Bad Feeling

Bad Feeling
Ketahuan kan?


__ADS_3

_________*****________


Terkadang aku ingin merasakan bebasnya memilih tanpa harus menunggu pendapat dari orang lain. Tetapi bodoh dan pengecutnya aku, selalu saja membutuhkan pendapat orang lain untuk menentukan pilihan hidupku. Bukankah, aku sendiri yang menjalani kehidupan ini? Kenapa selalu mengikuti pendapat dari orang lain? Pengecut!


___***___


Usai makan bersama Nick, kami berpisah jalan. Karena Nick berkata akan ada urusan dengan rektor soal pengangkatannya menjadi dosen tetap di universitas. Jadi dia perlu mengurus surat-surat untuk melengkapi persyaratannya. Kupilih membelikan sarapan untuk Jojo. Aku membeli bento di sebuah rumah makan, makanan khas jepang. Karena kurasa dia menyukai masakan Jepang dengan hobinya yang mengoleksi manga dan melihat anime.


Seperti janji kami, aku menunggu Jojo di paviliun tempat biasa kami bertemu. Karena masih ada dua puluh menit, kupilih melihat handphone dan membuka akun medsos milikku. Seperti biasa melihat kabar terbaru dari Shim Changmin yang ternyata sudah selesai menjalankan kewajibannya. Pria dengan potongan cepak tersenyum cerah seperti mentari pagi, mengenakan pakaian terakhir kemiliterannya sebagai seorang polisi. Karena saking terpesonanya melihat ketampanan seorang Shim Changmin, sampai aku tidak menyadari seseorang yang melambaikan tangan padaku dan aku mengabaikannya begitu saja sehingga membuat pria itu mengerutkan dahinya. Pria itu kini sudah berdiri di depanku, tetapi aku masih tidak menyadarinya.


"Suamiku benar-benar tampan" celetukku spontan. Sebuah suara mengalihkan fokusku dan melihat Jonathan sudah duduk di sampingku.


"Siapa suami kakak?" mukanya merengut, alisnya bertaut menandakan dia sedikit kesal dengan kata-kataku barusan.


"Oh, kau sudah datang. Sarapanlah, kubawakan bento untukmu" kusodorkan bekal yang kubeli tadi padanya.


"Kakak berselingkuh dariku? Siapa yang kakak sebut suami barusan?" ucapnya mengintrogasiku. Seketika aku seperti tersangka yang ketahuan telah mencuri beberapa jagung dari ladang petani dan siap dieksekusi. Menggelikan sekali imajinasiku.


Aku berdehem dan tersenyum kemudian. "Suamiku ada di Korea, dia jauh di sana dan aku tidak bisa memeluk bahkan menyentuhnya. Sedangkan kau ada di sini, di sampingku, bisa kulihat dan kusentuh" ucapku sambil menyentuh lengan bajunya dengan ujung jari telunjukku. "Kau masih cemburu dengan suami khayalanku?"


Ia tersenyum, tersipu-sipu. Bocah ini mudah sekali dibuat tersenyum. Mood-nya cepat sekali berubah. Lagi-lagi aku tersenyum melihat kekonyolannya. Oh God, semakin hari aku semakin menyukainya. "Cepat dimakan" ucapku menyodorkan lagi bento box padanya dan kini dia menerimanya dengan penuh semangat.


"Kakak sudah makan?" Aku hanya mengangguk. Ia mulai memakan makanannya dengan lahap.


"Pelan-pelan, kau bisa tersedak nanti" kusodorkan air mineral untuknya. Ia tersenyum kemudian meminumnya. "Bagaimana kuliahmu?" tanyaku memulai obrolan dengannya.


"Biasa saja, hanya tugas semakin menumpuk. Hari ini kakak ada kuliah?" ucapnya sambil mengunyah chicken katsunya.


"Tentu saja, tapi nanti jam satu" kupilih mengambil buku yang kemarin aku pinjam di perpus dan belum sempat kubaca.


"Mau masuk kuliah bersamaku?" ajaknya menawariku.


"Tidak. Aku tidak mau ada gosip tidak penting" aku mulai membaca paragraf pertama dari buku itu. "Kejujuran lebih baik daripada kebohongan yang menutupi" bunyi sepenggal kalimat yang barusaja kubaca.

__ADS_1


"Jangan pikirkan dan jangan didengarkan kalau tidak penting" ucapnya sambil masih menyantap bento-nya yang ternyata dia memang menyukainya.


Kututup buku yang baru saja kubaca, karena sepertinya aku harus berkata jujur. "Jo, aku ingin tau pendapatmu. Kalau misalnya aku mendapat tawaran jadi asisten dosen, apa aku harus menerimanya? Dosen itu juga akan memberiku gaji"


"Kakak mendapat tawaran jadi asdos?" matanya terbelalak tak percaya. Akupun juga tak percaya dengan tawaran itu. padahal tak pernah dalam pemikiranku akan mendapat tawaran sebagai asisten dosen. Yang biasanya, hanya untuk anak-anak dengan IQ di atas rata-rata, karena dosen akan lebih memilih mereka yang seperti itu.


