
Seharusnya aku tidak mengenalnya kalau akhirnya aku mulai jatuh cinta dengannya. Pria yang baru genap 18 tahun ini sungguh membuatku merasa dianggap sebagai seorang wanita. Selama umurku 27 tahun, orang menganggapku wanita perkasa dan semua pria yang kukenal selalu menganggapku sebagai pria sama seperti mereka. Bahkan pria yang kukagumi pun takut denganku, padahal aku tidak melakukan apapun padanya. Dia merasa, aku selalu dikelilingi oleh pria jadi ia tidak berani mendekatiku. Alasannya, dia takut jika salah satu di antara pria temanku itu menaruh hati padaku dan melakukan hal buruk padanya di belakangku. Padahal mereka menganggapku wanita saja tidak. Menyebalkan bukan?
Jonathan, bocah yang baru lulus SMA ini terang-terangan mendekatiku di depan banyak orang. Bahkan menggunakan semua kemampuan anak SMA-nya untuk membuatku terpikat. Misalnya, selalu memuji penampilanku, mengkritik apa yang kulakukan, melakukan skinship lebih dari yang temanku lakukan, bahkan dia berani melakukan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya. Memelukku dari belakang. Sungguh pengalaman pertama yang membuatku langsung terkena serangan jantung sesaat.
Wajah dia yang tergolong masih muda ini sebenarnya dapat dengan mudah membuat gadis-gadis belia seusianya jatuh hati padanya. Entah kenapa bocah ini suka bermain-main denganku dan menganggapku wanita seumuran dengannya. Padahal aku selalu saja menganggapnya bocah yang harus kuhindari karena aku tidak ingin jatuh cinta dengan anak kecil. Bisa kalian bayangkan sendiri umurku dan umurnya terpaut 9tahun.
Suatu hari, aku harus melakukan pekerjaan yang membuatku harus mengangkat beberapa kardus buku. Aku seorang pustakawan yang selalu mencintai buku. Menyingkirkan buku-buku dari Perpustakaan itu sungguh menyedihkan. Namun bagaimana lagi perpusku begitu penuh dengan buku dan buku baru berdatangan terus menerus. Dan karena hal itulah, buku yang lama disiangi dan dimasukkan ke dalam kardus dan membawanya ke luar pulau untuk disumbangkan.
Sialnya teman-temanku pria tidak ada yang bersedia membantu mengangkat kardus-kardus berat ini, aku harus sendirian mengangkatnya dan menaikan ke mobil box di depan gedung. Sudah beberapa dus buku aku angkat ke belakang mobil box. Kulihat bocah itu berdiri dengan teman-temannya mengobrol tak jauh dari mobil box tempat kardus bersemayam sementara. Kuabaikan saja, aku tidak mungkin meminta bantuannya. Aku pasti dimarahi oleh ibunya, jika beliau sampai tahu aku memanfaatkan anaknya.
Kupilih mengambil lagi beberapa kardus di perpustakaan ke dekat mobil box. Setelah semua kardus berada di belakang mobil box, aku mencari anak tangga kecil yang biasanya digunakan untuk naik podium, yang hanya ada 5 sampai 6 anak tangga dan terbuat dari papan kayu. Setelah menemukan dan meletakkannya di bawah pintu belakang box yang sudah terbuka, segera aku mengambil kardus dan membawanya naik ke atas.
Bocah itu masih setia mengobrol di sana, tidak ada hasrat atau niatan membantuku, sial. Padahal aku mengharapkannya menawarkan diri menolongku. Ya sudahlah, lagipula hanya 20 kardus, itu tidak seberapa dari pada harus mengangkat LPG 25kg berkali-kali, ini masih mending. Aku sudah menyelesaikan 10 kardus dan masih ada 10 kardus lagi.
Kulirik jam tanganku, jam 12. Waktu pulangku, sial aku harus menyelesaikan semua ini dengan cepat. Setelah itu aku dapat terbebas dari pekerjaan ini dan menikmati hari bebasku. Karena terlalu bersemangat dan terburu-buru, aku jadi asal-asalan menaiki anak tangga kecil itu. Entah kenapa anak tangga yg tadinya biasa-biasa saja menjadi bergoyang dan sedikit oleng dan membuatku kehilangan keseimbangan. Sialnya aku terjatuh, untungnya aku terjatuh di atas kardus-kardus buku. Walaupun tetap saja sakit, namun tidak membuatku harus merasakan lantai batako yang keras dan tajam.
"Auw... " seruku saat pantatku mulus menabrak beberapa kardus yang membuat mereka berjatuhan dan saling menimpa satu sama lain. Sial sekali diriku ini.
"Kakaknya nggak papa?" seseorang menghampiriku. Kulihat dari kakinya yang panjang mengenakan celana panjang kain warna hitam dan sepatu sneakers warna biru, naik melihat pakaian yang dikenakannya polo shirt warna putih dan berakhir melihat wajah yang tak asing bagiku. Bocah berkaca mata berkulit putih dan gaya rambut spiky-nya.
Kuanggukkan kepalaku mengiyakan ucapannya, walau sekarang pantatku mati rasa. Aku berusaha berdiri namun sebuah tangan terjulur untukku. Kupandangi sang pemilik, aku tidak meraihnya malahan dia yang menarikku untuk bangkit berdiri. "Thank's " ucapku sambil sedikit menunjukkan senyuman di atas ringisanku menahan sakit.
"Kenapa nggak minta tolong cowok sih buat ngangkat ini kardus? Kakak kan cewek masa mesti angkat nih kardus sendirian?" bentaknya padaku.
