Bad Feeling

Bad Feeling
Sorry My Friend


__ADS_3

_____***____


Menyembunyikan kebohongan dari sahabat kita? Itu namanya dosa besar. Aku tidak yakin akan selamanya menyembunyikan hal itu darinya. Aku sudah terlalu banyak berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan kecil yang kuciptakan sendiri. Aku tak ingin terjerat sendiri bahkan terbunuh oleh semua kebohongan yang kuciptakan. Hanya saja, aku tidak tau kapan akan mengatakan kejujuran tersebut kepadanya karena hubungan aneh yang kumiliki bersama Jonathan.


######Badfeelings


Usai kuliah, seperti rencana, Jojo mengantarku ke cafe tempatku bekerja. Ia mengajakku ke parkiran motor untuk mengambil motornya. Kaki kami berhenti di depan sebuah motor ninja warna hijau menyala. Jojo mengambil helm dan memakaikannya ke kepalaku dan kemudian mengambil helm yang lain dan memakaikannya ke kepalanya sendiri.


"Ada apa?" Jojo menatapku yang terdiam tanpa kata. Terlalu terkejut dengan pandangan yang barusaja terlihat olehku. Bukan motor matic biasanya yang digunakan Jojo kali ini, tetapi motor ninja.


Mataku terpaku memandangi motor yang kini ada di depan mataku. Motor besar dengan jok penumpang kecil tanpa pengaman dan menukik tajam. Sialan. "Ada apa dengan motormu? Kenapa berubah seperti ini? Dan lagi, mana jok untuk penumpangnya? Kau sengaja kan?" protesku.


Ia menepuk jok motornya. "Sengaja apa? Ini motor baru yang aku dapat dari hasil kerjaku selama ikut salah satu game yang dapat menghasilkan uang. Motornya keren dan aku suka bentuknya apalagi jok motornya" ia tersenyum penuh misteri.


"Kau ingin mencari kesempatan dalam kesempitan kan?" pikirku yang kurasa tepat seratus persen. Apalagi mengingat otak Jojo yang kurasa seperti otak pria kebanyakan. Modus.


"Kakak ini, modus dengan pacar sendiri boleh dong" akhirnya dia jujur juga.


"Tidak ada, bawa kemari tasmu" kutarik tas ranselnya dan mencangklongkannya di depan tubuhku. "Ayo naik, aku bisa terlambat" ucapku yang mau tak mau harus menerimanya. Karena aku juga tidak ingin berdebat dengannya terlalu lama dan membuang waktuku, yang nantinya berakibat membuatku terlambat masuk kerja. Jika hal itu terjadi pasti akan ada SP atau omelan dari manajer cafe yang panjang kali lebar.


Jojo mengikuti ucapanku dan naik di jok motornya. "Kakak ini, tidak romantis sama sekali. Masa dihalangi pakai tas segala?" protesnya.


"Kalau tidak mau aku bisa turun dan naik bus" ucapku yang sudah nangkring di atas jok yang tinggi dan menurutku sangat rentan bagiku jatuh dari motor jika tidak berpegangan pada si pengemudi.


"Aaa...baiklah. Tapi tetap pegangan yang erat ya?" ucap Jojo menyarankan. Aku hanya mengikuti ucapannya. Toh itu juga demi kebaikanku, kalau aku tidak berpegangan aku bisa terjatuh.


Kamipun akhirnya meninggalkan kampus dan pergi ke cafe tempatku bekerja. Tak berapa lama Jojo menurunkan aku di samping halte yang tak jauh dari cafe tempatku bekerja. Sialnya, aku malah bertemu sahabatku yang ternyata baru saja turun dari bus. "Rya, oo...siapa dia?" tanya Erna saat aku tiba di depan cafe. Mataku terbelalak akan kehadiran Erna yang tak terduga. Padahal aku selalu menghindari pertemuan seperti ini.


Jojo menyerobot. "Kenalkan aku Jonathan, pacar..."


Kusingkirkan tangan Jonathan agar tidak disambut oleh Erna. Aku tidak mungkin jujur kalau kami berdua pacaran. Lagipula aku belum bercerita tentangnya pada sahabatku satu ini, bisa-bisa aku dipecat jadi sahabatnya karena merahasiakan semua ini darinya. "Kau harus pulang, terima kasih sudah mengantarku" ucapku seraya mengusirnya untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.


"Kau pacar siapa? Aku Erna sahabat Rya" tanya Erna penasaran.

__ADS_1


"Aku pacar..." seketika aku membungkam bibir Jonathan.


"Kenapa kalian masih di luar, kerjaan sudah menunggu" seru manager cafe yang memergoki kami berdiri di depan cafe.


Erna langsung berlari kecil menyusul di belakang manager, namun kemudian menoleh ke arah kami. "Aku masih menunggu jawabanmu" serunya sambil menghilang memasuki pintu cafe.


"Kau ya, jangan sembarangan lagi mengaku sebagai pacarku. Aku sudah bilang kan, rahasiakan ini dari orang lain" ucapku memperingatkan.


"Aaa...masa dengan sahabat kakak sendiri tidak boleh?" rengeknya.


"Aku akan memberitahunya dulu, bukan darimu. Pulanglah, hati-hati di jalan" ucapku cemberut lalu memasuki cafe tempat kerjaku.


Seperti biasa aku perlu berganti seragam dulu sebelum bekerja baru kemudian keluar untuk bekerja. Kudengar beberapa pegawai wanita bergosip tentang seseorang, mungkin pelanggan cafe.


