Bad Boy [Jjk]

Bad Boy [Jjk]
part 24


__ADS_3

◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️


Malam yang sama, di mana kini Hyeri tengah menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba air matanya menetes, dadanya terasa sesak. Hyeri tak kunjung mengantuk, ia hanya merasakan rasa sakit yang entah dari mana asalnya. Hyeri hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sakit, dan ingin terus menangis.


Entah, apa yang membuatnya tiba-tiba hanya diam dan tak mampu untuk melupakan bayang-bayang Jungkook di pikirannya.  Setiap memejamkan mata, wajah Jungkook yang tersenyum padanya tergambar jelas di pikirannya. Sembari menarik napas panjang, Hyeri bangun dari baringnya dan duduk di malam yang sunyi.


"Kenapa aku memikirkannya, aku ingin melupakannya Tuhan...."


Hyeri yang malang, di dalam penderitaannya yang di alami karna mencintai Jungkook, dia masih belum bisa melupakan Jungkook dan belum bisa menghapus ingatan pahitnya. Mungkin, semua itu di karenakan bayi yang terkadung di dalam rahimnya, masih miliki hubungan darah dengan Ayahnya.


.


___________****___________


.


Malam ini, Hyeri belum bisa tertidur hingga sepertiga malam. Tiba-tiba dia mendengar sebuah suara sesuatu yang pecah dari arah dapur.


Braaaaak...


Dengan sangat terkejud, Hyeri keluar kamar dan diikuti Seokjin yang juga ikut memeriksa berbarengan malam itu. Sebuah piring hias telah pecah dan belingnya berhamburan di lantai.


"Aaaagh, ya ampun. Kenapa ini pecah?" Seokjin dengan segera mengambil pecahan kaca dengan tangannya.


"Jangan pakai tangan langsung ...." Larang Hyeri.


"Aaawwww!"


"Jarimu jadi terluka, kan!" ujar Hyeri, yang segera menarik tangan Seokjin.


"Dimana kamu menyimpan kapas dan obat merah? ini harus segera diobati supaya darahnya mampet!" ujar Hyeri, menanyai Seokjin.


"Tidak apa-apa, aku bisa obati sendiri kok!" ujar Seokjin dengan senyum ramahnya.


"Biarkan aku yang membereskan ini, kamu obati saja dulu lukanya!" ujar Hyeri memaksa.


"Jangan, biarkan aku yang membereskannya. Ini adalah piring peninggalan ibuku ... aku ingin membersihkannya sendiri dan menyimpannya."


Seketika Hyeri terdiam, dan menatap wajah Seokjin yang penuh dengan senyum meskipun sebenarnya dia tidak sedang bahagia. Setelahnya Seokjin kembali memungut pecahan beling, meskipun darah segae menetes di lantai karna luka sayatan di jari jempolnya.


.


______________****____________


.

__ADS_1


Setelah selesai memungut, Seokjin mengobati jarinya yang terluka dengan kapas dan obat merah. Hal itu dilakukan Seokjin sendiri, tanpa memberi izin Hyeri untuk membantunya. Keadaan ini cukup membuat Hyeri tertegun, melihat kemandirian seorang dokter muda Kim Seokjin.


"Kenapa kamu belum tidur? ini sudah malam, aku sudah baikan kok!" ujar Seokjin, sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.


"Kenapa kamu melarangku membantumu?"


"Karna aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri!" ujar Seokjin sambil merapikan kotak P3K di atas meja.


"Mulai sekarang, aku mohon izinkan aku membantumu ... aku juga tinggal di sini, jadi aku berhak membantumu!" ujar Hyeri, yang tampak menarik tangan Seokjin. Sontak hal itu membuat keduanya terdiam sesaat.


"Tapi, kamu di sini adalah tamuku. Bukan budakku!"


"Dokter ...!"


"Hyeri, jangan merasa tak enak ... kamu harus jaga kesehatan demi anak yang kamu kandung!" ujar Seokjin yang melepaskan tangannya dari genggaman Hyeri.


"Sejak kapan di rumahku ada tikus, ya? piring peninggalan ibuku sampai pecah!" gerutu Seokjin, sembari menatap pecahan beling piring di sebuah kotak yang menampungnya.


"Hatimu pasti terluka, karna melihat barang peninggalan ibumu pecah begitu ...!" ujar Hyeri, yang tanpa sadar menitikan air mata karna merasakan kesedihan Seokjin.


"Aku tidak apa-apa?"


"Dok ...!" panggil Hyeri.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu tidak menikah? kamu hidup di rumah ini sendirian. Tanpa assistant rumah tangga, tanpa keluarga, hidup sebatang kara. Apa sebenarnya yang kamu tunggu?" tanya Hyeri, dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


"Entahlah, aku tidak bisa jawab. Aku hanya ingin mengabdikan hidupku, untuk membantu banyak orang menjadi dokter seperti keinginan Ibuku. Aku ingin beliau bahagia, melihatku di surga sana!"


"Tapi, apa kamu gak ingin melanjutkan hidup dengan menikah? Meliliki anak, hidup damai dengan keluarga kecil? Lalu jika kamu hidup terus sendirian, siapa yang akan merawatmu jika tua nanti?" tanya Hyeri, yang terlihat sedih menatap Dokter tampan Seokjin.