Aku mengangguk. Jojo meletakkan makanannya meraih kedua tanganku. "Walaupun sebenarnya aku tidak menyukainya, apalagi kakak akan menghabiskan banyak waktu bersama dosen itu. Tetapi jika kakak mau, kakak bisa mengambilnya"


Jawaban Jojo membuatku menganga. Cowok secemburuan dia bisa bersikap dewasa seperti ini. "Kalau begitu aku terima saja tawaran dosen itu?"


"Memang asdos apa?" sahutnya penasaran.


"Dosen psikologi"


"Kakak kenal dosen dari jurusan psikologi? Atau jangan-jangan dosen magang waktu itu?" tebak Jojo tepat sasaran. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan pertanyaan Jojo. "Kalau dia tidak boleh" sanggahnya cepat. Seketika raut wajahnya berubah seperti seharusnya, pengekang.


"Kenapa?" protesku tak terima karena dia merubah jawabannya dalam waktu singkat.


"Dosen itu seumuran dengan kakak, aku tidak mau pacarku bersama pria lain" dia melarangku mentah-mentah. Inilah sifat aslinya pencemburu.


"Aku mengijinkanmu menjadi asdos untuk dosen lain bukan dosen muda itu, lagipula pak Nick hanya dosen magang kan? Kenapa dia membutuhkan seorang asisten?" protesnya lagi.


"Dia bilang akan diangkat sebagai dosen tetap" jelasku.


"Pokoknya tidak boleh, kakak tidak boleh menerimanya. Bagaimana nanti kalau dosen itu menyukai kakak?"


"Mana mungkin? Aku bukan wanita cantik maupun pintar, aku tidak kaya dan tidak terkenal, hanya wanita biasa dengan segala kekurangannya. Mana mungkin dosen itu menyukaiku, hanya pria bodoh yang menyukaiku. Seperti seseorang" mataku mengerling ke arahnya.


Jojo paham siapa yang kumaksud. Ia berdehem pelan. "Aku bukannya bodoh? Aku hanya berhasil menemukan permata di dasar lautan yang tidak pernah disentuh oleh orang lain"


"Kau berlebihan" ucapku menoyor pipinya yang disodorkannya barusan.


"Itu benar. Kakak adalah gadis pertama yang membuatku ingin memilikimu" sebuah kecupan kudapatkan.

__ADS_1


"Kau ini, ini di kampus. Kalau orang lain lihat bagaimana?"


"Aku hanya mencium pipi kakak, seperti kakak adik kan?" ucapnya membela diri.


"Ck, kau ini...sudah cepat selesaikan makannya. Aku boleh minta ini kan?" kucomot gulungan telur yang menggoda sejak tadi tak tersetuh olehnya.


"Itu telur kesukaanku, kakak memakannya? Bagi denganku"


"Tidak, ini sudah masuk mulut. Jadi..."


Sialan Jojo melakukan sesuatu sekehendak hatinya. Ia merebut telur yang sudah masuk ke dalam mulutku dengan bibir dan lidahnya. "Kau..." mataku membulat lebar kaget dengan kejadian yang baru saja kualami.


"Aku bilang bagi denganku" ucapnya santai sambil mengunyah potongan telur yang berhasil direbutnya dariku.


"Lain kali aku tidak akan memakan makananmu, dasar pelit"


"Kakak boleh mengambilnya lagi, jadi aku bisa mencium kakak lagi"


"Dasar" kupukul lengannya pelan.


"Kalian berdua, berkencan?" celetuk Alya kaget dengan kejadian yang baru saja dilihatnya.


"Alya, eum...iya kami berkencan" sahut Jojo singkat. Aku melihat raut wajah Jojo berubah menjadi dingin setelah kedatangan Alya. Tak biasanya bocah ini menunjukkan ekspresi seperti itu kecuali pada orang yang benar-benar tidak disukainya. Seperti saat bertemu Roni, salah satu teman sekelasku yang entah apa salahnya ditatap sedingin itu oleh bocah ini, sampai-sampai sekarang dia tidak pernah mengajakku bicara. Padahal dulu kami begitu akrab.


"Tapi kau bilang dia tantemu, lagipula umur kalian...bagaimana bisa?" Alya protes. Wajahnya memerah kesal dengan kenyataan yang barusaja dia terima.


"Bisa saja, aku yang mau. Kuharap kau tidak menyebarkan gosip apapun" pinta Jojo tegas.


"Aku tidak bisa berjanji soal itu" ucapnya yang kemudian pergi dengan ekspresi muka kesal. Rambut panjangnya berkibas sealiran dengan gerak tubuhnya yang mulai menjauhi paviliun tempat kami duduk.


"Kurasa dia marah, kenapa kau terlalu jujur padanya? Kau tidak tau gadis itu menyukaimu?" ungkapku yang berpikir Jojo tidak mengerti perasaan gadis itu.


"Lalu? Aku harus menyukainya? Tidak mau, aku kan hanya menyukaimu" ucapnya tanpa ambil pusing tentang masalah barusan. Bocah ini memang sederhana pemikirannya.

__ADS_1


_________***________


Okey, berhenti sampai di sini ya? Mata, badan dan otak sudah tak sejalan...karena serangan flu berat ini. Aku harap kalian baik-baik saja dan jaga kondisi tubuh kalian semua....Jangan sampai sakit ya....stay safe stay healthy 😘😷


__ADS_2