.


Jungkook membuka maskernya, dia terus menerus melirik kearah kaca mobil diatasnya untuk melihat kondisi wanita yang dicintainya, tengah berjuang melahirkan buah hatinya.


"Jungkook, tolong atur mobilnya dengan baik, jangan sampai oleng karna pasti akan sulit!"


"Nee,"


Di sela-sela Hyeri yang tengah mengatur napas untuk mengejan. Kedua mata Hyeri dan Kedua mata Jungkook sering bertemu di kaca mobil itu. Hyeri menitikan air mata sambil terus merintih kesakitan.


"Hyeri, semangat ...!" kata-kata itu membuat Hyeri sedikit bisa bernapas laga. Sebenarnya dia masih belum percaya.


Mobil menolak jalan menuju kerumah sakit, akibat mobil mata-mata Jimin jumblahnya semakin banyak. Jungkook sesekali banting stir untuk menyela-nyela mobil di jalan umum yang cukup padat.


"Hyeri, kita lakukan sekarang, ya?"


"Iya dok!"

__ADS_1


Hyeri akhirnya menarik napas panjang dengan celana yang sudah di buka. Karna keterbatasan peralatan, Seokjin membuka bajunya untuk menyerap darah yang keluar beserta bayi yang sudah mulai keluar.


"Aaaaaaah, sakit dok!"


"Ayo ambil napas panjang, dan dorong ... kepalanya sudah terlihat!"


"Eeeeeeeeeeemmh!" Hyeri terus menerus berusaha mengejan, dengan keringat deras bercucuran.


"Halo, pak ... mobil kami di kepung. Ada yang tengah melahirkan di dalam mobil ini, berikan bantuan!" Jungkook tampak nenelpon aparat polisi untuk mengamankan mereka yang dalam situasi genting.


.


______________****______________


.


Hyeri terus berjuang mengejan, sedangkan Jungkook mencoba terus mengontrol laju mobil, dengan kecepatan tinggi lantaran mobil mengikuti mereka semakin banya.


"Sial, kita sudah dikepung!"


"Oeeeeeek ...!" suara lantang tangisan Jeon kecil membuat air mata Jungkook seketika menetes.


Hyeri berhasil melahirkan putra tampan, dengan bersusah payah di dalam mobil. Bayi itu, di bungkus baju milik Seokjin, sedangkan Hyeri masih terkapar lemas pasca persalinan darurat di dalam mobil.


Tiiiiin


Tiiiiin


Tiiiiin


Seorang keluar dari dalam mobil dengan wajah murkanya. Park Jimin membawa belati tajam ditangannya berjalan mendekati mobil mereka.


"Dokter, keluarlah dari mobil ... Bawalah anakku dan selamatkan dia, jika Jimin ingin membawaku, anak ini harus selamat!" gumam Hyeri memohon dengan nada lirih pada Seokjin.


"Enggak, anak ini gak boleh pisah dengan Ibunya. Dia bahkan belum mendapat ASI darimu!"


"Tapi, dok. Nyawanya akan dalam bahaya!"


"Aku akan di sini bersama kalian!"


"Jeon Jungkook, cepat pergi bawa Jeon kita ... aku gak mau Jimin melakukan kejahatan yang berakibat fatal, dia tidak akan membunuhku percayalah!"


"Hyeri, aku gak akan melakukan itu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi!"


"Ini bukan waktu yang tepat ... Jimin itu psikopat. Jika kamu memang benar mencintaiku, pergi dan bawa Jeon kita dari mata pembunuh seperti Jimin. Aku mohon ...!" pinta Hyeri, di sertai air mata yang terus mengalir.


Suasana ini tidak memungkinkan untuk bertahan. Karna Jeon kecil nyawanya dalam bahaya, sementara Jimin akan haus darah karna menginginkan Hyeri.


"Jungkook, bawalah putra kecilmu pergi ... aku akan melindungi Hyeri sekuat tenagaku!"


"Enggak, jangan suruh aku pergi ... aku bukan pengecut."

__ADS_1


"Pergilah Jungkook, ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan Jeon kecil!" pinta Seokjin yang memekik suara lantang pada Jungkook.


"Dokter, kamu juga pergi!"