.


_______________****______________


.


"Pertanyaan cukup bagus, tapi aku tidak punya jawabannya." ujar Seokjin yang tampak murung seketika.


"Apakah dokter tidak pernah jatuh cinta?" tanya Hyeri, yang membuat senyum Seokjin langsung sirna dari wajahnya. Pria itu menarik napas berat lalu kembali menatap Hyeri.


"Dulu, pernah ... tapi dia sudah meninggal. Aku gagal menyelamatkan nyawanya. Kadang aku berfikir, title sebagai dokter tidak berguna!" ujar Seokjin, yang langsung murung seketika.


"Maaf dok, aku sudah bertanya terlalu dalam."

__ADS_1


"Namanya adalah Arra. Dia adalah gadis cantik, periang, imut, dan sangat manis. Aku menyukainya sejak kami masih kecil, tanpa dia sadari. Saat kami sudah sama-sama menginjak dewasa, dia datang padaku dan menceritakan betapa dia sangat bahagia."


"Lalu?"


"Dia mencintai pria lain ... dan pria itu adalah Park Jimin. Dia sangat mencintai adik tiriku, tapi sayang cinyanya tidak dianggap oleh adikku yang nakal. Beberapa bulan setelah mereka berpacaran, Arra hamil. Usia kandungannya sudah 2 bulan, tapi Jimin tidak mau menikahinya. Tanpa sepengetahuanku, Jimin memaksa Arra untuk aborsi karna Jimin tidak mau punya anak."


"Sekejam itu kah?"


"Yang namanya aborsi pasti punya banyak resiko. Resiko terbesar adalah pendarahan dan kematian. Arra mengalami pendarahan hebat pasca selesai aborsi dan dia meregang nyawa. Aku datang terlambat, karna beberapa saat setelah aku datang ... Arra menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kamu pasti sangat terpukul ...!"


"Yang lebih lucunya, Arra malah memberiku pesan. Agar aku tidak melakukan apapun pada pria yang sudah menghamilinya, yakni Park Jimin. Dia bahkan masih mencintai Jimin, disisa napas terakhirnya ... dan aku belum sempat menyatakan perasaanku!" ujar Seokjin, yang matanya berkaca-kaca menceritakan kejadian masa lalunya yang kelam.


.



_____________****___________


.


"Tapi, kamu harus melanjutkan hidupmu. Mencari pasangan, yang bisa menemani hidupmu, dok!"


"Tidak bisa, karna Arra selalu ada dalam hidupku selamanya. Ngomong-ngomong, saat tahu dari bibi Jung kalau kamu adalah istri Jimin. Aku sempat kaget, karna setahuku dia adalah pria yang tidak pernah jatuh cinta dengan tulus. Aku tahu, kenapa dia berusaha keras ingin membunuh anak itu, pasti karna dia sangat mencintaimu dan ingin kamu yang mengandung anaknya, iya kan?" tanya Seokjin, yang membuat Hyeri tercengang dengan kata-kata Seokjin.


"Kenapa kamu bisa sangat paham?" tanya Hyeri, yang sangat terkejud.


"Aku tahu karna aku adalah kakaknya. Hanya kamu yang bisa merubah sifat buruk Jimin, dan membuat dia menjadi lebih baik, Hyeri!" tegas Seokjin, yang menbuat pandangan Hyeri tertuju sangat tajam padanya.


"Maaf, aku gak mau. Aku tidak mau berurusan lagi dengannya ... anak ini juga bukan anaknya, jadi aku tidak bisa!" ujar Hyeri langsung menolak.


"Aku tahu, pasti kamu sangat sakit hati. Semoga sakit hatimu cepat reda!" ujar Seokjin yang memberi nasehat pada Hyeri. Setelah perbincangan hangat mereka berdua. Lalu dilanjutkan untuk istirahat di kamar masing-masing malam itu.


Di malam yang sama, Jungkook dan Anna sedang berada di dalam kamar yang gelap. Jungkook, memaksakan hatinya untuk menerima Anna malam itu, dia ingin menghapus wajah Hyeri dari pikirannya. Tapi semua itu gagal.


"Maaf Anna ... aku gak bisa!" ujar Jungkook, yang beralih dari atas tubuh Hyeri. Bahkan walaupun sempat bercumbu, Jungkook masih tidak bisa melakukan itu dengan Anna.


"Jeon Jungkook ... kenapa? apa tidak bisa walau hanya sekali?"


"Enggak bisa ... maaf!" ujar Jungkook, yang langsung keluar kamar dan membanting pintu cukup keras. Jungkook pergi menuju kolam renang, lalu merendamkan tubuhnya. Di otaknya hanya memikirkan Hyeri, dia tidak bisa menghianati pikirannya untuk memikirkan Anna walau hanya sekali.


"Hyeri ... kamu di mana?" gumam Jungkook, yang menitikan air mata tanpa sadar.


"Aku merindukanmu ...!" gumamnya, yang berada di dalam kolam renang sendirian di tengah malam yang sudah semakin larut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2