Bad Boy [Jjk]

Bad Boy [Jjk]
part 34


__ADS_3

◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️


Keadaan ini, cukup membuat hubungan suami istri ini sedikit renggang. Tidak dipungkiri, jika terdapat suatu keretakan yang membuat keduanya saling diam. Soobin kecil juga ikut merasakan hal itu, bayi kecil tampan itu terus menerus rewel bahkan sampai suhu badannya naik.


"Oeeeee ... Oeeeek!"


"Ssssssttt, Soobin sayang. Ibu ada di sini, nak!" Hyeri terus memeluk putranya yang tengah demam. Bayi mungil itu sedang tidak enak badan, dan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.


"Biar aku yang gantian menjaga Soobin. Kamu tidurlah ...!"


"Gak usah ... gak usah perduli!" ucap Hyeri dengan nada acuh. Hal itu tentu membuat keduanya saling diam, karna merasakan kesedihan yang berlarut-larut.


"Hyeri ... Soobin juga putraku, jadi aku punya kewajiban untuk menjaganya!" ucap Jungkook yang terus memaksa melunakkan hati Hyeri saat ini.


"Apakah kita harus terus bertengkar seperti ini? kasihan Soobin, dia pasti juga ikut sedih jika kita terus begini!"


Air mata Hyeri kembali deras mengalir. Sembari menyusui Soobin, yang terus rewel dengan suhu badan yang naik. Kompres membakut dahi bayi mungil tersebut, yang tidak bisa menyusu dengan baik.


.


______________****________________


.


Kesedihan ini, membuat Hyeri tidak bisa menahan amarahnya terhadap Jungkook. Hyeri merasa hatinya saat ini telah hancur, dan tidak bisa berfikir positif karnanya.


"Hyeri, maafkan aku ... aku sangat mencintai kalian!"


"Tapi kenapa, kamu ingin menyerah? kamu gak mau mempertahankan aku dan Soobin?" luapan kemarahan itu, disambut pelukan dari Jungkook.


"Maaf, maafkan aku Hyeri ... aku bingung, dosaku terlalu banyak padamu dan keluargamu!"


"Jangan ceraikan aku, Jungkook. Aku sangat mencintaimu ... aku rela menempuh jalan sulit hanya untuk bisa bersamamu. Jangan tinggalkan aku ...!" ucap Hyeri, yang menangis tersedu-sedu dipelukan Jungkook.


Pernikahan mereka kembali diuji, kembali datang badai yang menerpa. Saat ini, yang dibutuhkan adalah saling menguatkan dan saling melengkapi, bukan saling meninggalkan dan saling mengabaikan. Bukan hanya untuk kebahagiaan mereka berdua, melainkan juga untuk masa depan putra kecil mereka Soobin.


Semalam di kota Busan. Jungkook dan Hyeri masih dalam suasana sedih dan juga panik karna Soobin mengalami demam. Bayi itu kesulitan tidur, dan Jungkook membantunya berjaga untuk merawat putranya.


Soobin kecil terus menerus menangis, hal ini tentu membuat kedua orang tuanya bingung tidak karuan.

__ADS_1


"Jungkook, kamu tidurlah, Soobin biar aku yang jaga!"


"Enggak, Hyeri. Kita rawat Soobin bersama!" ucap Jungkook, yang tidak ingin melakukan kesalahan lagi, yang bisa membuat Hyeri marah padanya.


.


____________****____________


.


Semalaman Soobin rewel, menjelang pagi akhirnya demamnya turun dan bayi mungil itu akhirnya tertidur. Lelah menjaga putranya Hyeri terlelap dipangkuan Jungkook, sementara Jungkook tidak tertidur. Dia membelai dan mengusap pipi istrinya yang tengah mendekap Soobin dengan sangat erat.


Jungkook kembali teringat masa-masa silam. Masa dimana dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, masa dimana dia pertama kali bertemu Hyeri dan jatuh cinta.


Saat pertama pertemuan itu, hasratnya begitu menggebu, membuatnya gelap mata dan menghancurkan masa depan wanita yang kini tengah terlelap dipangkuannya. Begitu besar dosa yang sudah dia lakukan, hingga dia tidak tahu bagaimana memohon pengampunan. Namun, Hyeri selalu memaafkannya dan selalu mencintainya meskipun dia telah begitu bersalah dalam kesengsaraan yang dialami Hyeri.


Air mata ketulusannya jatuh, mengenai pipi Hyeri yang tidur dibawah pangkuannya. Hal itu membuat Hyeri seketika bangun, lalu menatap mata Jungkook yang sendu.