"Gak Hyeri, aku akan melindungimu dari adik tiriku!" tegas Seokjin, yang menyerahkan Jeon kecil pada Jungkook.


Bayi mungil itu membuka mata sipitnya dan diam dalam baju yang membungkusnya. Ini memang pilihan sulit, tapi menyelamatkan Jeon kecil adalah hal utama saat ini, karena Jimin tidak mungkin membunuh Hyeri.


Akhirnya Jungkook keluar dari mobil membawa putranya menerobos keramaian mobil dan lari sekencang-kencangnya menggunakan masker dan topi. Hal itu tidak disadari Jimin, sebab dia mengira bahwa yang lari hanya seorang supir taxi yang ketakutan.


"Keluar kalian ...!" pinta Jimin, yang tidak digubris oleh Seokjin. Dia terus memegang erat pundak Hyeri yang sangat ketakutan.


"Cepat ambil batu untuk memecahkan kaca mobil ...!" titah Jimin, pada orang suruhannya.


"Aku akan keluar, kamu tunggu di sini!" pinta Seokjin, yang perlahan melepaskan tubuh Hyeri dan keluar. Air mata ketakutan Hyeri semakin deras terasa, karna Seokjin mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Hyeri.


"Ternyata, Hyeri selama ini kamu sembungikan, Hyung?" ucap Jimin, yang tertawa remeh melihat Seokjin yang hanya memakai pakaian dalam menatap Jimin sangat tegas.


"Jimin, jika kamu mencintai wanita ... kamu gak perlu melukainya. Kamu sudah dirasuki iblis!"


"Hyung, kamu saja yang gak tahu sikapku ... aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kumau!" tegaa Jimin menunjukan belati tajam ditangannya.


Hyeri yang panik melihatnya dari dalam mobil, akhirnya membuka mobil dan keluar paksa meskipun darah masih mengalir di selangkangannya.


"Park Jimin, jangan sakiti kakakmu sendiri ... bawalah aku, jika itu keinginanmu!" pinta Hyeri, yang meringis kesakitan tubuhnya menyandar di mobil dengan muka pucat pasih.


"Tentu, sayang ... istriku yang paling kucintai. Aku akan membawamu keistana kita!" tegas Jimin, yang mengalihkan perhatiannya dari Seokjin dan meletakkan belatinya ketanah.


"Berhenti Jim," tolak Seokjin, yang menarik tangan Jimin. Karna reflek, orang suruhan Jimin, menghunuskan belati tajam itu menembus perut Seokjin.


Jleeep


"Tidaaaaaak, dokter!" teriak histeris Hyeri, melihat Seokjin terkapar berlumuran darah di hadapannya.


"Kenapa kamu membunuhnya? kenapa kamu membunuh kakakku?" kesal Jimin, yang mencabut belati itu, lalu menusukkan pada orang suruhannya yang sudah membunuh kakak tirinya.


"Dokter ... Aaaaah, jangan tinggalkan aku dok, bangun dok hiks!" pinta Hyeri, menangis terisak walaupun dirinya masih dalam keadaan kurang baik pasca persalinan.



Tanpa pikir panjang, Jimin menggendong Hyeri dan membawanya ke dalam mobil untuk melarikan diri. Jimin membiarkan jasad kakaknya berada di tepi jalan dengan keadaan mengenaskan.


"Lepaskan aku, Jim. Berengsek kamu ... adik macam apa yang membiarkan kakaknya tergeletak tak bernyawa di jalanan?" kesal Hyeri yang tidak berdaya melawan Jimin karna tubuhnya juga lemah.


"Kita harus pergi dari sini, Hyeri. Kalau tidak ... polisi akan menemukanku, kita akan terbang keluar negri hari ini juga ... Korea sudah tidak aman untuk kita!" tegas Jimin, mengendarai mobil dengan cepat. Sementara Hyeri hanya duduk tidak berdaya karna kehabisan tenaga.


Malam yang sangat mencekam, kini Jimin menjadi buronan polisi dengan membawa Hyeri pergi dan bersembunyi.


Bersambung...


(Konflik akan segera berakhir)

__ADS_1


Nantikan next part.



__ADS_2