"Cowok itu cakep banget, udah tinggi, putih, cakep pokoknya" celetuk Dona.


"Walau brondong, gue juga mau..." sahut Monic berbisik sambil tersenyum.


Kucari asal mula penyebabnya. Kulihat seseorang yang kukenal duduk di salah satu meja di cafe itu. Pakaiannya masih sama seperti yang dikenakannya terakhir kali aku meninggalkannya. Hoodie putih dan celana jeans hitam dengan sepatu kets warna putih dengan corak biru dan sedikit hitam. Mataku membulat. Erna menghampiriku. "Anak itu yang mengantarmu tadi kan? Apa dia menunggumu? Memang siapa dia?" tanyanya penasaran.


"Aaa...mahasiswa yang sama. Kalau begitu akan aku cari tau siapa dia sebenarnya" ucap Erna yang otomatis tau kalau aku menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tunggu, biar aku saja yang catat pesanannya. Akan kujelaskan nanti" kutatap Erna dengan tampang memelas.


Kuhampiri meja Jojo yang sibuk dengan handphonenya. "Apa yang kau lakukan di sini?" bisikku padanya.


Ia tersenyum melihat kedatanganku. "Hanya mencoba mencicipi makanan di cafe ini? Kakak bisa rekomendasikan menu yang enak?" ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Aku akan membelikannya untukmu nanti, lebih baik sekarang kau pulang dulu" pintaku secara tak langsung juga mengusirnya.


"Kalau kakak mengusirku seperti ini, bagaimana nanti kakak menjelaskan tentang hal ini kepada manager kakak?" kulirik manager yang kini sedang berdiri mengawasiku yang sejak tadi berbisik ke arah Jojo dan berusaha menyuruhnya keluar. "Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun kepada sahabat kakak tentang hubungan kita...hanya saja...teman kakak sekarang ada di belakang kakak" ucapnya. Kepalaku menoleh mendapati Erna di belakangku, aku jelas terkejut.


"Sebenarnya kau pacar siapa tadi?" Erna sudah berdiri di belakangku dengan tatapan seorang detektif yang ingin mengetahui kebenaran tentang kasus tersembunyi.

__ADS_1


"Oh...biar temen kakak saja yang jelasin" sahutnya tersenyum ramah sambil mengerlingkan matanya ke arahku. "Aku pesan coffe latte ice sama sponge coklat mint 1" ucapnya lagi menyebutkan pesanannya.


Erna menulis pesanannya. "Baiklah ditunggu pesanannya" seperti biasa Erna tersenyum ramah kepada pelanggannya. Kemudian menarik lenganku agar segera menyingkir dari tempat itu. Aku sempat melihat Jojo tersenyum. Sialan, bocah itu. Awas nanti.


"Sekarang jelaskan siapa bocah itu?" cerca Erna memaksaku mengakui kebenaran.


"Eum...tapi janji kau tidak akan marah atau berteriak?" pintaku memelas.


"Okey" sahutnya cepat.


"Kami berdua pacaran dan sudah jalan satu bulan" ungkapku jujur.


"DAEBAK!!" seru Erna spontan kaget mengetahui kebenarannya. Beberapa pegawai dan pengunjung sempat menoleh ke arah kami.


Kupukul lengan Erna. "Kau ini, kau kan janji tidak teriak" bisikku protes padanya.


"Sorry kelepasan" pekiknya pelan minta maaf. "Terus kalau kau pacaran sama dia, cowok yang kamu temuin di kampus itu?" tanya Erna yang sedikit banyak sudah aku ceritakan tentang pengalamanku bertemu dengan dosen tampan baik hati, Nick. Walaupun akhirnya aku malah memilih berkencan dengan bocah yang kini sedang duduk asyik mendengarkan musik melalui headphone-nya. Dia terlihat tampan jika sedang santai seperti itu.


"Tidak ada apapun dengannya. Dia hanya dosen baik hati" ucapku jujur karena memang aku tidak tau menau tentang dosen itu.


"Jadi sekarang kau pacaran dengan brondong 9 tahun? Wah...dunia sepertinya akan kiamat" ucap Erna yang kemudian memilih menyingkir membuatkan pesanan untuk pelanggannya.


Aku hanya mengikutinya dan membawakan beberapa roti yang sudah di pesan oleh beberapa pelanggan termasuk Jojo. "Kau...orang yang pernah bilang padaku tidak akan menyukai pria lebih muda darimu sekarang malah memiliki hubungan dengan...wah...kau berubah, Ya. Tetapi aku senang akhirnya kau keluar dari dinding istana yang selama ini kau bangun"


"Dia berhasil menemukan pintu rahasia yang sebenarnya sudah ada dari dulu hanya menunggu seseorang yang berani untuk membukanya" ungkapku.


"Kuakui bocah itu keren, bisa meluluhkan hatimu yang sedingin gunung es kalau soal menjalin hubungan" Aku tersenyum menanggapi ucapan Erna yang memang benar apa adanya.


Orang yang selama ini begitu sulit untuk menjalin sebuah hubungan kini dengan mudahnya luluh pada pemuda yang umurnya jauh lebih muda darinya. Apakah aku memang sudah berubah?


______***______


maaf kalau diputus ceritanya sampai di sini...Please koment and vote...menerima kritik dan saran juga....annyeong....

__ADS_1


NB: Daebak artinya luar biasa.


__ADS_2