__ADS_1
Aku dibentak olehnya, atas dasar apa dia memarahiku? Apa haknya membentakku seperti itu? Walaupun bentakkannya itu sebenarnya mencemaskan diriku. Namun setidaknya jangan bentak aku di depan umum. Kusunggingkan senyumanku padanya, katanya orang emosi akan reda kalau kita menunjukkan senyuman kita pada orang tersebut, iya kan?
"Ini kan tugasku, mereka punya pekerjaan lain. Lagian ngangkat ini nggak masalah kog" ucapku beralasan.
"Terus yang barusan jatuh itu nggak masalah?" bibirku terkatup rapat mendengar ucapannya yang seratus persen benar. "Tunggu di sini" ia menyuruhku berdiri di samping mobil box, kemudian membantuku memasukan beberapa kardus ke dalam mobil.
Selesai memasukannya kulihat dia berkeringat. Aku hendak menghampirinya, namun kakiku tak mampu berjalan dengan semestinya akibat jatuhku tadi. "Sudah kan? Ini sudah waktunya kakak pulang kan? Bisa kan pulang sendiri?"
Kuanggukkan kepalaku, "thank you ya, Jo" ia tersenyum kemudian berpaling dariku. Aku meringis menahan sakitku, sial kenapa rasanya sakit sekali. Kupegangi pinggangku. Kaki sebelah kananku sepertinya bermasalah. Aku berusaha berjalan tertatih.
Seseorang berdiri di depanku. Kulihat sepatu biru itu lagi, kepalaku langsung menengadah menemukan wajah itu, ia mendesah kesal. "Kalau sakit itu bilang" dia mengulurkan tangannya membantuku, tanpa ragu aku menyambut uluran tangannya, menggenggamnya erat karena memang yang kubutuhkan sebuah penopang untuk membantuku berjalan karena ini sangat sakit. Pasti nanti akan bengkak atau memar.
"Sorry ngerepotin" entah kenapa ucapanku malah membuatnya merangkulkan tangannya dipundakku dan membantuku lebih mudah untuk berjalan yang seketika membuatku sungkan.
"Enggak, ini nggak parah kog. Istirahat sebentar juga sembuh" tolakku lembut. Aku tidak ingin diberi obat yang pasti. Karena aku tidak suka minum obat.
Saat memasuki gedung kudorong tubuhnya agar sedikit menjauh, aku tidak ingin orang lain salah paham melihat kami seperti ini. "Aku masuk sendiri saja" ucapku pelan berharap tidak melukai perasaannya.
"Kakak itu nggak bisa jalan, nggak usah deh sok-sokan kuat" bentaknya sambil mengeratkan pegangannya pada bahuku.
"Tapi... "
Ia memotong ucapanku. "Sudah deh, jangan peduliin orang lain, peduliin aja diri kakak. Kalau kakak kenapa-kenapa kan aku juga yang susah" ungkapnya. Walaupun nada dari kata-kata yang barusan keluar dari mulutnya terdengar ketus namun ada rasa khawatir di dalamnya.
__ADS_1
"Hm?" alisku terangkat naik mendengar ucapannya yang sedikit susah kucerna.
"Sudah deh, nggak usah banyak tanya" dia seperti menutupi sesuatu dariku.
Kami berjalan memasuki gedung, beberapa orang melihat ke arah kami. Tentu saja, posisi kami sungguh menarik perhatian. "Jo, aku jalan sendiri aja ya, nggak enak dilihatin banyak orang" ucapku sungkan. Aku tidak ingin ada gosip aneh-aneh tentang kami berdua.
"Kakak ini aneh, biarin aja mereka ngeliatin, yang penting kakak bisa sampai perpus baik-baik saja" ujarnya tanpa mempedulikan orang lain. Dia memang tidak pernah mempedulikan pandangan orang lain terhadapnya. Kalau dia merasa apa yang dilakukannya benar maka tidak perlu pendapat orang lain.
Jarak kami yang begitu dekat membuatku jadi salah tingkah sendiri. Apalagi pandangan orang yang membuatku malu. Aku hanya tidak ingin muncul rumor aneh tentangku dan bocah ini. Lagipula tak ada hubungan apapun dengannya hanya sebatas teman.
Aku merasakan sesuatu yang buruk yang akan terjadi setelah kejadian ini. Aku yakin akan terjadi sesuatu. Kami sampai di depan perpus. Kurogoh saku celanaku dan mengambil kunci perpustakaan. Jojo melepaskan tangan kirinya dari bahuku berpindah ke pinggangku. Seketika aku yang hendak memasukkan kunci ke lubang kunci terperanjat karena ulahnya. Kepalaku menoleh ke arahnya, berharap ia menyingkirkan tangannya, tetapi ia tidak bergeming sedikitpun.
"Buruan dibuka, jadi kakak bisa istirahat dulu" suruhnya tanpa dosa. Apa dia tidak sadar menyentuh tubuh seseorang tanpa ijin.
"Jojo" suara berat wanita paruh baya memanggil bocah di sampingku. Ia menoleh. Kepalaku pun mengikuti asal suara itu muncul. "Kamu ngapain?" tanyanya.
"Mama" ucap Jonathan saat mengenal pemilik suara itu.
Mataku mendelik melihatnya, seketika kudorong tubuh Jojo menjauh dariku dan berusaha sekuat tenaga berdiri dengan kakiku yang masih terasa nyeri. Untung Jojo tidak protes aku mendorongnya menjauh dariku. Lebih baik menghindar dari situasi seperti ini. Aku harus menghilang, jika saja dapat kulakukan.
^_^
Hei ho.... Rya bawa cerita baru...Penasaran apa yang terjadi selanjutnya??
__ADS_1
Ini cerita ada bumbu-bumbu real life dari Rya tapi hanya sedikit selebihnya imajinasi... Dinikmatin yuk.. Happy Reading 😘