"Jeon Jungkook, aku mencintaimu!" ucap Hyeri yang kemudian bangun dari baringnya dan memeluk tubuh Jungkook sangat erat.


"Miane, Hyeri!"


"Enggak, sudah tidak perlu kamu bilang maaf. Tetap disisiku dan menjadi suamiku, ayo kita lewati ini bersama!" pelukan erat Hyeri, rasanya sanggup membuat Jungkook kembali tegar atas kegundahan hatinya saat ini.


"Aku memang sempat benci padamu, saat kamu mencampakanku. Tapi aku sadar, jika aku gak bisa mencintai pria lain selain kamu ... jadi, jangan campakan aku lagi!"


"Aku berjanji padamu!"


Semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa. Pohon itu, harus memiliki akar yang kuat mencengkram tanah, agar tetap bertahan demi buah yang mereka hasilkan. Sama halnya dengan cinta mereka. Semakin besar rasa cinta diantara mereka, semakin berat pula cobaan yang menerpa, mereka harus punya keyakinan untuk bertahan demi anak mereka, Soobin.


.



_____________****_____________


.


Pagi ini, mereka semua kembali ke Seoul. Mereka juga membawa ibu Hyeri pulang ke rumah mereka, lalu membawanya ke psikiater. Ibu Hyeri benar-benar dalam keadaan memprihatinkan, meskipun Hyeri telah merubah penampilan ibunya lebih bersih dan baik.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?"


"Dia mengalami ganguan mental, dia bisa saja mengamuk dan itu cukup berbahaya. Apalagi, nyonya punya bayi!"


"Lalu, apakah Ibu saya bisa sembuh?"


"Kita harus memberikan therapy, untuk memulihkan mentalnya ... semoga saja kejiwaannya bisa pulih kembali!"


"Maksud dokter, Ibu saja sakit jiwa?"


"Iya ...!" ujar Dokter tersebut dengan nada tegas.


"Tapi, Dokter ... aku gak mau jauh-jauh dari Ibuku lagi!"


"Nyonya, ini keadaan cukup sulit. Dari pada dia di masukkan kerumah sakit jiwa, lebih baik dirawat di sini ... diruang rehabilitasi. Nyonya bisa menjenguk kapanpun!" ujar Dokter itu meyakinkan Hyeri. Air mata Hyeri tak terbendung, saat melihat kondisi Ibunya yang linglung.


Sementara Jungkook yang tengah menggendong Soobin, berusaha menenangkan hati Hyeri yang terpuruk saat ini.


.


____________****_____________


.


Ibu Hyeri akhirnya tinggal di ruang rehabilitasi. Sebuah kamar kecil, yang hanya ada sebuah ranjang dan lemari. Mulai sekarang, wanita yang telah melahirkan Hyeri harus tinggal disitu, sampai keadaannya pulih. Ibu Hyeri memang suka mengamuk, memukul, dan mencakar. Mungkin itu adalah bentuk trauma, saat dulu dia disiksa.


"Dia memukulku, aku memukulnya. Dia mencakarku, aku mencakarnya. Dia jahaaaaaat ... Aaaaaaaaaaaaa!"


Ibu Hyeri memang selalu histeris tidak karuan, dan membuat Hyeri tak kuasa menahan air mata karna nya. Bahkan tak jarang, Hyeri juga menjadi korban, dicakar dan dipukul ibunya sendiri hingga berdarah di lengan dan pipinya.


"Sebaiknya menghindar dulu, nyonya Lee cukup berbahaya!" ucap dokter, yang meminta Hyeri untuk keluar ruangan. Darah mengalir perih dipipinya, tak sebanding, dengan rasa sedih yang dialaminya melihat keadaan ibunya.


"Dokter, tolong sembuhkan Ibuku!"


"Kami akan berusaha keras untuk itu, percayalah!" ucap Dokter psikiater yang merawat Ibu Hyeri.


Kini, hari demi hari dilalui Hyeri dengan beban berat karna keadaan kedua orang tuanya yang memprihatinkan. Sementara proses hukum tengah dialami ayah Hyeri. Jungkook berusaha sangat keras agar ayah Hyeri bisa segera terbebas dari penjara yang menjeratnya selama ini.


Meskipun ini akan mempersulit mereka untuk bersama, akan tetapi baik Jungkook maupun Hyeri sepakat untuk melalui ini semua bersama dan tidak akan saling melepaskan satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2